Setiap buku sesungguhnya adalah seorang anak yang lahir dari rahim sunyi seorang penulis. Buku tidak datang dengan tangis yang terdengar, tetapi lahir dari kegelisahan yang lama dipendam, dari gagasan yang berhari-hari mengendap, dari imajinasi yang berkali-kali mengetuk pintu kesadaran. Buku tumbuh bukan di dalam rahim jasmani, melainkan di ruang batin yang hanya dapat dimasuki oleh penulisnya sendiri.
Mohammad Subhan menyebut buku sebagai anak batin. Pramoedya Ananta Toer menyebut karya-karyanya sebagai anak rokhani. Dua istilah itu bagi saya sama-sama indah. Keduanya menegaskan bahwa sebuah karya tidak sekadar susunan kata yang ditata menjadi kalimat dan halaman, melainkan sesuatu yang memiliki hubungan darah dengan penciptanya. Ada sebagian diri penulis yang dititipkan di sana. Pikiran, perasaan, pengalaman, kegelisahan, harapan, bahkan luka yang tak selalu sanggup diucapkan dalam percakapan sehari-hari.
Saya pun tertarik untuk ikut memberi nama: Anak Pujan. Dalam bahasa Jawa, pujan berasal dari kata puja, sebuah laku batin dengan niat tertentu. Pujan bukan sekadar memohon. Di dalamnya ada ketekunan, kesungguhan, penghayatan, dan penyerahan diri kepada sesuatu yang diyakini lebih besar daripada dirinya. Maka, sebuah karya tulis pun dapat dipandang sebagai anak yang lahir dari pujan seorang penulis, dari laku batin yang panjang sebelum akhirnya menjelma menjadi sesuatu yang dapat disentuh, dibaca, dan diwariskan.
Dalam dunia pewayangan, kita mengenal kisah anak-anak yang lahir melalui laku pujan. Salah satunya adalah Megananda, yang kemudian dikenal sebagai Indrajit. Ia lahir dari gumpalan mendung yang dipuja oleh Gunawan Wibisono hingga menjelma menjadi seorang bayi. Megananda berarti awan yang menderu. Rahwana kemudian memberinya nama Indrajit setelah mengetahui kesaktiannya yang mampu menandingi Batara Indra.
Ada pula Jayadrata, yang tercipta dari bungkus Bima. Ketika Bima lahir, ia masih berada di dalam bungkus. Bungkus tersebut kemudian dipuja oleh Begawan Sapwani hingga akhirnya menjelma menjadi Jayadrata.
Kisah-kisah itu memberi saya sebuah perumpamaan. Karya tulis pun demikian. Karya tulis bermula dari sesuatu yang belum berbentuk. Mula-mula hanya sebongkah kegelisahan, segumpal gagasan, serpihan pengalaman, atau mendung imajinasi yang bergelayut di kepala. Penulis kemudian memujanya dengan membaca, berpikir, merenung, menulis, menghapus, mengulang, dan menulis kembali. Hingga pada suatu ketika, sesuatu yang semula tak kasatmata itu lahir sebagai karya.
Karena itu lahirnya sebuah buku layak dirayakan sebagaimana kelahiran seorang bayi manusia. Buku diperkenalkan kepada khalayak, diluncurkan dengan doa dan harapan, kemudian “dibedah” melalui percakapan dan diskusi. Para pembedah bukanlah orang yang sekadar menguliti tubuh buku, melainkan mereka yang membantu melihat jiwa yang bersemayam di dalamnya. Dan buku-buku itu layak dibagikan secara cuma-cuma sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah ikut menyambut kelahirannya.
September adalah Bulan Literasi Nasional. Disambung dengan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa dan puncaknya bulan November sebagai Hari Guru Nasional. Rangkaian bulan tersebut semestinya menjadi ruang untuk merayakan kelahiran anak-anak pujan dari para guru Spensatu. Semoga Spensatu Ngawi kembali berhasil melahirkan antologi. Mengulang keberhasilan tahun lalu dengan antologi : Semarak Bulan Bahasa, Sehari Merangkai Kata.
Dan ketika hari kelahirannya tiba, marilah kita tidak sekadar meluncurkannya. Marilah kita merayakannya. Sebab setiap buku adalah anak yang membawa sebagian jiwa orang tuanya. Buku lahir dari pujan, tumbuh melalui kata, dan kelak berjalan sendiri menemui pembacanya. Tubuh penulis akan menua, namanya perlahan dilupakan, tetapi Anak Pujan itu dapat terus hidup menyeberangi jaman, berpindah dari tangan ke tangan, dari mata ke mata, dari hati ke hati.
Di sanalah sesungguhnya sebuah tulisan menemukan kehidupan keduanya. Ketika karya tulis tidak lagi menjadi milik penulis, melainkan menjadi milik jaman. Semoga.
Komentar
\r\n“Anak Pujan” bukan sekadar judul, tetapi sebuah cara pandang yang indah tentang kelahiran karya. Buku ternyata bukan hanya kumpulan kata, melainkan buah dari doa, kegelisahan, perenungan, dan perjuangan panjang penulis. Semoga “anak-anak pujan” dari Spensatu kelak tumbuh menjadi karya yang panjang umur, menemukan pembacanya, dan tetap hidup meski penulisnya telah menua.