Tantangan Dan Tanggun Jawab

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 06 Dec 2025 | Pengunjung: 30
Cover
Fenomena siswa yang sering bolos sekolah bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan. Hampir setiap tahun guru menghadapi kasus serupa, seolah menjadi siklus yang terus berulang. Meskipun demikian, setiap kasus memiliki dinamika tersendiri dan menuntut kebijaksanaan dari para guru untuk menanganinya. Dalam banyak contoh, upaya membujuk siswa kembali rajin bersekolah membutuhkan kesabaran, strategi yang tepat, serta kerja sama antara pihak sekolah dan keluarga. Sebuah kisah tentang bagaimana guru wali kelas dan guru BK berusaha mengembalikan motivasi seorang siswa memberikan gambaran mengenai kompleksitas persoalan ini.

Langkah pertama yang ditempuh biasanya adalah menghubungi siswa dan orang tuanya melalui telepon. Di era modern saat ini, hampir semua orang memiliki handphone, sehingga komunikasi jarak jauh tidak lagi menjadi hambatan. Ketika guru wali kelas berhasil terhubung, pembicaraan dilakukan dengan nada persuasif, bukan intimidatif. Siswa diingatkan tentang pentingnya hadir di sekolah dan menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Orang tua juga diberi pemahaman mengenai konsekuensi jika anak terus membolos. Dalam banyak kasus, pendekatan ini cukup efektif. Siswa bersedia berjanji untuk kembali masuk sekolah, sementara orang tua menyatakan dukungan dan kesediaan untuk mengawasi anak.

Namun, tidak semua berjalan semulus yang diharapkan. Ada kalanya meskipun sudah dihubungi dan memberikan kesediaan, siswa tetap bandel dan terus membolos. Pada titik inilah strategi kedua ditempuh: kunjungan rumah. Guru wali kelas dan guru BK memutuskan untuk menyambangi rumah siswa untuk berkomunikasi langsung dengan keluarga. Waktu kunjungan tidak selalu mudah ditentukan. Jika pagi dan siang orang tua bekerja dan siswa tidak ada di rumah, maka dipilihlah sore atau malam hari. Pendekatan dari hati ke hati secara langsung sering kali menjadi jalan yang lebih ampuh. Melihat kesungguhan guru datang ke rumah, banyak siswa akhirnya merasa tersentuh dan kembali mau bersekolah, meskipun mungkin dengan setengah hati.

Kendati demikian, kembalinya siswa ke sekolah bukan berarti masalah selesai. Ketika siswa tersebut hadir di kelas, suasananya sering kali canggung. Karena sering bolos, ia ketinggalan materi pelajaran dan tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Pada kondisi inilah guru dituntut benar-benar bijak. Jika setiap guru langsung menuntutnya mengerjakan semua tugas yang tertinggal, siswa bisa merasa kewalahan. Karakter dasar siswa yang memang kurang rajin membuatnya semakin enggan jika diberi tumpukan pekerjaan sekaligus. Lebih buruk lagi, jika tuntutan diberi dengan nada kesal, marah, atau intimidatif, siswa bisa merasa bahwa kehadirannya tidak dihargai. Guru yang merasa jengkel karena tugas tidak dikerjakan mungkin melampiaskan emosinya, lalu berkata, 'Sudah sering bolos, tugas tidak dikerjakan, ujian tidak ikut, tapi ingin naik kelas!' Keluhan seperti itu kadang terucap tanpa sadar, namun sangat berpengaruh pada kondisi psikologis siswa.

Di sisi lain, siswa yang menjadi objek keluhan tentu merasa terpojok. Ia bergumam dalam hati, 'Sudah dibujuk untuk masuk sekolah, tapi begitu datang malah dimarahi.' Perasaan tidak nyaman itu lambat laun menumpuk. Ia merasa dibenci, dianggap beban, bahkan dibuli oleh guru sendiri. Akibatnya, ia kembali memilih membolos. Baginya, sekolah bukan lagi tempat aman, melainkan sumber tekanan. Ketika situasi seperti ini terjadi, persoalan siswa yang bolos berubah menjadi masalah yang lebih besar. Hilangnya rasa percaya siswa terhadap sekolah sebagai lingkungan yang mendukung.

Ketegangan seperti ini bukan hanya merugikan siswa, tetapi juga merugikan sekolah. Guru merasa usahanya sia-sia, sedangkan siswa merasa tidak mendapat ruang untuk memperbaiki diri. Pada situasi seperti ini, guru perlu duduk bersama untuk berembuk. Ego pribadi harus dilepaskan demi kepentingan yang lebih besar yaitu masa depan anak bangsa. Guru perlu menyadari bahwa marah, mengintimidasi, atau terus mengeluhkan kelalaian siswa tidak akan menyelesaikan masalah. Justru, hal itu akan memperlebar jarak antara siswa dan guru.

Diskusi antarguru dapat menghasilkan strategi yang lebih konstruktif. Misalnya, memberikan tugas-tugas yang bertahap dan realistis bagi siswa yang tertinggal. Memberikan waktu tambahan atau bimbingan belajar secara khusus. Atau menyusun program mentoring agar siswa merasa didampingi, bukan dikejar-kejar. Pendekatan seperti ini menumbuhkan rasa aman sehingga siswa perlahan mau kembali terlibat dalam proses belajar. Memang benar bahwa memberikan nilai tanpa usaha keras dari siswa adalah tindakan yang tidak tepat dan hanya mengajarkan ketidakjujuran. Namun, membantu siswa menemukan kembali semangat belajarnya adalah kewajiban moral yang melekat pada profesi guru.

Lebih jauh lagi, guru perlu bercermin bahwa tidak semua ilmu untuk mengatasi masalah siswa dengan kebutuhan khusus dapat dipelajari di bangku kuliah. Pengalaman lapangan justru menjadi guru yang sesungguhnya. Setiap siswa memiliki latar belakang berbeda yang memengaruhi perilaku mereka. Ada yang bermasalah karena keluarga, pergaulan, tekanan mental, atau kurangnya dukungan lingkungan. Menyikapi semua itu membutuhkan empati, fleksibilitas, dan kreativitas. Ilmu semacam ini tidak diajarkan secara formal, tetapi berkembang melalui interaksi langsung antara guru dan siswa.

Proses membujuk siswa yang sering bolos merupakan perjalanan panjang. Ada kalanya usaha tersebut berhasil dengan cepat, tetapi sering pula memerlukan waktu panjang. Yang terpenting adalah kesediaan guru untuk terus belajar dan memahami bahwa membentuk karakter siswa bukanlah proses instan. Siswa yang sering bolos bukan berarti siswa yang tidak punya masa depan. Mereka hanya membutuhkan pendekatan yang tepat, ruang untuk berubah, dan kehadiran sosok guru yang tidak mudah menyerah. Dengan demikian, sekolah dapat kembali menjadi tempat yang ramah, tempat yang mendorong siswanya berkembang, bukan tempat yang membuatnya merasa terhakimi. Jika setiap guru mampu menanggalkan ego dan mengedepankan empati, maka setiap tahun persoalan bolos mungkin tetap muncul, tetapi dapat ditangani dengan cara yang lebih manusiawi dan efektif. Dan di situlah letak makna sejati dari profesi pendidik: menjadi penerang yang membimbing, bukan menghukum; menuntun, bukan menghakimi. Dengan demikian, misi menyelamatkan anak bangsa bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar terwujud dalam tindakan nyata.

Komentar

Belum ada komentar.

← Kembali ke Daftar Artikel