Di negeri yang penuh baliho dan janji, pertanyaan ini selalu datang seperti angin yang tak pernah bosan berembus. Mengapa seseorang ingin menjadi bupati?
Jawaban yang terdengar hampir selalu sama. Ingin memperbaiki keadaan yang carut-marut. Ingin memakmurkan rakyat. Ingin memperjuangkan wong cilik yang selama ini hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Kalimat-kalimat itu terdengar indah, seindah embun yang menggantung di ujung daun pada pagi hari. Namun ketika matahari mulai meninggi, embun itu sering kali menguap tanpa bekas.
Masih adakah niat yang murni seperti itu tersimpan di relung hati seseorang yang meminta jabatan?
Pertanyaan itu terasa semakin sulit dijawab pada jaman ketika kekuasaan bukan lagi sesuatu yang datang menghampiri, melainkan sesuatu yang dikejar dengan segala tenaga dan segala cara. Padahal para bijak sejak dahulu telah meninggalkan nasihat yang sederhana namun dalam maknanya. Jangan memberi jabatan kepada orang yang meminta. Sebab orang yang terlalu bernafsu terhadap kedudukan sering kali lebih mencintai kursinya daripada amanah yang melekat padanya.
Semua orang tahu, jalan menuju kursi nomor satu di sebuah kabupaten bukanlah jalan yang gratis. Ada ongkos yang harus dibayar. Ada modal yang harus disiapkan. Bahkan seseorang yang pernah terjun dalam perebutan kursi bupati dan kalah pernah berkata bahwa modal minimal yang harus dikumpulkan mencapai lima puluh miliar rupiah. Ya, lima puluh miliar.
Angka itu bergaung seperti petir di siang bolong. Bagi rakyat biasa, jumlah tersebut nyaris tak terbayangkan. Maka akal sehat pun mulai bertanya. Dari mana uang sebanyak itu berasal?
Jika yang mengincar jabatan adalah seorang pejabat negara yang selama bertahun-tahun hidup dari gaji dan tunjangan resmi, sulit rasanya membayangkan kekayaan sebesar itu terkumpul hanya dari pendapatan yang sah. Di sinilah kecurigaan tumbuh seperti ilalang pada musim hujan. Mungkin ada proyek yang diperjualbelikan. Mungkin ada jabatan yang ditukar dengan imbalan. Mungkin ada berbagai jalan gelap yang namanya berbeda-beda tetapi ujungnya sama. Mengumpulkan uang sebanyak mungkin.
Srobot sana, srobot sini. Mengambil sedikit dari sini, banyak dari sana, hingga akhirnya terkumpul gunungan harta yang siap dipertaruhkan demi sebuah kursi kekuasaan.
Namun semakin dipikirkan, semakin sulit dipahami. Jika seseorang sudah memiliki uang puluhan miliar, mengapa harus rela melepaskannya demi sebuah jabatan yang hanya berlangsung beberapa tahun? Bukankah dengan kekayaan sebanyak itu seseorang dapat hidup tenteram bersama keluarganya? Menikmati hari-hari tanpa rasa was-was. Beribadah dengan khusyuk. Bersedekah dengan ringan. Menjadi manusia yang tidur nyenyak tanpa dihantui ketukan pintu pada tengah malam. Lalu sebenarnya apa yang dicari? Benarkah ingin memperbaiki keadaan?
Masyarakat yang sudah terlalu sering menyaksikan drama kekuasaan menjadi sukar percaya. Terlalu banyak cerita yang berakhir sama. Belum lama menikmati kursi empuk, sudah harus berhadapan dengan KPK. Belum selesai menghitung janji kampanye, sudah menghitung pasal demi pasal. Kursi bupati terlepas. Nama baik hancur. Keluarga menanggung malu. Bahkan ada yang menutup usia bukan sebagai pemimpin yang dikenang, melainkan sebagai pelajaran yang dikenang dengan getir.
Padahal umur manusia sangat terbatas. Waktu berjalan seperti air sungai yang tak pernah kembali ke hulunya. Mengapa tidak berpikir untuk meninggalkan dunia dengan hati yang tenang? Mengapa tidak memilih dikenang karena kebajikan daripada karena perkara hukum?
Dalam keadaan seperti sekarang, adakah jabatan diberikan kepada orang yang tidak meminta?
Jawabannya hampir tidak ada. Semua diperebutkan. Semua dikejar. Semua menjadi arena perlombaan yang kadang lebih mirip pertarungan daripada pengabdian.
Barangkali dalam sejarah kehidupan masyarakat kita, keadaan sebaliknya hanya dapat ditemukan pada pemilihan ketua RT. Itupun di tempat-tempat yang ketua RT-nya tidak menerima honor, yang pekerjaannya semata-mata pengabdian. Warga justru mencari orang yang cakap, bijaksana, dan mau berkorban. Orang yang sering kali tidak mengajukan diri, tetapi diminta karena dipercaya.
Andaikan semangat itu dapat tumbuh hingga ke jenjang yang lebih tinggi, mungkin wajah kehidupan akan berbeda. Jabatan tidak lagi menjadi rebutan, melainkan amanah. Kekuasaan tidak lagi menjadi tujuan, melainkan alat untuk melayani. Dan rakyat tidak lagi menjadi tangga menuju puncak, melainkan alasan mengapa seorang pemimpin berdiri di sana.
Jika hari itu datang, kehidupan akan lebih tertib, lebih jernih, dan lebih tertata. Sebab yang memimpin bukan mereka yang haus kekuasaan, melainkan mereka yang sungguh-sungguh siap memikul tanggung jawabnya.
Komentar
Ketika jabatan dicari untuk melayani, masyarakat akan maju. Ketika jabatan dicari untuk berkuasa, masyarakat yang menanggung akibatnya.Karena sesungguhnya Jabatan adalah sarana untuk mengabdi, bukan tujuan untuk dimiliki.
Tiada keabadian di dunia ini