Gugon Tuhon Sebagai Kearifan Lokal

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 24 Jan 2026 | Pengunjung: 29
Cover
Gugon tuhon merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang tumbuh dan mengakar kuat dalam budaya Jawa. Istilah ini berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu gugu yang berarti percaya dan tuhu yang berarti sungguh atau patuh. Secara sederhana, gugon tuhon dapat dimaknai sebagai sikap percaya begitu saja tanpa menalar atau mempertanyakan secara rasional. Dalam praktiknya, gugon tuhon sering kali muncul dalam bentuk larangan atau nasihat yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur Jawa, lengkap dengan konsekuensi simbolik yang terkadang terdengar tidak masuk akal jika dipahami secara harfiah.

Meskipun demikian, gugon tuhon tidak dapat dipandang sebagai ajaran yang kosong makna. Justru di balik kesan irasionalnya, gugon tuhon menyimpan nilai-nilai etika, sopan santun, serta tata kehidupan sosial yang mendalam. Yang sering memantik perdebatan bukanlah kebenaran materinya, melainkan alasan atau konsekuensi yang dilekatkan pada nasihat tersebut. Banyak orang modern menilai gugon tuhon sebagai takhayul atau mitos belaka, padahal jika dicerna lebih dalam, ajaran ini sarat dengan kebijaksanaan dan kehalusan rasa.

Sudah menjadi kebiasaan leluhur Jawa dalam memberikan nasihat menggunakan simbol, perumpamaan, atau majas hiperbolik. Cara ini dipilih bukan tanpa alasan. Leluhur Jawa memahami bahwa nasihat yang disampaikan secara lugas dan rasional tidak selalu efektif, terutama kepada anak-anak atau masyarakat awam. Oleh karena itu, konsekuensi yang dilebih-lebihkan sengaja diciptakan agar pesan moralnya lebih mudah diingat, menimbulkan rasa takut yang wajar, dan akhirnya dipatuhi tanpa banyak tanya. Dalam pandangan ini, nasihat dianggap pasti benar. Tugas penerima nasihat hanyalah melaksanakan.

Salah satu contoh gugon tuhon yang paling dikenal adalah larangan duduk di depan pintu dengan alasan 'orang yang mau melamar akan mengurungkan niatnya.' Jika dipahami secara harfiah, alasan ini tampak tidak logis. Namun, jika dimaknai lebih dalam, duduk di depan pintu memang tidak sopan dan dapat menghalangi lalu lalang orang. Dalam konteks sosial Jawa yang sangat menjunjung tata krama, perilaku tersebut dianggap mencerminkan kurangnya unggah-ungguh. Dengan demikian, gugon tuhon ini sesungguhnya mengajarkan etika dan menghormati ruang bersama, bukan semata-mata soal jodoh.

Hal serupa juga tampak pada larangan bermain beras dengan konsekuensi jari menjadi cacat atau melengkung. Beras bagi masyarakat Jawa bukan sekadar bahan makanan, melainkan simbol kehidupan dan anugerah dari Tuhan. Mempermainkan beras berarti tidak menghargai sumber penghidupan. Ancaman jari cacat hanyalah simbol agar anak-anak tidak meremehkan makanan. Nilai yang ingin ditanamkan adalah rasa hormat terhadap rezeki dan kesadaran akan pentingnya bersikap bijak terhadap kebutuhan pokok.

Larangan duduk di atas bantal yang konon menyebabkan bisulan juga mengandung makna serupa. Bantal adalah alas kepala, bagian tubuh yang dimuliakan. Mendudukinya dianggap tidak pantas dan kotor. Dengan menciptakan konsekuensi berupa bisul, leluhur Jawa ingin menanamkan kebiasaan hidup bersih dan menghargai benda sesuai fungsinya. Demikian pula larangan meludahi sumur dengan ancaman bibir sumbing. Sumur adalah sumber air bersih yang vital bagi kehidupan. Meludahinya bukan hanya tidak sopan, tetapi juga berpotensi mencemari air. Gugon tuhon ini mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan bersama.

