Sawang Sinawang

Penulis: Nanik Purnawati | 19 Jul 2026 | Pengunjung: 47
Cover
" Sawang Sinawang."

Malam itu udara begitu dingin. Angin yang berembus pelan terasa menusuk hingga ke tulang. Kubuka mata, lalu kuraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Jarum digital menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Sejenak kuberpikir untuk kembali memejamkan mata, menikmati sisa hangatnya selimut. Namun hari itu bukan hari biasa. Ada sebuah perjalanan yang telah lama dinanti.

Bersama Ibu-Ibu Dharma Wanita PDAM Kabupaten Ngawi, kami akan bertolak menuju Yogyakarta dalam rangka kegiatan refreshing. Sebuah perjalanan yang bukan sekadar wisata, melainkan kesempatan untuk melepas penat, mempererat tali silaturahmi, sekaligus mengisi hati dengan cerita dan pelajaran hidup.

Tepat pukul 05.00, rombongan mulai meninggalkan Kota Ngawi. Langit masih diselimuti semburat kelabu. Matahari belum sepenuhnya menampakkan wajahnya. Embun masih setia menggantung di dedaunan, sementara jalanan tampak lengang menyambut langkah kami.

Bus melaju perlahan membelah pagi. Suhu udara yang dingin berpadu dengan hembusan AC membuat tubuh beberapa kali menggigil. Namun dinginnya cuaca tak mampu membekukan semangat para ibu. Justru sepanjang perjalanan, suasana bus dipenuhi gelak tawa, canda, dan obrolan yang mengalir tanpa jeda.

Seperti lazimnya ibu-ibu ketika berkumpul, topik pembicaraan pun bermacam-macam. Ada yang bercerita tentang anak-anaknya, pekerjaan rumah, resep masakan, kesehatan, hingga pengalaman hidup yang penuh warna. Obrolan ngalor-ngidul itu terasa begitu hangat, seolah mengusir dingin yang sejak tadi menyelimuti perjalanan.

Di antara banyaknya percakapan, ada satu kisah yang membuatku terdiam. Seorang ibu dengan suara lembut berkata,

"Urip kuwi ngono......."

Kalimat itu menemui jeda sesaat, baru kemudian beliau lanjutkan dengan sebuah pepatah Jawa yang begitu akrab di telingaku,

"Sawang sinawang."

Pepatah yang singkat, tetapi sarat makna.

Sawang sinawang mengajarkan bahwa hidup ini sering kali hanya dipandang dari permukaannya. Kita mudah melihat kebahagiaan orang lain, tetapi jarang mengetahui beban yang mereka pikul. Kita mengira hidup mereka sempurna, padahal mungkin mereka sedang menyembunyikan air mata di balik senyuman.

Setiap manusia telah digariskan memiliki jalan hidup yang berbeda. Ada yang diberi rezeki melimpah, tetapi diuji dengan kesehatan. Ada yang hidup sederhana, tetapi dianugerahi keluarga yang harmonis. Ada yang sukses dalam karier, namun harus berjuang keras mempertahankan rumah tangganya. Ada pula yang tampak biasa saja, tetapi memiliki hati yang damai dan penuh rasa syukur.

Tak ada kehidupan yang benar-benar sempurna.

Hidup laksana jalan panjang yang berkelok. Kadang mendaki, kadang menurun. Sesekali diterpa hujan, sesekali disinari mentari. Semua orang pasti memiliki ujian sesuai kadar kemampuannya. Hanya bentuk ujiannya yang berbeda.

Karena itu, kita tidak perlu sibuk membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Rasa iri, dengki, dan tidak puas hanyalah akan mengikis kebahagiaan yang sebenarnya telah kita miliki. Dalam istilah Jawa, sifat itu disebut meri.

Betapa banyak perselisihan, permusuhan, bahkan malapetaka yang berawal dari rasa iri. Ketika hati tak lagi mampu menerima ketentuan Tuhan, manusia mudah terjerumus pada kebencian dan kehilangan rasa syukur.

Padahal, kebahagiaan bukanlah tentang memiliki segala sesuatu. Kebahagiaan lahir ketika hati mampu menerima, mensyukuri, dan menikmati apa yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta.

Bukankah rumput tetangga selalu tampak lebih hijau? Padahal, belum tentu tanah tempat mereka berpijak lebih subur daripada tanah yang kita miliki. Mungkin saja yang berbeda hanyalah sudut pandang kita.

Sebagai manusia, tugas kita hanyalah berikhtiar sebaik mungkin, bertakwa kepada Allah Swt., lalu berserah diri kepada-Nya. Tak henti-hentinya memanjatkan doa agar diberikan hati yang lapang, kesabaran dalam menghadapi ujian, keberkahan dalam rezeki, kesehatan, keselamatan, serta kebahagiaan yang hakiki.

Tanpa terasa, obrolan itu terhenti ketika bus mulai memasuki sebuah rumah makan untuk sarapan pagi. Aroma makanan yang menggugah selera menyambut kedatangan kami. Satu per satu kami turun dari bus dengan wajah ceria.

Namun, ada satu hal yang terus terbawa hingga perjalanan berlanjut: petuah sederhana tentang sawang sinawang. Sebuah nasihat yang mungkin telah berkali-kali kudengar, tetapi pagi itu terasa begitu hidup karena lahir dari pengalaman dan ketulusan seseorang.

Perjalanan menuju Yogyakarta akhirnya memberiku lebih dari sekadar kesempatan menikmati keindahan kota wisata. Di balik dinginnya udara pagi, hangatnya kebersamaan, dan riuhnya tawa sepanjang perjalanan, terselip sebuah pelajaran yang begitu berharga.

Bahwa hidup bukanlah tentang siapa yang paling beruntung atau paling sempurna. Hidup adalah tentang bagaimana kita mensyukuri setiap nikmat, menerima setiap takdir dengan lapang dada, serta tetap melangkah dengan hati yang penuh harapan.

Sebab sesungguhnya, apa yang tampak indah di mata belum tentu membawa kebahagiaan. Dan apa yang terlihat sederhana belum tentu kekurangan makna.

Begitulah hidup. Sawang sinawang. Jangan sibuk melihat kehidupan orang lain, hingga lupa mensyukuri indahnya kehidupan yang telah Tuhan titipkan kepada diri sendiri.

Komentar

Sri Sundari 2026-07-19 22:10:44

Ceritanya bagus pepatah jawa sawang sinawang kadang kita memandang orang lain begitu bahagianya padahal belum tentu realita yang sebenarnya intinya syukuri saja apa yang ada yang diberikan oleh Allah SWT biar hati sll damai tentram bahagia\r\nPengin tanya apakah dalam perjalanan nggak ada yang mendendangkan suara emasnya kok disitu nggak dicantumkan.

Agustiawan 2026-07-19 20:04:13

Leluhur Jawa begitu tinggi kesadaran spiritualnya. Dalam memberi \'piwulang lan piwêling\' sesuai dengan kenyataan hidup. Menggunakan pralambang juga tembang indah sehingga, kita tidak terasa jika sedang \'diwêjang\' ilmu luhur.

← Kembali ke Daftar Artikel