Saat Berkah Diantar Ke Rumah

Penulis: Nanik Purnawati | 23 Jun 2026 | Pengunjung: 44
Cover
Saat Berkah Diantar Ke Rumah

Hari ini merupakan hari ketujuh dalam bulan Muharam, atau yang lebih dikenal oleĥ masyarakat Jawa sebagai bulan Su ra. Sejak dahulu, banyak orang meyakini bahwa bulan Sura adalah bulan yang penuh berkah dan memiliki makna istimewa dalam kehidupan masyarakat. Terlepas dari berbagai pandangan yang ada, saya pribadi merasakan bahwa sejak awal bulan hingga hari ini banyak sekali rezeki dan kebaikan yang datang melalui orang-orang di sekitar.

Hampir setiap hari saya mendapatkan kiriman makanan, jajanan, atau hidangan dari teman, tetangga, maupun saudara. Fenomena seperti ini mungkin sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan, karena tradisi dan adat istiadat masih sangat dijaga serta diwariskan dari generasi ke generasi. Apa yang diajarkan oleh para leluhur tidak serta-merta ditinggalkan, melainkan tetap dilestarikan selama dianggap membawa nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan bermasyarakat.

Saya masih ingat nasihat yang sering disampaikan oleh para sesepuh kepada anak cucunya, “Le, Nduk, Aja lali nek pas weton pasaran ditironi ben adoh saka rubeda lan sengkala.” Dalam bahasa Indonesia, pesan tersebut kurang lebih berarti, “Nak, jangan lupa ketika hari wetonmu tiba, lakukan tirakatan atau peringatan agar dijauhkan dari berbagai kesulitan dan marabahaya.”

Menariknya, nasihat tersebut ternyata masih membudaya hingga sekarang. Banyak orang yang tetap memperingati weton mereka dengan berbagai cara, salah satunya dengan membagikan makanan kepada keluarga, tetangga, dan kerabat. Ketika saya bertanya kepada beberapa orang yang memberi makanan, sebagian besar menjawab bahwa mereka sedang "nironi weton" atau memperingati hari kelahiran berdasarkan penanggalan Jawa. Jika diibaratkan dengan istilah yang lebih populer saat ini, tradisi tersebut mirip dengan perayaan ulang tahun, hanya saja menggunakan perhitungan kalender Jawa yang memiliki nilai budaya dan filosofi tersendiri.

Setiap tahun suasana seperti ini selalu saya rasakan. Dalam satu bulan, berkali-kali saya menerima nasi, jajanan pasar, kue, maupun berbagai hidangan lainnya dari orang-orang yang sedang memperingati weton. Dari sisi sosial, tradisi ini membawa dampak yang sangat positif. Selain menjadi bentuk rasa syukur atas bertambahnya usia dan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT, tradisi berbagi makanan juga mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa suasana bulan Sura di desa terkadang mengingatkan pada bulan suci Ramadan. Tentu keduanya memiliki makna yang berbeda, tetapi ada satu kesamaan yang terasa, yaitu banyaknya sedekah dan semangat berbagi kepada sesama. Akibatnya, rezeki seolah mengalir dari berbagai arah dan dapat dirasakan oleh banyak orang. Meskipun pada hakikatnya sedekah dapat dilakukan kapan saja dan tidak terbatas pada bulan tertentu, kenyataannya masyarakat memang lebih terdorong untuk berbagi pada momen-momen yang dianggap istimewa.

Dari pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa adat istiadat dan tradisi memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat. Tradisi bukan sekadar kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, melainkan juga sarana untuk menjaga hubungan sosial, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Melalui tradisi berbagi makanan, seseorang tidak hanya menunjukkan rasa syukur, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.

Namun demikian, ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan. Sebagai seorang Muslim, kita tetap harus menempatkan ajaran agama dan syariat Islam sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan. Tradisi yang diwariskan oleh para leluhur dapat terus dilestarikan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Rasa syukur, sedekah, silaturahmi, dan kepedulian sosial adalah ajaran yang juga sangat dianjurkan dalam agama.

Pada akhirnya, bulan Sura mengajarkan banyak hal kepada kita. Selain menjadi bagian dari warisan budaya yang kaya akan nilai dan makna, bulan ini juga menjadi pengingat bahwa keberkahan sering kali hadir melalui hal-hal sederhana, seperti berbagi makanan, menjaga silaturahmi, dan saling peduli terhadap sesama. Tradisi boleh tetap dijaga, budaya boleh tetap dilestarikan, tetapi yang terpenting adalah tidak pernah meninggalkan ajaran agama sebagai landasan utama dalam setiap langkah kehidupan. Dengan demikian, budhaya dan agamah dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan menghadirkan manfaat bagi banyak orang. Syariat tidak bisa terlaksana tanpa budaya. Makanan ,pakaiian,sarung, rukuh, sajadah, tasbih, arsitektur masjid adalah budaya. Tata cara wudhu, sholat adalah syariat.

Komentar

Agustiawan 2026-06-23 10:28:45

Tidak mungkin memisahkan antara agama dan budaya. Manusia adalah makhluk berbudaya. Budaya difilter melalui tuntunan agama. Pada jaman modern ini penjajahan halus membidik budaya. Jika budaya sudah terjajah, habislah suatu bangsa.

← Kembali ke Daftar Artikel