Larangan makan brutu ayam yang dipercaya dapat menyebabkan mudah lupa juga sering diperdebatkan. Di balik mitos tersebut, tersimpan pesan moral tentang penghormatan kepada orang yang lebih tua. Dalam tradisi Jawa, bagian-bagian tertentu dari makanan sering diperuntukkan bagi sesepuh sebagai bentuk penghargaan. Dengan melarang anak-anak memakan brutu, leluhur menanamkan nilai herarki dan rasa hormat dalam keluarga.

Begitu pula larangan memotong kuku di malam hari dengan ancaman umur pendek. Pada masa lalu, penerangan sangat terbatas. Memotong kuku di malam hari berisiko melukai jari. Oleh karena itu, larangan ini bertujuan menjaga keselamatan, meskipun dikemas dengan konsekuensi yang bersifat simbolik. Larangan meminta kembali pemberian dengan ancaman bisul mata pun mengajarkan keikhlasan dan konsistensi dalam memberi. Sekali memberi, maka harus tulus tanpa pamrih.

Dari berbagai contoh tersebut, terlihat bahwa gugon tuhon merupakan media pendidikan karakter yang efektif pada masanya. Leluhur Jawa tidak memandang orang lain sebagai bodoh atau tidak mampu berpikir. Justru dengan menggunakan kalimat multi tafsir, mereka memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk mengapresiasi, menafsirkan, dan menemukan makna sendiri seiring kedewasaan berpikir. Bahasa simbolik dan sastra digunakan agar nasihat terasa indah, berkesan, dan tidak menggurui.

Pada akhirnya, gugon tuhon bukanlah sekadar kepercayaan tanpa dasar, melainkan manifestasi kearifan lokal yang lahir dari pengalaman panjang hidup bermasyarakat. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersifat universal. Sopan santun, penghormatan, kebersihan, kehati-hatian, dan keikhlasan. Meskipun jaman terus berubah dan pola pikir semakin rasional, esensi gugon tuhon tetap relevan dan tidak lekang dimakan jaman. Tugas generasi masa kini bukan menertawakan atau menolak mentah-mentah, melainkan memahami, menafsirkan, dan mengambil nilai baiknya agar tetap hidup dalam konteks modern. Gambar

Komentar

Ari Iskandar B 2026-01-24 12:44:59

Titis ...untuk memahami memaknai sebuah kehidupan nyata relevan dengan sikon.

Kusfandiari 2026-01-24 10:33:42

Di era modern, gugon tuhon (digugu lan dituhoni) harus diinterpretasikan secara bernalar. Tidak harus memakai metafora yang tampak tak masuk akal. Katakan, misalnya:\r\n1. Jangan memotong kuku pada malam hari, karena kita tidak waspada di malam hari! Sebaliknya memotong kuku di siang hari, saat terang benderang.\r\n2. Jangan duduk di pintu, karena pintu merupakan tempat keluar masuknya anggota keluarga! Duduklah di kursi teras yang ada!\r\n3. Jangan duduk di atas bantal, karena bantal merupakan sandaran kepala!\r\n4. Jangan makan nasi (beserta lauk pauknya) di cobek, karena cobek wadah mengolah bumbu! Fungsi cobek berbeda dengan piring.\r\n5. Jangan bermain-main beras, karena beras bukan mainan! Bermain pasir atau malam itu lebih baik untuk meningkatkan kreativitas.\r\n6. Jangan menyapu di malam hari, karena malam hari dimanfaatkan untuk istirahat. Lagi pula anggota keluarga berkumpul dan mungkin saatnya makan bersama.\r\n7. Jangan membuka payung di dalam rumah! Jika kau pergunakan untuk pergi keluar rumah sewaktu hujan, bukalah payung di teras rumah.\r\nSemoga penjelasan ini bermanfaat.

Budi Hantara 2026-01-24 09:42:52

Memahami kearifan lokal membutuhkan wawasan yang luas dan penghayatan mendalam.

← Kembali ke Daftar Artikel