Hadiah Anti Mean Stream

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 03 Jan 2026 | Pengunjung: 9
Cover
Tulisan ini lahir dari perjalanan menulis yang pelan tetapi setia. Terinspirasi dari tulisan-tulisan saya sendiri. Tanpa pernah direncanakan secara istimewa. Namun akhirnya berhasil terkumpul menjadi tiga buah buku. Awalnya sangat biasa saja, yaitu menulis setiap hari Jumat. Tidak lebih. Tidak juga kurang. Tujuannya pun bukan muluk-muluk, hanya ingin ikut melestarikan bahasa Jawa yang kian hari kian ditinggalkan, terutama oleh generasi muda. Dari kebiasaan kecil itulah, perlahan lahir tiga buku yang seluruhnya berbahasa Jawa.

Buku pertama berjudul Pitutur Luhur, menggunakan bahasa Jawa ngoko bercampur bahasa krama. Buku kedua bertajuk Ngleluri Budaya, disusul buku ketiga Kawruh Jawa. Dua buku terakhir sepenuhnya menggunakan bahasa krama alus. Ketiganya bukan buku yang ditulis dengan pola tematik ketat, melainkan kumpulan tulisan lepas. Karena itu saya menambahkan frasa Puspa Rinonce yang maknanya sama dengan bunga rampai. Sebagai penanda bahwa isi buku adalah rangkaian pemikiran yang dirangkai dari waktu ke waktu.

Pengalaman ini memberi saya satu pelajaran penting, yaitu menulis sepekan sekali saja sudah bisa menjadi buku, apalagi jika dilakukan lebih sering. Artinya, buku bukan sesuatu yang mustahil dihasilkan lebih cepat. Tentu, di sudut hati yang paling jujur, saya juga pernah ingin bisa seperti penulis-penulis terkenal yang karyanya laku terjual dan dibaca banyak orang. Namun realitas berkata lain. Bahasa Jawa hari ini sedang mengalami mati suri. Jangankan diminta membeli, diberi secara cuma-cuma pun sering kali ditolak.

Untuk saat ini saya memilih jalan lain. Buku karya sendiri saya sedekahkan. Sedekah yang belum banyak dilakukan, sebab memang tidak semua orang tergerak untuk menulis, apalagi menulis dalam bahasa daerah. Tiga buku yang telah saya tulis pun saat ini saya bagikan kepada teman-teman sesama pegiat budaya Jawa. Baru kepada merekalah keberanian saya tumbuh untuk 'berdakwah' tentang budaya Jawa. Saya paham betul nasihat orang bijak bahwa berdakwah seharusnya kepada orang yang belum tahu, bukan kepada yang sudah tahu. Saya sepakat dengan itu. Hanya saja, belum cukup siap untuk sakit hati ketika harus menghadapi penolakan dari mereka yang memang tidak menyukai bahasa Jawa.

Kini, saya ingin melangkah ke tahap berikutnya, menulis buku berbahasa Indonesia. Tepat pada tanggal satu Januari 2026 ini saya memulainya. Sebuah momentum yang mudah diingat dan terasa simbolis. Tujuan utama menulis tetap sama, yaitu rekreasi. Barangkali terdengar aneh. Rekreasi yang umum dipahami adalah pulang kampung, berwisata, atau sekadar jalan-jalan. Itu benar. Namun bagi saya, menulis juga rekreasi. Setiap Jumat, setelah satu tulisan selesai dan diunggah di Facebook, rasanya seperti pulang dari liburan singkat. Hati menjadi ringan dan senang, meski tanggapan yang datang sangat minim.

Selain itu, menulis juga menjadi cara saya melawan sifat pelupa, penyakit degeneratif yang hampir tak terelakkan bagi orang seusia saya. Dengan menulis, ingatan dilatih, pikiran dirawat. Saya berusaha agar kelak tidak menjadi beban keluarga. Orang tua pun punya hak untuk bahagia dan bangga terhadap dirinya sendiri. Dua rasa itulah yang kini menjadi bahan bakar utama saya untuk terus menulis.

Siang tadi, seorang teman mengundang ngopi lewat grup WhatsApp. Kami sama-sama pegiat budaya Jawa, dan akhirnya berkumpul berempat dalam suasana santai. Kami tergabung dalam komunitas Permadani, yang sama-sama berupaya mempertahankan eksistensi bahasa Jawa. Sebelum berangkat, saya sempat menyiapkan kalender baru dari komunitas Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN) yang berpusat di Blitar. Kalender itu dikirim ke rumah saya untuk dibagikan kepada teman-teman sekomunitas.

Saat hendak memasukkan ponsel ke saku, terdengar notifikasi Facebook. Ternyata teman yang mengundang ngopi itu sedang berulang tahun. Seketika terlintas niat memberi hadiah. Tiga buku karya sendiri pun jadi pilihan. Saya masukkan ke dalam tas, bersama kalender. Rasanya cukup pantas dijadikan hadiah ulang tahun. Hadiah anti mean stream. Sebuah hadiah sederhana, dengan satu harapan besar. Semoga bahasa Jawa tetap abadi. Hanya itu yang mampu saya lakukan sebagai benteng terakhir dari gempuran budaya manca.

Komentar

Belum ada komentar.

← Kembali ke Daftar Artikel