Momen tahun baru bagi banyak orang diisi dengan berbagai macam aktifitas. Banyak yang menghabiskannya dengan berkumpul keluarga, besok harinya baru pergi ke tempat wisata. Ada juga yang memilih berkumpul dengan komunitasnya, malamnya bakar-bakar. Ya, bakar apa saja. Termasuk membakar semangat. Seperti nasihat para leluhur bahwa Urip Iku Urub, hidup adalah nyala. Menyalakan semangat, menerangi sekelilingnya, menyala lebih terang dibanding kemarin. Ada juga yang tidak mengistimewakan pergantian waktu ini. Waktu memang begitu selalu berjalan maju. Sesuatu yang biasa dipandang tidak lagi istimewa. Nampaknya saya penganut pendapat ini. Rutinitas pagi saya lakukan, membersihkan halaman dari dedaunan yang gugur. Gerimis semalam menyisakan dedaunan yang cukup banyak dibanding biasanya. Di depan rumah ada pohon belimbing, jambu air, mangga, salam dan rambutan. Rambutan baru saja dipanen. Tidak lupa berbagi kepada tetangga kanan kiri. Mereka yang setiap hari menyaksikan perubahan warna buah dari hijau, kuning sampai merah. Tidak semua dipetik. Saya sisakan sedikit untuk makhluk Tuhan yang lain. Tupai dan kawanan burung yang setiap hari meramaikan suasana perlu juga ikut merasakan. Mereka dianggap hama karena memang manusia tidak menyisakan makanan untuknya. Padahal setiap hari mereka juga butuh makan. Andai saja setiap rumah menyisakan barang sedikit untuk mereka tentu kaharmonisan terjaga. Mereka hanya makan sekedarnya. Setelah perut kenyang mereka pergi tidak mengambil yang lain. Tidak berlebihan seperti manusia. Di samping selatan tumbuh rumpun pisang raja. Dua di antaranya sudah muncul buahnya. Samping belakang ada kolam kecil berisi ikan patin. Lama juga saya pelihara hingga siap untuk dipanen. Saya lemparkan makanan, mereka menyambut berebutan. Kalau ada teman datang malam nanti patin-patin ini layak disantap. Mau dibakar atau digoreng terserah teman-teman.
Lagi asyik menikmati gerakan ikan datang serombongan tamu dari komunitas Omah Joglo. Yang dicari tentu bukan saya tetapi anak laki-laki saya yang sama-sama pecinta warisan leluhur berupa keris. Ada banyak keris koleksi dan keris milik orang lain yang sengaja ditinggal untuk sementara waktu. Dengan tujuan perawatan. Macam salon kecantikan. Dibersihkan dari karat, diwarangi dan diminyaki. Orang yang hanya tahu sekilas tentang keris sering memvonis kesirikan. Ingin sebenarnya mengundang mereka dan menjelaskan warisan yang mengagumkan ini. Tetapi rasanya percuma saja jika sudah menutup mata dan hati. Biarlah kita berjalan pada keyakinan masing-masing.
Proses akhir perawatan keris ini yang cukup rumit. Dalam memunculkan pamor harus betul-betul akurat. Akurat dalam arti konsentrasi larutan warangan. Perlu akurasi tinggi dalam melarutkan serbuk warangan. Untuk itu diperlukan alat ukur dengan ketelitian sampai 0,01 gram. Satu-satunya alat yang ada adalah timbangan digital. Selain itu air jeruk sebagai pelarut juga harus tepat tingkat keasamannya. Maka perlu kertas lakmus untuk mengetahui tingkat keasamannya. Macam ilmuwan saja jika sudah begini. Sangat ilmiah. Bisanya hanya mengagumi tingkat keilmiahan leluhur kita dulu. Sudah paham betul reaksi kimia zat. Paham betul metalurgi logam. Melebur logam dengan berbagai campuran logam perlu suhu ribuan derajad celsius. Bagaimana mereka dulu menghasilkan suhu setinggi itu? Sungguh teknologi misterius. Pola-pola pada bilah keris yang bermacam-macam motif bisa terbentuk jika melebur logam dengan logam lain. Pola ini disebut pamor berisi pujian dan doa kepada sang pencipta. Pamor itu dinamai sesuai dengan permohonan. Pamor daringan kebak artinya permohonan agar dikaruniai cukup pangan. Daringan adalah wadah beras. Pamor udan emas artinya permohonan kecukupan harta. Dan sebagainya. Ternyata leluhur Jawa sangat agamis. Setiap yang melekat pada tubuhnya adalah doa. Baju batik pola mega mendung artinya permohonan tentang ketenangan. Tidak ketinggalan keris adalah 'ageman' juga. Jadi mulai dari jiwa, raga dan pakaian bertasbih kepadaNya. Betul-betul harmonisasi tingkat tinggi.
Kita yang saat ini tinggal mewarisi ilmu tingkat tinggi ini perlu mawas diri. Dari materi yang melekat ternyata tersirat spirit religius. Kita yang baru tahu sedikit berusahalah tahu lebih banyak. Karena tahu hanya sedikit sering dimanfaatkan oleh orang lain yang tidak senang. Menggelincirkan pada celaan dan hinaan. Ingat bagaimana Belanda dulu memberi label Haji pada orang yang sudah menunaikan Rukun Islam yang ke lima ini. Menurut Belanda orang-orang seperti ini dianggap membahayakan dan dapat mengganggu kepentingan mereka. Makanya perlu pengawasan. Sayangnya sampai sekarang masih berlanjut, belum menyadari jika itu tipu muslihat.
Komentar
Belum ada komentar.