Ada masa ketika layar perak menjadi cermin tempat seorang remaja menitipkan impiannya. Pada dekade delapan puluhan, ketika gedung bioskop masih berbau karpet tua, asap rokok, dan jagung sangrai, saya hampir tak pernah melewatkan film laga yang dibintangi Jackie Chan. Salah satu yang paling membekas adalah 𝘛𝘩𝘦 𝘠𝘰𝘶𝘯𝘨 𝘔𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳. Di atas layar, tubuhnya melompat, berguling, menangkis, lalu bangkit lagi dengan senyum yang seolah berkata bahwa kegagalan hanyalah jeda sebelum kemenangan. Saya menatapnya tanpa berkedip, seakan setiap gerakannya sedang mengajari saya cara menghadapi dunia. Hingga sampai pertunjukan usai saya merasa menjadi jawara seperti bintang laga dari Hongkong ini. Aneh memang, setiap kali lampu bioskop menyala dan penonton berbondong-bondong keluar, ada sesuatu yang ikut berubah dalam diri saya. Cara berjalan terasa lebih tegap. Langkah menjadi lebih panjang. Bahu mengembang tanpa diminta. Rasanya bukan lagi remaja biasa yang datang dengan saku pas-pasan, melainkan seorang jagoan yang baru saja menaklukkan segala ketakutan. Jalan pulang dari bioskop selalu terasa berbeda dengan jalan saat berangkat. Film telah menyusup diam-diam ke dalam jiwa, meminjamkan keberanian yang sebenarnya belum saya miliki. Barangkali begitulah cara seni bekerja. Tidak mengubah kenyataan dalam sekejap, tetapi mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Waktu terus berjalan. Tahun-tahun berlalu tanpa banyak permisi. Rambut yang dahulu hitam legam kini mulai dihiasi warna putih. Jika dulu saya berburu jadwal pemutaran film laga atau film horor, kini lebih sering berburu halaman demi halaman buku. Waktu luang yang semakin lapang memberi kesempatan kepada mata untuk lebih lama bersahabat dengan huruf-huruf. Membaca menjadi perjalanan yang tak kalah mendebarkan dibanding menonton film. Bedanya, jika layar bioskop menyajikan gambar yang telah selesai, buku membiarkan imajinasi menyelesaikan semuanya.
Sesungguhnya kegemaran membaca bukanlah kebiasaan yang datang tiba-tiba. Benihnya telah tumbuh sejak remaja. Saya membaca apa saja yang singgah di hadapan mata. Puisi yang mengajarkan kepekaan, cerpen yang menghadirkan kehidupan dalam sekejap, novel yang mengajak mengembara tanpa berpindah tempat. Masa itu juga dipenuhi majalah yang menjadi jendela pengetahuan dan ruang berteduh bagi rasa ingin tahu. 𝘏𝘰𝘳𝘪𝘴𝘰𝘯 membuka cakrawala sastra, 𝘔𝘦𝘬𝘢𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬𝘢 memperkenalkan dunia teknologi, 𝘏𝘢𝘪 menemani masa muda dengan semangatnya, sementara 𝘒𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘪, 𝘕𝘰𝘷𝘢, dan berbagai majalah lain menghadirkan cerita tentang kehidupan yang begitu beragam. Setiap lembar yang dibaca seolah menambahkan satu batu bata kecil untuk membangun rumah bernama pemikiran.
Lalu suatu hari saya bertemu dengan buku karya 𝐆𝐨𝐥 𝐀 𝐆𝐨𝐧𝐠 berjudul 𝘓𝘦𝘥𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘐𝘥𝘦𝘮𝘶 𝘈𝘨𝘢𝘳 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘔𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘬. Judulnya saja sudah menggelitik, seakan ide memang memiliki daya ledak yang harus segera dilepaskan agar tidak mengendap menjadi beban. Setelah halaman terakhir saya tutup, perasaan yang dulu muncul seusai menonton Jackie Chan kembali datang. Bedanya, kali ini saya tidak merasa menjadi pendekar. tetapi merasa menjadi penulis. Tentu bukan penulis hebat dalam kenyataan, tetapi setidaknya dalam keyakinan yang diam-diam tumbuh di dalam dada. Saya percaya bahwa kata-kata pun memiliki jurusnya sendiri. Jika tendangan mampu menjatuhkan lawan, maka kalimat mampu menggugurkan keputusasaan, membangunkan harapan, bahkan menghidupkan kembali kenangan yang telah lama tertidur. Memang film dan buku sama-sama memakan korban. Namun mereka adalah predator yang penuh kasih. Korban-korbannya tidak menjerit, justru tersenyum. Korbannya kehilangan keraguan, tetapi memperoleh keberanian. Korbannya melepaskan ketakutan, lalu menemukan mimpi baru. Saya adalah salah satu korbannya. Tulisan ini adalah buktinya. Hanya berbekal 26 huruf yang setiap hari tampak biasa-biasa saja. Namun ketika huruf-huruf itu saling bergandengan, lahirlah kata. Kata bertemu kata menjelma menjadi kalimat. Kalimat menjelma paragraf. Dari sanalah pikiran memperoleh rumah, dan kenangan menemukan maknanya.
Maka, setiap kali menulis, sesungguhnya sedang merayakan semua yang pernah membentuk diri. Layar bioskop yang mengajarkan keberanian, halaman buku yang menumbuhkan imajinasi, dan para penulis yang tanpa sadar mewariskan api semangat kepada para pembacanya.
Barangkali inilah cara paling sederhana untuk menjawab ejekan yang menyebut bahwa budaya literasi bangsa Indonesia masih rendah, sehingga dianggap belum siap menjadi bangsa besar dan maju. Saya jawab bukan dengan kemarahan, melainkan dengan ketekunan membaca dan keberanian menulis. Sebab setiap membaca buku akan melahirkan satu kesadaran baru, dan setiap tulisan yang lahir dari tangan anak bangsa adalah secercah cahaya yang menolak padam. Dari 26 huruf yang sederhana, kita sedang menyusun masa depan yang lebih cerdas, lebih beradab, dan lebih bermartabat.
Komentar
Perlu diingat bahwa keberanian bisa lahir dari layar, sementara kebijaksanaan tumbuh dari halaman buku. Pada akhirnya, membaca dan menulis adalah cara paling indah untuk merawat mimpi dan membentuk diri.