Suatu hari seekor kucing datang ke rumah saya. Tidak saya perhatikan kucing jantan ataukah kucing betina. Sesuatu yang lumrah saja jika seekor kucing dolan ke rumah. Karena memang kucing adalah hewan yang biasa hidup berdampingan dengan manusia. Jika dilihat dari bulunya yang bersih, badannya yang cukup gemuk jelas bahwa ini bukan kucing liar. Artinya kucing yang dipelihara oleh manusia. Warna bulunya kombinasi putih, hitam dan kecoklatan. Orang Jawa menyebutnya kembang telon. Karena ada yang punya, pasti suatu saat dia akan meninggalkan rumah saya, pulang kembali di rumah tuannya. Begitu perkiraan saya. Namun ternyata perkiraan ini salah. Dia tidak kunjung pergi di hari itu. Malah berlagak manja kepada seisi rumah. Seperti sudah lama saling mengenal. Manja tetapi tidak menjengkelkan. Saat saya makan dia tidak mengganggu. Hanya duduk manis sambil menggesek-gesekkan kepalanya pada kaki saya. Begitu dilakukannya sampai selesai makan. Beradab betul kucing ini. Yang sering saya temui seekor kucing akan mengganggu orang yang sedang makan. Dengan mengeong terus menerus bahkan melompat ke atas meja makan. Berhenti berulah sampai tuannya memberikan jatah makan. Dengan tingkahnya yang sesopan itu maka berhasil meluluhkan perasaan saya. Rasa ibu pun muncul. Saya beri dia makan seadanya karena memang tidak punya makanan kemasan khusus untuk kucing. Nasi lauk suwiran ikan patin itupun lahap disantap. Ludes tak tersisa. Saya beri minum dengan mengisi air dalam mangkuk plastik. Saya letakkan di dekatnya. Dia pun paham, dijilatinya air itu sampai tersisa tiga perempat bagian. Semenjak itu dia tidak pernah pergi dari rumah saya. Perasaan tidak enak bergelayut. Kucing ini pasti ada yang punya. Setiap bertemu tetangga, saya sampaikan pesan jika ada yang kehilangan kucing kembang telon. Saat ini dia berada di rumah saya. Setelah beberapa hari pesan saya tidak bersambut, tidak ada yang merasa kehilangan kucing. Akhirnya kucing cantik itu menetap di rumah saya. Belakangan baru diketahui dia berjenis kelamin betina. Kami sekeluarga tetap menyayanginya. Karena tingkahnya yang tergolong sopan. Kami pun sampai mengenali bahasanya. Saat mengendus dan menggigit jempol kaki tandanya merasa lapar. Mengetuk pintu yang masih tertutup tandanya mau buang hajat. Yang menarik, saat mau buang hajat di halaman tetapi pintu masih tertutup, dia pergi ke kamar mandi dipilihnya tempat dekat lubang buangan air. Sungguh tidak hanya sopan tetapi juga cerdas macam manusia.
Ada dua kucing jantan yang sering datang ke rumah. Warna bulunya putih di bagian tubuh bawah dan hitam dari kepala sampai punggung. Kucing jantan satunya berwarna coklat kemerahan. Rupanya keduanya jatuh cinta pada kecing betina saya. Jika keduanya bersamaan bertemu pasti berkelahi, menimbulkan suara bising. Singkat cerita kucing betina saya bunting. Suatu malam saat mau melahirkan tingkahnya membingungkan. Melompat ke sana ke mari bahkan sampai melompat ke atas almari dengan perasaan cemas. Tanggap dengan bahasanya saya ambil kardus bekas bungkus printer. Saya buka bagian atas dan saya solasi agar tetap membuka. Tempat yang terpilih untuk meletakkannya adalah pojok belakang gasebo. Kucing itu pun nurut. Dia mendekam di dalam kardus sampai pagi harinya melahirkan. Empat ekor anak kucing lucu dilahirkannya. Satu ekor warnanya persis sama dengan induk, satu ekor putih, satu ekor putih berbelang hitam dan satu ekor berwarna coklat kemerahan. Kebiasaan induk kucing ini sungguh berbeda dari biasanya. Dia tidak pernah memindah-mindahkan anak-anaknya. Sampai anaknya mampu berjalan sendiri. Mungkin saja kardus itu istananya yang paling nyaman. Ada lagi tingkahnya yang menarik yaitu saat waktunya menyusui. Dia mengeong memanggil anak-anaknya. Dia rebahan di lantai, anak-anaknya pun berlari menyambutnya. Keempatnya menyusu bersama-sama. Itu berlangsung tiga kali dalam sehari. Macam manusia saja, makan tiga kali sehari.
Anak kucing yang warna bulunya sama dengan induknya yaitu kembang telon mempunyai tingkah yang terbilang sangat menarik. Setiap adzan berkumandang dia terdiam sejenak menunggu saya berwudlu. Kemudian mengikuti dari belakang saat saya pergi ke masjid. Dilakukannya rutin. Pulangnya pun menunggu saya selesai sholat. Sebuah bukti keagungan
Tuhan. Suara adzan adalah suara terbaik di dunia. Sungguh mengharukan. Subhanallah.
Suatu hari selesai sholat subuh yang terlihat hanya dua ekor anak kucing yaitu yang kembang telon dan putih. Dua ekor yang lain tidak kelihatan. Saya berpikir itu biasa, sudah bisa dolan sendiri. Nanti pada saatnya pasti juga pulang lagi. Ternyata perkiraan saya meleset. Sampai sore hari saat pulang kerja pun, keduanya tidak juga pulang. Begitu sampai hari-hari berikutnya mereka tidak pernah pulang. Prasangka baik pun menyeruak. Ini adalah cara Tuhan menyelamatkan mereka dan juga menyelamatkan saya. Belum tentu saya bisa sabar dan istiqomah hidup berdampingan dengan lima ekor kucing. Semoga keduanya mendapatkan tuan yang baik melebihi saya.
Keanehan masih juga berlangsung. Kali ini induk kucing pun bunting lagi, tetapi dia tidak mau pulang ke rumah saya lagi. Padahal tidak pernah seisi rumah menyakiti. Semua tetap sayang kepada sesama makhluk Tuhan ini. Dia memilih rumah lain, yang letaknya dua rumah di sebelah utara rumah saya. Pemilik rumah rupanya juga sayang kepadanya. Setiap pergi ke masjid bersamaan, beliau selalu bercerita tentang kucing saya yang mutasi ke rumahnya. Sampai melahirkan lima ekor dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Tuhan pun tidak membedakan ciptaannya. Sekalipun seekor kucing juga diberiNya petunjuk, rumah mana yang tepat baginya untuk hidup berdampingan bersama manusia. Manusia mana yang bersedia menerimanya setulus hati.
Komentar
Belum ada komentar.