Ada satu pertanyaan yang hampir selalu datang kepada seseorang yang memasuki gerbang purna tugas: “Setelah pensiun, mau melakukan apa?” Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya bisa sepanjang jalan kehidupan. Ada yang ingin kembali mencintai tanah dengan bertani, memelihara ternak, membuka dagangan, atau menekuni usaha yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan sebagai rencana. Bahkan, tak sedikit yang menjawab sambil tertawa, “Saya mau jadi MC, Momong Cucu.”
Saya pun pernah mendapat giliran pertanyaan itu. Dengan ringan saya menjawab, “Saya tidak melakukan apa-apa.”
Mungkin terdengar ganjil. Setelah puluhan tahun berkarya, mengapa justru memilih tidak melakukan apa-apa? Tetapi bagi saya, kalimat itu bukan tanda menyerah kepada usia. Bukan pula pertanda hendak menjadi manusia yang berhenti bergerak. Saya hanya ingin menikmati masa indah ini dengan senikmat-nikmatnya.
Hidup, barangkali, memang membutuhkan jeda. Sebagaimana musik memerlukan diam agar nada-nadanya terdengar lebih indah, perjalanan pun membutuhkan tempat untuk berhenti sejenak. Selama ini langkah terlalu akrab dengan tergesa. Pagi datang membawa kewajiban. Jam mengingatkan keberangkatan. Kendaraan harus diperiksa. Perlengkapan mengajar harus dipastikan. Tugas siswa menunggu untuk diperiksa. Begitu seterusnya, hari-hari berjalan seperti kereta yang jarang mengenal stasiun.
Kini saya ingin turun dari kereta itu.
Enam bulan lalu, seorang teman, pemilik Lembaga Bimbingan Belajar, sempat menawarkan agar saya kembali bergabung. Tawaran itu menghangatkan ingatan. Dulu, ketika lembaga tersebut baru berdiri, saya menjadi salah satu tentornya. Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar. Ada banyak papan tulis, buku, soal, tawa anak-anak, dan malam-malam panjang yang menjadi bagian dari perjalanan itu.
Kemudian saya sengaja mengambil cuti. Bukan karena tidak lagi mencintai dunia pendidikan, melainkan karena ingin memberi kesempatan kepada para sarjana baru yang sedang mengetuk pintu pekerjaan. Saya pernah berada di posisi mereka, muda, bersemangat, dan membutuhkan ruang untuk tumbuh.
Kini tawaran itu datang kembali, justru ketika tubuh telah mengumpulkan cukup banyak tanda usia. Saya tersenyum, lalu membiarkannya menjadi kenangan yang indah. Rasanya semakin kurang elok apabila kesempatan yang dahulu ingin saya berikan kepada yang muda kini saya rebut kembali.
Purna tugas bukan berarti kehilangan pangkat. Justru saya merasa sedang meraih pangkat tertinggi.
Pangkat yang tidak tertulis pada papan nama. Tidak tercetak dalam surat keputusan. Tidak mengenal tunjangan, golongan, atau kenaikan berkala. Pangkat itu bernama purna tugas, sebuah penghargaan karena telah menuntaskan perjalanan dengan segala suka dan dukanya.
Saya sudah membayangkan pagi-pagi yang tidak lagi dikejar jarum jam. Bangun tanpa kegelisahan. Mandi tanpa tergesa. Memeriksa kendaraan bukan karena hendak berangkat mengajar, melainkan sekadar memastikan tetap sehat. Perlengkapan mengajar boleh tinggal rapi di tempatnya. Tugas siswa tak lagi menumpuk di meja.
Lalu saya akan membaca, menulis, bercengkerama, berjalan, atau sekadar duduk menikmati secangkir minuman sambil memandangi pagi.
Bukankah itu juga sebuah aktivitas?
Sebab pensiun bukan berhenti hidup. Pensiun adalah kesempatan untuk menghidupi hidup dengan cara yang lebih tenang. Setelah sekian lama memberikan waktu kepada sekolah dan anak-anak, barangkali kini waktunya memberikan sedikit waktu kepada diri sendiri.
Saya tidak sedang meninggalkan kehidupan.
Saya hanya sedang belajar menikmatinya tanpa tergesa, tanpa dikejar bel, dan tanpa harus selalu berangkat menuju sesuatu.
Sebab setelah perjalanan panjang itu, akhirnya saya sampai pada satu kesadaran, pangkat tertinggi bukanlah ketika kita berada di puncak karier, melainkan ketika kita mampu menerima usia dengan syukur dan menjalani sisa perjalanan dengan bahagia.
Komentar
Purna tugas bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk menikmati hidup dengan lebih tenang dan penuh syukur. Setelah sekian lama mengabdi dan memberikan yang terbaik, kini saatnya menikmati waktu bersama keluarga, berkarya tanpa tekanan, dan mensyukuri setiap detik kehidupan. Selamat meraih “pangkat tertinggi”, Pak. Semoga selalu sehat, bahagia, dan penuh keberkahan
Bentul purna ASN ke pensiun ...menikmati masatua bahagia TDK terbebani tugas ....hanya satu tugas membahagiakan di4insendiri dan menambah waktu beribadah insyaalloh. amiin
Selamat menikmati purna tugas Pak Agus,sehat selalu dan tetap berkarya dengan tulisan yang selalu menyentuh setiap pembaca , kami juga berharap akan seperti Pak Agus sampai pada stasiun penghujung dan meraih pangkat tertinggi yaitu purna tugas dalam keadaan sehat, Aamiin