Memaknai Bulan Sura di Tengah Tradisi dan Keimanan
Pagi itu suasana duka menyelimuti rumah salah satu tetangga yang baru saja berpulang. Seperti lazimnya dalam kehidupan bermasyarakat, warga berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus mendoakan almarhumah. Di tengah suasana yang tenang dan penuh keakraban, obrolan pun mengalir ke berbagai topik, hingga akhirnya pembicaraan mengarah pada Malam 1 Muharam atau yang lebih dikenal masyarakat Jawa sebagai Malam 1 Sura.
Seorang bapak yang duduk tidak jauh dari saya mengatakan bahwa Malam 1 Sura merupakan malam yang keramat dan istimewa. Menurutnya, malam tersebut adalah waktu yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, mencari ilmu, serta melakukan perenungan diri. Pernyataan itu kemudian dibenarkan oleh beberapa ibu dan para sesepuh yang hadir. Mereka menceritakan berbagai tradisi dan kepercayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Saya hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Dalam hati, muncul berbagai pertanyaan dan pemikiran. Ada yang mengatakan bahwa pada bulan Sura sebaiknya tidak mengadakan hajatan besar seperti pernikahan, khitanan, ataupun acara penting lainnya. Sebagian masyarakat percaya bahwa larangan tersebut berkaitan dengan cerita tentang Nyi Roro Kidul yang konon sedang memiliki hajat besar pada bulan tersebut. Ada pula yang berpendapat bahwa selama bulan Sura seseorang sebaiknya mengurangi bepergian jauh, lebih berhati-hati dalam bertindak, serta mampu mengendalikan hawa nafsu dan emosi.
Bagi sebagian orang, hal-hal tersebut mungkin dianggap sebagai mitos. Namun bagi sebagian yang lain, itu adalah bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan adat yang telah hidup selama ratusan tahun. Sulit untuk menilai benar atau salahnya sebuah kepercayaan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Sebab, tradisi sering kali lahir dari pengalaman panjang para leluhur dalam memaknai kehidupan.
Obrolan pagi itu membuat saya menyadari bahwa masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri dalam menghormati waktu-waktu yang dianggap penting. Terlepas dari berbagai kepercayaan yang menyertainya, bulan Sura sering dimaknai sebagai momentum untuk introspeksi diri, memperbaiki perilaku, menata hati, serta lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Nilai-nilai seperti kehati-hatian, kesederhanaan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama sejatinya merupakan ajaran yang baik untuk diterapkan kapan pun.
Tanpa terasa, hampir dua jam kami berbincang. Pembicaraan pun berhenti ketika seluruh tamu yang hadir berdiri untuk menghormati prosesi pemberangkatan jenazah. Suasana kembali hening. Langkah demi langkah mengiringi perjalanan terakhir seseorang yang telah menyelesaikan tugasnya di dunia.
Dalam perjalanan pulang, pikiran saya masih tertuju pada berbagai cerita dan pandangan yang saya dengar saat itu. Saya mencoba mengambil hikmah dari semuanya. Saya menyadari bahwa sebagai bagian dari masyarakat, sudah sepatutnya kita menghormati adat, budaya, dan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur. Tradisi adalah bagian dari identitas yang mengajarkan kebersamaan, penghormatan, dan nilai-nilai kehidupan.
Namun di atas semua itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Apa pun tradisi yang kita jalankan, apa pun kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat, jangan sampai menggeser keyakinan bahwa hanya Allah SWT tempat kita bersandar dan memohon pertolongan. Menghormati adat adalah bentuk penghargaan terhadap warisan budaya, tetapi ketakwaan kepada Allah SWT harus tetap menjadi pegangan utama dalam setiap langkah kehidupan.
Dari percakapan itu saya belajar bahwa tradisi dapat menjadi pengingat, budaya dapat menjadi pelajaran. Melestarikan budaya adalah benteng jiwa agar tak terjajah. Saat pakaian, kesenian, dan makanan perlahan tergeser kita memujanya melupakan cita rasa warisan yang tumbuh dari tanah sendiri. Kehidupan dapat menjadi tempat mengambil hikmah. Sementara kematian yang saya saksikan mengingatkan bahwa pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, yang terpenting bukanlah seberapa banyak cerita atau kepercayaan yang kita dengar, melainkan seberapa besar kita mampu memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT selama masih diberi kesempatan hidup di dunia.
Komentar
Tradisi adalah lentera yang menyalakan ingatan, sementara budaya menjadi akar yang meneguhkan pijakan jiwa. Dari tanah warisan tumbuh pelajaran tentang jati diri dan syukur. Kematian yang singgah di hadapan mata mengajarkan kefanaan, bahwa segala yang dibanggakan akan luruh oleh waktu. Maka yang patut dipelihara bukan sekadar cerita, melainkan hati yang terus dibersihkan, amal yang terus diperindah, serta ketakwaan yang kian bertumbuh menuju hadirat Allah Yang Maha Kekal.\r\n