Tahun ini 2026 bertepatan dengan hari jadi Ngawi yang ke 668. Pada momen bersejarah ini saya ingin berbagi cerita tentang Ngawi di masa kecil saya dulu, yaitu saat memulai belajar di SD.
Saya orang Ngawi. Lahir di Ngawi, tumbuh di Ngawi, mengeja huruf pertama di Ngawi, menamatkan sekolah hingga SMA di Ngawi. Lalu selepas kuliah kembali bekerja dan membangun keluarga di Ngawi. Bahkan istri saya pun putri Ngawi. Karena itu, ketika orang-orang menyebut saya Ngawi banget, saya hanya tersenyum. Sebab memang sebagian besar perjalanan hidup saya berakar pada tanah yang dibelah dua sungai besar itu.
Bila ingatan ditarik mundur ke tahun-tahun tujuh puluhan, Ngawi yang saya kenal adalah kota kecil yang teduh, tenang, dan dipenuhi jejak-jejak masa lalu. Jejak yang kala itu belum disebut cagar budaya atau warisan sejarah. Bagi kami, anak-anak yang tumbuh di sana, bangunan-bangunan tua itu hanyalah bagian biasa dari kehidupan sehari-hari.
Dari sisi utara kota, dekat tempat tinggal saya waktu itu, berdiri sebuah bangunan yang selalu mengundang tanya. Orang-orang menyebutnya Kremil. Bentuknya kokoh, tinggi, dan besar, berdiri di tepi Bengawan Solo seperti penjaga bisu yang setia menatap arus sungai dari waktu ke waktu. Belakangan saya tahu bahwa Kremil adalah landasan jembatan yang tidak pernah selesai dibangun. Entah karena perang, kekurangan biaya, atau sebab lain yang hilang ditelan sejarah, Belanda tidak pernah menuntaskan pekerjaan itu. Yang tersisa hanya satu landasan di sisi selatan sungai. Di seberangnya tidak ada pasangan yang menyempurnakan. Landasan itu berdiri sendiri, seperti kalimat yang kehilangan titik akhirnya.
Dari Kremil, bila melangkah ke selatan sedikit ke timur, tampak bangunan rumah sakit umum. Gedung peninggalan Belanda itu memiliki ciri yang khas : pintu dan jendela yang tinggi menjulang, tembok-tembok tebal yang membuat udara di dalamnya tetap sejuk meskipun matahari sedang garang.
Di depan rumah sakit membentang jalan Dr. Wahidin. Disudut jalan ada bangunan berbentuk silinder terbuat dari semen dengan tinggi sekitar empat meter serta diameter sekitar dua meter. Juga terdapat di sudut jalan Trunojoyo. Setiap seratus meter ada satu buah. Bentuknya mirip tandon air. Tidak ada yang mampu menjelaskan secara gamblang fungsinya. Hanya bisa menebak bahwa itu adalah instalasi air minum, PDAM di jaman sekarang.
Sepanjang jalan Dr. Wahidin dinaungi pohon-pohon asam raksasa. Pohon-pohon itu bukan hanya tumbuh di sana, melainkan di seluruh jalan raya kota Ngawi. Pada musim kemarau, ketika tanah retak dan debu beterbangan, naungan pohon asam membuat perjalanan terasa nyaman. Rindangnya menyatukan langit dan jalan dalam warna hijau yang menenangkan. Buah-buah asam yang telah matang sering berjatuhan ke tanah. Kami, anak-anak kampung yang belum mengenal banyak jajanan, berebut memungutnya. Rasanya masam bercampur manis, meninggalkan sensasi yang sulit dilupakan. Barangkali kenangan masa kecil memang selalu menemukan jalannya melalui rasa.
Lebih ke timur lagi berdiri Benteng Pendem. Benteng tua yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Van den Bosch itu tampak angker sekaligus memikat. Dinding-dindingnya yang kusam menyimpan cerita yang tak pernah benar-benar kami pahami. Kami hanya tahu bahwa bangunan itu sudah ada jauh sebelum kami lahir, dan mungkin akan tetap ada setelah kami tiada.
Di sebelah selatannya terdapat Kerkop, makam orang-orang Belanda. Nisan-nisan marmer berdiri sunyi di antara rerumputan. Nama-nama asing terukir pada batu marmer yang tetap kelihatan mewah walaupun dimakan usia. Dari sana perjalanan dapat diteruskan ke SMPN 2 Ngawi yang kala itu masih menempati gedung peninggalan Belanda. Sedikit ke timur terbentang Jembatan Dungus di atas Bengawan Madiun, menghubungkan wilayah-wilayah yang dipisahkan air sejak jaman lampau.
Ke arah barat berdiri lembaga pemasyarakatan tua, juga warisan kolonial. Sementara sedikit ke utara SPGN Ngawi, SMPN 1 Ngawi, dan di depannya SDN Ronggowarsito. Ketiganya menempati bangunan peninggalan Belanda yang masih kokoh. Di SDN Ronggowarsito itulah saya memulai pendidikan dasar. Saya masih ingat belajar satu kompleks bersama dua putri Bupati Ngawi saat itu, Soewojo, namun berbeda kelas. Kami hanyalah anak-anak yang sama-sama mengenakan seragam sekolah, belum mengerti perbedaan kedudukan maupun sejarah yang mengelilingi.
Jika direnungkan sekarang, begitu banyak peninggalan Belanda hanya di sekitar kota Ngawi. Belum lagi pabrik gula di sebelah selatan, stasiun kereta api, dan berbagai bangunan lain yang menjadi saksi betapa luasnya kekuasaan kolonial pada masa lampau. Seolah setiap sudut kota menyimpan jejak langkah sejarah yang tak mudah dihapus.
Namun di antara semua kenangan itu, ada satu sosok yang paling membekas dalam ingatan saya: seorang perempuan tua yang tinggal tidak jauh dari rumah kami. Orang-orang memanggilnya Nyah Meri. Ia seorang Belanda yang tetap tinggal di Ngawi setelah masa kolonial berakhir. Meski usia telah senja, sisa-sisa kecantikannya masih tampak jelas pada wajah yang mulai dipenuhi keriput. Yang membuat kami takjub bukanlah asal-usulnya, melainkan penampilannya. Setiap hari ia mengenakan kebaya dan kain batik seperti perempuan Jawa pada umumnya. Rambut panjangnya digelung rapi di atas kepala sedikit kebelakang. Juga fasih berbahasa Jawa ngoko. Bila berjalan di kampung, ia lebih tampak sebagai seorang wanita Jawa tua daripada orang Eropa. Seolah waktu telah meleburkan batas-batas bangsa, menyisakan seorang manusia yang memilih hidup berdampingan dengan tanah yang dicintainya.
Begitulah Ngawi tahun tujuh puluhan dalam ingatan saya. Sebuah kota kecil yang teduh oleh pohon asam, dijaga dua bengawan, dipenuhi bangunan kolonial yang kokoh, dan dihuni orang-orang sederhana yang hidup bersahaja. Saat ini Ngawi telah banyak berubah, tetapi tetap tinggal utuh di dalam hati, seperti halaman lama yang selalu ingin dibuka kembali.
(ππππππ ππππππππ ππππ πΎπππππ ππππ.πππ)
Komentar
Sejarah tidak hanya tinggal di bangunan-bangunan tua, tetapi juga hidup dalam kenangan orang-orang yang pernah menjadi bagiannya