Air.Mata Sungkeman

Penulis: Nanik P | 06 Sep 2026 | Pengunjung: 41
Cover
Air Mata Sungkeman

Bulan ini mungkin menjadi bulan yang baik dan penuh keberkahan untuk menyelenggarakan berbagai hajatan, baik pernikahan, khitanan, pesta kelahiran, maupun acara keluarga lainnya.

Seperti halnya pagi ini. Saya menghadiri pesta pernikahan di rumah salah satu karyawan SMPN 1 Pitu. Sesampainya di lokasi, sudah banyak tamu yang datang untuk memberikan doa dan menyaksikan jalannya pesta.

Di tengah suasana yang penuh kegembiraan, para tamu tampak asyik berbincang satu sama lain. Tibalah saatnya memasuki acara sungkeman kepada kedua orang tua sang mempelai.

Sang pembawa acara menjelaskan makna sebuah sungkeman, yaitu ketika kedua mempelai bersimpuh di hadapan orang tua untuk memohon doa dan restu, sekaligus memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan.

Entah mengapa, saat prosesi sungkeman berlangsung, saya ikut terbawa suasana haru. Alunan suara MC dan gending yang mendayu-dayu begitu menggugah perasaan. Kata-katanya seolah masuk hingga ke relung hati.

Tak terasa, air mata pun ikut menetes dan mengalir begitu saja, seakan-akan ada yang mengomando.

Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?

Apakah saya ikut terbawa suasana ketika melihat prosesi sungkeman? Ataukah saya ikut hanyut oleh alunan gending dan kata-kata sang MC yang begitu indah dan menyentuh hati?

Hal seperti ini sebenarnya bukan baru kali ini saya rasakan. Sudah lama sekali saya menyadari bahwa setiap kali melihat prosesi sungkeman, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan.

Rasanya bukan sekadar melihat seorang anak meminta restu kepada orang tuanya, tetapi seperti sedang menyaksikan sebuah perjalanan panjang kehidupan seorang anak.

Di hadapan orang tua, seorang anak yang selama ini mungkin terlihat kuat, dewasa, dan mandiri, tiba-tiba kembali menjadi seorang anak kecil. Ia bersimpuh, menundukkan kepala, mencium tangan orang tua, memohon maaf, dan meminta doa untuk menapaki kehidupan barunya.

Di situlah mungkin letak kekuatan sungkeman.

Sungkeman bukan sekadar rangkaian acara dalam sebuah pesta pernikahan. Di dalamnya terdapat penghormatan seorang anak kepada orang tua, ungkapan terima kasih atas segala pengorbanan, permohonan maaf atas kesalahan, serta permohonan restu untuk menjalani kehidupan rumah tangga.

Bagi orang tua, momen itu tentu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Anak yang dahulu mereka gendong, mereka rawat, mereka sekolahkan, dan mereka bimbing dengan penuh kasih sayang, kini telah sampai pada satu tahap kehidupan baru: membangun keluarga sendiri.

Maka tak heran jika air mata sering kali jatuh tanpa diminta.

Bukan semata-mata karena kesedihan, melainkan karena bercampurnya begitu banyak perasaan: haru, bahagia, rasa syukur, kenangan, cinta, dan mungkin juga sedikit rasa kehilangan ketika orang tua menyadari bahwa anaknya kini telah memiliki kehidupan baru bersama pasangannya.

Para tamu yang menyaksikan pun terkadang ikut larut. Mereka mungkin teringat kepada orang tua masing-masing, teringat masa kecil, teringat perjuangan orang tua, atau bahkan teringat orang-orang tercinta yang sudah tidak lagi bisa mereka temui.

Begitulah sebuah tradisi bekerja. Ia bukan hanya menghadirkan sebuah prosesi, tetapi juga membangkitkan ingatan dan perasaan yang tersimpan jauh di dalam hati.

Mungkin itulah yang saya rasakan pagi ini.

Bukan karena saya sedang bersedih. Bukan pula karena ada sesuatu yang buruk terjadi. Saya hanya sedang tersentuh oleh sebuah tradisi sederhana yang ternyata menyimpan makna begitu dalam.

Sebagai orang Jawa, sudah semestinya kita menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur. Tradisi pernikahan bukan sekadar kemeriahan, pakaian adat, tata cara, atau rangkaian upacara. Di dalamnya terdapat ajaran tentang unggah-ungguh, hormat kepada orang tua, kerendahan hati, rasa syukur, tanggung jawab, dan pentingnya memohon doa serta restu sebelum memulai kehidupan baru.

Sungkeman mengajarkan kepada kita bahwa setinggi apa pun seseorang mencapai kedudukan, sejauh apa pun ia melangkah dalam kehidupan, di hadapan orang tua ia tetaplah seorang anak.

Dan mungkin, justru karena kesederhanaan itulah sungkeman mampu membuat hati siapa pun tersentuh.

Air mata yang jatuh dalam sebuah sungkeman bukanlah tanda kelemahan.

Ia adalah tanda bahwa hati masih memiliki rasa.

Semoga tradisi-tradisi luhur seperti sungkeman tetap kita jaga dan wariskan kepada generasi berikutnya. Sebab di tengah kehidupan yang semakin modern, kita tetap membutuhkan akar budaya yang mengingatkan kita dari mana kita berasal, kepada siapa kita harus menghormati, dan nilai-nilai apa yang seharusnya kita bawa dalam menjalani kehidupan.

Karena sebuah pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua insan, tetapi juga tentang menyatukan doa, restu, keluarga, dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dan pagi itu, saya akhirnya memahami satu hal:

Barangkali air mata yang jatuh saat menyaksikan sungkeman bukan karena hati sedang bersedih, melainkan karena ada begitu banyak cinta yang tiba-tiba menemukan jalannya untuk keluar.

Komentar

Agustiawan 2026-09-09 09:14:43

Reroncèn pahargyan dhauping pinangantèn kalêbêt pitutur luhur, mliginipun tumrap temanten kêkalih ugi tumrap sanggyaning pårå tamu. Adicara panggih nggambarakên pinanggihing jodho ugi sadåyå kabêtahan gêsang. Sungkêman nggambarakên bêkti dhumateng råmå ibu. Kacar kucur nggambarakên priya kêdah sagah ngayani ugi ngayomi.

Ari Iskandar 2026-09-06 21:26:12

Pasti trenyuh saat sungkeman

← Kembali ke Daftar Artikel