Perasaan Seekor Perkutut (Sebuah Kisah Nyata)

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 03 Jan 2026 | Pengunjung: 599
Cover
Burung perkutut dan burung sriti beberapa kali membuat sarang di rumah saya. Bertelur, mengerami, menetas dan merawat anak-anaknya sampai sanggup terbang sendiri. Sarang kemudian ditinggal kosong. Selang beberapa pekan ada lagi yang datang. Bertelur di sarang yang sama. Mengerami, menetas, merawat anak-anaknya sampai sanggup terbang sendiri. Begitu berulang-ulang membentuk siklus. Burung sriti bersarang di atas tiang teras. Sedang burung perkutut bersarang di pojok blandar gasebo samping rumah. Saya tidak pernah mengganggu maupun mengusir mereka. Sesama makhluk Tuhan dilarang saling menyakiti. Saya sadar sepenuhnya bahwa suara yang keluar dari paruh, kepakan sayap dan bisikan lembut kepada anak-anaknya yang baru menetas adalah cara mereka bertasbih kepada Sang Pencipta. Suara itu terdengar merdu di telinga. Harmonisasi frekuensi yang tiada duanya. Induk burung sriti tidak pernah berani menapak di tanah. Kebiasaannya setiap pagi terbang tinggi mencari makan untuk diri sendiri. Baru sore hari pulang ke sarang sambil membawa makanan untuk anak-anaknya. Sementara induk burung perkutut sesekali turun ke tanah. Mencari makan dari sisa-sisa makanan yang terbuang. Beruntung sekali bahwa induk perkutut ini doyan makan nasi sisa. Setiap ada sisa nasi sore hari selalu saya kumpulkan untuk mereka di pagi harinya. Akibatnya burung perkutut yang datang semakin banyak. Sayapun semakin bersemangat memberi mereka makan. Jika nasi sisa tidak mencukupi saya ambilkan beras atau kacang tholo yang belum dimasak jika kebetulan ada.

Suatu siang sepasang perkutut hinggap di tanah mematuk sisa nasi yang masih ada. Sedang
asyik-asyiknya mereka makan, tidak menyangka ada bahaya yang sedang mengancam. Seekor kucing mengendap-endap menunggu saat yang tepat untuk beraksi. Dan saat itu tiba dengan sekali lompat seekor perkutut tertangkap. Kucing kembang telon itu mendapatkan makan siang gratis. Dengan sigap mangsa dibawanya menjauh dari saya. Di bawah pohon pisang yang tumbuh di pojok halaman perkutut itu dinikmatinya. Perkutut yang satunya entah yang jantan atau yang betina saya tidak hafal, terbang menghindar. Hinggap pada dahan pohon mangga depan rumah. Nampaknya dia sangat bersedih. Dipandanginya cukup lama tempat kejadian perkara tadi. Burung perkutut itu tidak juga pergi, tetap bertengger pada dahan pohon mangga, dan tetap memandangi tempat kekasihnya di mangsa kucing. Kejadian itu berlangsung sampai beberapa hari. Setiap saya memandang ke atas pohon mangga, ada seekor burung perkutut sendirian yang bertengger dan selalu memandang ke arah tempat kejadian dengan penuh kesedihan. Perasaan gembira dan sedih terlihat dari sorot matanya. Walaupun seekor burung jelas sekali menampakkan sorot mata kesedihan. Karena jarak saya cukup dekat. Anehnya perkutut itu tidak takut. Seakan tahu jika saya menyayanginya. Terbukti setiap hari memberinya makan. Walaupun sulit memastikan bahwa burung perkutut itu adalah burung yang mengalami musibah beberapa hari yang lalu. Namun kejadian itu membuat saya berkesimpulan bahwa seekor burung pun dapat merasakan kebahagiaan dan kesedihan.

Komentar

Hermiati.. 2026-01-09 11:49:47

Kisah..mengharukan\r\n\r\nlanjut...menulisnya...

← Kembali ke Daftar Artikel