Ada jarak yang tak pernah mampu diukur oleh mata manusia. Jarak itu terbentang antara sebuah perbuatan dan niat yang bersemayam di dalam dada. Mata hanya melihat gerak, telinga hanya menangkap kata, tetapi hati seseorang tetap menjadi ruang sunyi yang hanya diketahui oleh pemiliknya dan Sang Pencipta.
Sering kali kita melangkah dengan maksud bersyukur, tetapi langkah itu justru mengundang bermacam tafsir. Kita mengira senyum yang dibagikan akan menumbuhkan kebahagiaan, ternyata ada yang menangkapnya sebagai kesombongan. Kita berharap kisah yang disampaikan menjadi pengingat akan nikmat Tuhan, namun sebagian orang menganggapnya sebagai panggung untuk memamerkan keberhasilan. Begitulah manusia. Menilai dari yang tampak, sementara yang tersembunyi tetap menjadi rahasia.
Seseorang memperoleh kenaikan pangkat setelah bertahun-tahun bekerja dengan penuh kesungguhan. Ia mengundang sahabat dan kerabat datang ke rumah. Meja sederhana dipenuhi hidangan, tawa memenuhi ruang, doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur. Namun di balik pintu-pintu yang tak terlihat, lahirlah bisik-bisik yang berbeda. Ada yang berkata, "Ia sedang bersyukur." Ada pula yang berbisik, "Ia sedang memamerkan keberhasilannya." Padahal, tak seorang pun benar-benar mengetahui apa yang sedang bergolak di dalam hatinya.
Begitu pula ketika tangan-tangan dermawan menyantuni fakir miskin. Ada yang mengabadikan momen itu, lalu mengunggahnya ke media sosial. Sebagian orang memandangnya sebagai inspirasi, berharap semakin banyak orang terdorong melakukan kebaikan yang sama. Sebagian lain menggeleng pelan, menganggap dokumentasi itu sebagai riya yang dibungkus kepedulian. Kebaikan yang sama, tetapi lahir penilaian yang tak pernah seragam.
Di waktu sepertiga malam, ketika kebanyakan manusia masih terlelap, seseorang menulis di grup WhatsApp, "Inilah waktu terbaik untuk mendekat kepada Sang Khaliq." Mungkin ia baru saja menuntaskan munajatnya dan ingin mengajak orang lain menikmati keheningan yang penuh rahmat. Namun lagi-lagi, tak sedikit yang memandangnya dengan prasangka berbeda. Ada yang merasa diingatkan, ada pula yang merasa sedang diperlihatkan ibadah orang lain.
Demikian pula ketika sebuah rumah mulai dibangun. Pemiliknya mengabarkan kepada teman-teman, memohon doa restu agar pembangunan berjalan lancar, diberi keselamatan, dan kelak menjadi tempat berteduh yang penuh berkah. Niat itu sederhana. Harapan itu tulus. Namun tetap saja muncul suara yang berkata, "Ia sedang memamerkan rumah barunya." Sebuah doa berubah menjadi dugaan, hanya karena manusia melihat dinding yang mulai berdiri, bukan hati yang sedang bersimpuh.
Barangkali hanya satu keadaan yang hampir selalu menghadirkan kesepakatan. Ketika seseorang mengunggah kabar tentang sakit yang dideritanya. Ketika ia menulis, "Mohon doanya agar segera diberi kesembuhan." Hampir semua orang memahami bahwa permohonan itu lahir dari rasa lemah seorang hamba yang berharap doa-doa baik mengiringi ikhtiarnya. Di sana, penilaian terasa lebih lembut karena penderitaan membuat manusia lebih mudah berempati daripada keberhasilan.
Namun kehidupan memang tidak pernah menyediakan ruang agar semua orang sepakat terhadap setiap tindakan kita. Selalu ada yang memuji, selalu ada yang mencela. Selalu ada yang memahami, selalu ada yang salah mengerti. Sebab manusia hanya mampu membaca apa yang tampak, sedangkan niat tersimpan rapat di dalam relung hati.
Karena itu, sebelum sibuk menghitung penilaian orang lain, barangkali lebih bijaksana bila kita menghitung kejujuran diri sendiri. Sebelum merasa benar karena dipuji, atau merasa bersalah karena dicela, duduklah sejenak bersama nurani. Tanyakan dengan jujur, untuk siapa semua ini dilakukan. Untuk kebanggaan diri, atau sebagai ungkapan syukur kepada Ilahi. Untuk mencari tepuk tangan manusia, atau mengharap rida-Nya semata.
Pada akhirnya, dunia hanya akan menyaksikan perbuatan. Manusia hanya akan memberi penilaian sesuai sudut pandangnya. Tetapi hati tidak pernah dapat berdusta di hadapan pemiliknya, dan tidak ada satu pun niat yang tersembunyi dari pengetahuan Allah. Maka biarlah pertanyaan itu terus hidup di dalam diri kita, menjadi cermin setiap kali hendak melangkah. Pamer ataukah syukur? Sebab jawaban yang paling jujur tidak lahir dari komentar orang lain, melainkan dari bisikan nurani yang tak pernah bisa kita bohongi.
Komentar
Muhasabah yang bermakna sama dengan instrospeksi atau mawas diri, barangkali mudah untuk diucapkan, namun tak semudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan muhasabah itu berlangsung secara terus-menerus, setiap waktu, dan tidak harus menunggu malam tiba. Ketika keliru dalam menilai seseorang, sudah semestinya kita berusaha untuk meralat, menganulir, mengoreksinya. Sikap ini hanya ada di dalam hati. Sudah seharusnya kita tidak menuduh orang yang memberikan contoh keberhasilannya sebagai manuver pamer. Kita camkan baik-baik atas pernyataannya, barang kali kita bisa mencuplik atau bahkan \"menyadap\" dari bagian keberhasilannya. Kalaupun kita tidak bisa menirunya, kita mesti yakin bahwa teramat banyak jalan atau cara lain untuk menggapai keberhasilan. Intinya bahwa \"pamer\" tak perlu disandingkan dengan \"iri\". Satu-satunya cara untuk meredam fenomena yang mungkin kita salah menangkapnya adalah bersyukur atau banyak bersyukur. Teramat banyak nikmat yang dicurahkan oleh Allah kepada kita masing-masing. Hal ini yang mengantarkan kita menempuh ma\'rifatullah lewat muqarabatullah sekaligus muraqabatullah. Nashrun min Allah wa fathun qariib.
Keikhlasan memang tak membutuhkan pengakuan manusia, karena Allah mengetahui setiap niat yang bersemayam di dalam hati. Pujian tidak selalu menjadi tanda kebenaran, dan celaan tidak selalu berarti kesalahan. Yang terpenting adalah terus memperbaiki niat dan berharap Allah menerima setiap ikhtiar yang kita lakukan.Semoga kita senantiasa dimudahkan menjaga niat hingga akhir.