Pertemuan Yang Menyulut Bara Kata

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 18 Jul 2026 | Pengunjung: 78
Cover
Ada perjumpaan yang selesai ketika tangan saling melepas. Namun ada pula pertemuan yang diam-diam menetap di dalam batin, tumbuh menjadi cahaya yang tak mudah padam. Sabtu sore, 18 Juli 2026, di DianTara, Ngawi, saya mengalami perjumpaan semacam itu. Sebuah peristiwa yang bagi sebagian orang mungkin hanya sebuah agenda literasi, tetapi bagi saya adalah kemewahan yang tak ternilai. Duduk, mendengar, dan menimba ilmu langsung dari Gol A Gong, Duta Baca Nasional, seorang penulis yang karya dan jejak literasinya telah melintasi batas-batas negeri. Diam-diam ada satu persamaan antara dia dengan saya, yaitu kami sama-sama lahir di bulan Agustus. Kami sangat menikmati keajaiban 26 huruf ketika saling bertemu, berubah menjadi kata, lalu menjelma menjadi kalimat yang mampu menghidupkan perasaan. Menulis bukan sekadar menyusun aksara, melainkan mengalirkan denyut kehidupan ke dalam setiap huruf, meniupkan napas ke setiap kata, hingga mampu menyentuh hati siapa pun yang membacanya. Karena itulah, bertemu dengan Gol A Gong serasa menemukan mata air di tengah perjalanan panjang seorang penyemai aksara.

Lelaki yang bernama asli Heri Hendrayana Harris itu berkisah dengan kesederhanaan yang justru memancarkan kebesaran. Dia menuturkan bahwa perjalanan terjauhnya bukan diukur oleh berapa kilometer jalan yang telah dilalui, melainkan oleh berapa banyak halaman yang berhasil dia tuliskan dengan kesabaran dan ketekunan. Di usianya yang ke 62, dia berhasil menulis lebih dari 300 judul buku. Safari literasinya dari kota ke kota bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ikhtiar menyalakan obor membaca dan menulis di setiap tempat yang disinggahinya. Kata-katanya mengalir tenang, tetapi menghunjam dalam. Setiap kalimat seolah membisikkan bahwa peradaban tidak dibangun oleh gemuruh, melainkan oleh mereka yang setia menulis meski dalam sunyi.

Di ruang yang sama, Dian Oerip, pemilik DianTara, menghadirkan kisah yang tak kalah memesona. Dia mengunjungi berbagai pelosok Indonesia demi menemukan selembar kain tenun. Dia menyapa para penenun, mendengarkan cerita mereka, mengumpulkan bukan hanya corak dan warna, tetapi juga sejarah, doa, serta kehidupan yang tersimpan di setiap helai benang. Saya tiba-tiba menyadari bahwa tenun dan tulisan sesungguhnya berasal dari kesabaran yang sama. Jika para penenun merajut benang menjadi selembar wastra yang indah, maka para penulis merajut pengalaman menjadi ingatan yang tak lekang oleh waktu. Benang-benang itu menjelma kain, sedangkan kata-kata menjelma peradaban.Dua perjalanan yang berbeda itu akhirnya bertemu dalam satu simpul yang kokoh. Kecintaan kepada Indonesia. Yang satu mengabadikan budaya melalui wastra, yang lain menghidupkan peradaban melalui aksara. Keduanya mengajarkan bahwa mencintai negeri tidak selalu dilakukan dengan gegap gempita, melainkan dapat diwujudkan melalui kerja sunyi yang tekun dan setia. Dari tangan-tangan yang merawat tenun dan pena, Indonesia terus menemukan cara untuk mengenang dirinya sendiri.

Sore itu, saya menyaksikan mata-mata para pegiat literasi Ngawi berbinar. Seolah ada bara yang kembali disulut setelah sekian lama tersimpan dalam abu. Semboyan "Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat" tidak lagi terdengar sebagai rangkaian kata yang dipasang di dinding atau diucapkan dalam seremoni. Kalimat itu berubah menjadi panggilan yang hidup, mengajak kami membaca jaman dengan lebih jernih dan menajamkan pena dengan lebih arif. Sebab setiap tulisan yang lahir, sekecil apa pun, adalah jejak yang kelak dapat menuntun langkah orang lain, bahkan menjadi pijakan bagi masa depan bangsa.
Bagi saya, pertemuan ini adalah kado yang begitu istimewa. Menjelang purna tugas, saya memperoleh bingkisan yang tak mungkin dibungkus kertas ataupun diikat pita. Semangat baru untuk terus belajar, membaca, dan menulis. Lebih dari itu, momen ini terasa menjadi hadiah indah dalam peringatan Hari Jadi Ngawi ke-668, seolah kota yang saya cintai sedang mengingatkan bahwa kemajuan sebuah daerah bukan hanya dibangun oleh jalan dan gedung, melainkan juga oleh manusia-manusia yang memuliakan ilmu dan literasi.

Saya semakin percaya bahwa menulis adalah ruang yang paling adil. Pena tidak pernah bertanya tentang usia, jabatan, jenis kelamin, ataupun latar belakang seseorang. Di hadapan kertas kosong, semua orang memiliki kesempatan yang sama. Tidak ada kolusi, tidak ada privilese, tidak ada garis pemisah selain kesungguhan. Modal utamanya hanyalah kerendahan hati untuk menerima kritik, keberanian untuk terus belajar, dan ketulusan merangkai huruf demi melahirkan makna yang bermanfaat bagi sesama. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukan siapa kita, melainkan jejak-jejak kata yang kita tinggalkan untuk menerangi perjalanan manusia lain.

Komentar

Nanik P 2026-07-19 08:21:26

Jejak pertemuan boleh berlalu, tetapi jejak kata akan selalu tinggal dan pertemuan terbaik adalah yang melahirkan perubahan.\"

← Kembali ke Daftar Artikel