Ada satu hal yang membuat saya selalu bertanya, mengapa seseorang yang telah memiliki begitu banyak harta justru menghabiskan hidupnya untuk menyembunyikannya? Seolah-olah harta bukan lagi menjadi sarana menjalani kehidupan, melainkan beban yang harus dikubur sedalam mungkin. Sebelum harta itu terkumpul, mereka bahkan lebih dahulu merancang ruang-ruang persembunyian, mencipta kamuflase yang demikian rapi sehingga tak seorang pun menduga bahwa di balik dinding, lantai, atau bangunan yang tampak biasa tersimpan gunung-gunung kekayaan. Nilainya bukan lagi jutaan atau miliaran, melainkan puluhan bahkan ratusan triliun. Angka yang terlalu besar untuk dibayangkan, tetapi justru terlalu sunyi untuk dinikmati.
Lalu untuk apa semua itu? Apa arti harta yang keberadaannya hanya mengenal gelap, yang tak boleh disentuh cahaya, yang harus terus dijaga agar tak diketahui siapa pun? Adakah kepuasan lahir dari mengintipnya diam-diam, menghitungnya berulang kali, lalu menutup kembali pintu rahasia dengan dada yang dipenuhi kecemasan? Jika demikian, betapa mahal harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang katanya membawa kebahagiaan. Sebab kekayaan yang diselimuti ketakutan bukanlah kemewahan, melainkan penjara yang dibangun dengan tangan sendiri.
Begitulah keserakahan bekerja. Tidak pernah mengenal kata cukup. Selalu membisikkan bahwa memiliki lebih banyak adalah kemenangan, meski untuk itu akal harus disingkirkan dan nurani dibungkam. Padahal sejak manusia pertama ada selalu merasakan bahwa kebahagiaan sejati bukan lahir dari mengambil yang bukan haknya, melainkan dari memberi tanpa pamrih. Memberi membuat hati lapang, sedangkan mencuri, betapapun lihainya disembunyikan, selalu menyisakan kegelisahan yang tak dapat dibungkam oleh besarnya saldo ataupun megahnya istana.
Yang lebih mengherankan lagi adalah ketika orang-orang yang telah bergelimang kekayaan masih tergoda mengejar tampuk kekuasaan dengan cara yang tidak jujur. Seolah jabatan tertinggi adalah mahkota yang harus diraih apa pun caranya. Padahal menjadi pemimpin semestinya merupakan amanah yang dipikul dengan kejujuran, bukan panggung palsu untuk menyempurnakan ambisi. Sebab kebohongan, sekecil apa pun, memiliki tabiat yang sama dengan cahaya. Selalu menemukan celah untuk menyingkap kegelapan. Menyembunyikannya di balik pidato, pencitraan, bahkan di bawah bantal sekalipun, tidak akan menghapus jejaknya.
Ketika kekuasaan telah diraih, godaan lain pun muncul, mempertahankannya selama mungkin. Maka dibangunlah jaringan yang dibungkus kata-kata indah tentang kesejahteraan, persatuan, dan masa depan bangsa. Namun jika niat terdalamnya hanyalah melanggengkan kuasa, waktu akan mengupas semua topeng itu. Sebab rakyat mungkin dapat dikelabui sesaat, tetapi sejarah memiliki kesabaran yang panjang. Mencatat dengan teliti siapa yang mengabdi dan siapa yang sekadar memanfaatkan kesempatan.
Pada akhirnya, yang paling menyedihkan bukanlah hilangnya harta atau runtuhnya kekuasaan, melainkan jatuhnya martabat. Nama baik yang dibangun sepanjang usia dapat roboh oleh satu keserakahan. Keluarga ikut memikul beban cemooh, anak-anak mewarisi luka yang tidak pernah mereka pilih, sementara pemilik harta tak pernah menyesali ketamakan yang dianggap sebagai kemenangan.
Bukankah hidup sesungguhnya hanya membutuhkan kecukupan? Harta yang mengalir untuk kemaslahatan akan tumbuh menjadi doa, sedangkan harta yang dikurung di ruang-ruang rahasia hanya akan berubah menjadi bayang-bayang yang menghantui pemiliknya sendiri. Pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena banyaknya yang disembunyikan, melainkan karena banyaknya yang dibagikan. Sebab kekayaan terbesar bukanlah apa yang berhasil dikumpulkan dengan penuh siasat, melainkan ketenteraman hati yang lahir dari kejujuran, rasa cukup, dan kesediaan menjadikan sebagian rezeki sebagai cahaya bagi kehidupan orang lain.
Komentar
Harta yang disimpan rapat mungkin menambah angka, tetapi tidak selalu menambah makna. Pada akhirnya, manusia dikenang bukan karena apa yang ditimbun, melainkan karena apa yang dibagikan.
Harta yang disimpan rapat mungkin menambah angka, tetapi tidak selalu menambah makna. Pada akhirnya, manusia dikenang bukan karena apa yang ditimbun, melainkan karena apa yang dibagikan.