Ada kabar yang membuat dada serasa diremas. Sejenak saya terdiam, terkejut hampir pingsan ketika mendengar berita tentang seorang Jampidsus pejabat penegak hukum yang justru tersandung dugaan pelanggaran hukum. Ironi itu terasa begitu getir. Sosok yang semestinya berdiri paling depan menjaga marwah keadilan justru dikabarkan menyimpan luka bagi hukum yang diembannya sendiri. Lebih mencengangkan lagi, harta yang ditemukan disebut berjumlah luar biasa besar, disembunyikan dengan berbagai cara yang dirancang begitu canggih seolah-olah mampu mengelabui mata manusia. Namun sejarah selalu mengajarkan satu hal : tidak ada rahasia yang dapat dikubur selamanya. Tidak ada kejahatan yang sempurna.
Peristiwa itu mengajak ingatan berjalan mundur, menembus lorong waktu yang panjang. Korupsi ternyata bukan penyakit yang lahir kemarin sore. Korupsi telah berakar dalam perjalanan bangsa ini, bahkan sejak masa kolonial. Gambaran itu pernah dibuka oleh Multatuli melalui novel Max Havelaar. Tokoh utamanya, Max Havelaar, digambarkan sebagai seorang Belanda yang memilih berpihak kepada kaum pribumi yang tertindas. Ketika menjabat sebagai asisten residen di Lebak, ia menyaksikan bagaimana bupati pribumi penguasa lokal menekan rakyatnya sendiri. Keberaniannya menentang ketidakadilan membuat langkah hidupnya tidak mudah. Ia harus menerima konsekuensi atas sikap yang diambilnya. Walaupun berbentuk karya sastra, novel tersebut memantulkan kenyataan sosial yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat pada jamannya.
Kisah itu membawa kita pada salah satu proyek terbesar di Hindia Belanda, pembangunan Jalan Raya yang membentang dari Anyer hingga Panarukan sepanjang kurang lebih 1000 kilometer. Dalam catatan sejarah, pembangunan itu melibatkan tenaga rakyat dalam jumlah sangat besar. Oleh Gubernaur Jendral Daendels upah bagi para pekerja sudah diserahkan kepada para bupati Jawa penguasa lokal. Semestinya mereka menyalurkan kepada para pekerja. Namun, di banyak tempat, hak itu tidak pernah benar-benar sampai kepada tangan mereka yang mengayunkan cangkul dan memikul batu. Rakyat dipaksa bekerja tanpa menerima upah, sementara penderitaan menjadi harga yang harus mereka bayar. Jalan yang kini menjadi saksi perjalanan jaman itu, pada sebagian sisinya, dibangun di atas peluh, air mata, bahkan nyawa orang-orang kecil.
Sejak saat itulah, barangkali kita belajar bahwa korupsi bukan semata-mata soal uang yang berpindah tangan. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Ia merampas hak orang lain, mengubah keringat menjadi penderitaan, dan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memuaskan kerakusan. Wajahnya mungkin berganti mengikuti jaman, tetapi tabiatnya tetap sama. Dahulu mengambil upah para pekerja paksa, kini merampok anggaran yang semestinya kembali kepada rakyat. Dahulu dilakukan secara terang-terangan di balik kekuasaan kolonial, sekarang dapat bersembunyi di balik gedung megah, jabatan tinggi, dan teknologi yang rumit.
Betapa menyedihkan ketika praktik itu masih terus berulang hingga hari ini. Nilai kerugian yang diberitakan kadang begitu besar sehingga sulit dibayangkan oleh akal sehat. Harta yang dikumpulkan seakan tidak akan habis dinikmati hingga 700 turunan. Padahal manusia hanya membutuhkan ruang yang sempit ketika akhirnya kembali ke pangkuan bumi. Keserakahan sering kali membuat seseorang lupa bahwa jabatan hanyalah titipan, bukan hak milik yang dapat diperdagangkan demi kepentingan pribadi.
Namun sejarah juga menyampaikan pelajaran yang tidak kalah penting. Sepandai-pandai seseorang menyembunyikan hasil kejahatan, selalu ada waktu ketika semuanya terbuka. Dinding yang tampak kokoh dapat retak, ruang rahasia dapat ditemukan, dan tabir yang disusun serapi apa pun pada akhirnya akan tersibak. Kebenaran mungkin berjalan perlahan, tetapi jarang kehilangan arah. Ketika saat itu tiba, yang tersisa bukan lagi kemewahan, melainkan rasa malu yang akan dikenang jauh lebih lama daripada usia harta yang pernah dikumpulkan.
Semoga setiap peristiwa seperti ini menjadi cermin bagi siapa pun yang memegang amanah publik. Jabatan bukanlah kesempatan untuk memperkaya diri, melainkan ruang untuk mengabdi. Dan bagi mereka yang mulai tergoda untuk menukar integritas dengan kekayaan, semoga kisah-kisah dari masa lalu hingga hari ini menjadi peringatan yang cukup keras agar berpikir, bukan hanya 1000 kali, melainkan selama hati nurani masih sanggup berbicara.
Komentar
Saat hati nurani dibungkam oleh keserakahan, jabatan kehilangan maknanya, dan kehormatan perlahan memudar. Semoga kisah-kisah seperti ini menjadi pelajaran, bukan sekadar berita yang berlalu.