Waras Di Zaman Edan

Penulis: Nanik Purnawati | 16 Jun 2026 | Pengunjung: 22
Cover
Waras Di Zaman Edan

Malam ini udara terasa begitu panas. Keringat menetes tanpa henti meskipun tidak sbedang melakukan aktivitas yang berat. Entah karena cuaca yang sedang tidak menentu atau karena malam ini bertepatan dengan Malam 1 Sura yang bagi sebagian masyarakat Jawa memiliki nuansa dan aura tersendiri. Suasana malam yang hening membuat pikiran melayang pada banyak hal, seolah mengajak diri untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan dan merenungkan perjalanan hidup yang telah dilalui.

Di tengah perenungan tersebut, tiba-tiba teringat sebuah ungkapan Jawa yang sangat terkenal:

"Iki ngono jaman edan, nek ora melu ngedan ora keduman, sak beja-bejane wong lali isih beja sing eling lan waspada. Nanging sing luwih apik tetep sing duwe iman."

Ungkapan sederhana itu memiliki makna yang begitu dalam dan relevan hingga saat ini. Secara garis besar, kalimat tersebut menggambarkan kondisi zaman yang penuh dengan berbagai godaan dan tantangan. Di saat banyak orang berlomba-lomba mengejar kepentingan pribadi dengan berbagai cara, bahkan terkadang mengabaikan nilai-nilai moral dan agama, orang yang tetap berpegang teguh pada iman justru dianggap berbeda. Namun, pada akhirnya, imanlah yang menjadi pegangan paling berharga dalam menjalani kehidupan.

Pesan yang terkandung dalam ungkapan tersebut mengajarkan bahwa setiap langkah yang kita ambil hendaknya tidak dilakukan secara gegabah atau grusa-grusu dalam istilah Jawa. Dalam menjalani kehidupan, manusia perlu mempertimbangkan segala sesuatu dengan hati-hati, menggunakan akal sehat, serta mempertimbangkan baik dan buruk dari setiap keputusan yang akan diambil.

Pada hakikatnya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini telah berada dalam ketentuan dan kehendak Allah SWT. Manusia memang diwajibkan untuk berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap harus menyadari bahwa kemampuan setiap orang memiliki batas. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita bertindak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tanpa harus memaksakan diri atau tergoda untuk memperoleh sesuatu dengan cara yang tidak benar.

Di era modern seperti sekarang, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat. Berbagai kemudahan dapat dinikmati hanya melalui genggaman tangan. Informasi mengalir tanpa batas, peluang terbuka di mana-mana, dan berbagai bentuk kemajuan terus bermunculan. Namun di balik semua kemudahan tersebut, tersimpan pula berbagai tantangan yang tidak kalah besar.

Tidak sedikit orang yang akhirnya kehilangan arah dan terjebak dalam kepalsuan. Mereka terlena oleh gemerlap dunia dan menganggap bahwa kesempatan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, apa pun caranya. Bahkan, sebagian rela menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan, jabatan, kekuasaan, atau kesenangan sesaat. Kejujuran mulai dianggap sebagai kelemahan, sementara kelicikan sering kali dipandang sebagai kecerdikan.

Sungguh ironis. Demi memenuhi ego dan ambisi pribadi, sebagian orang tega melakukan hal-hal yang terkadang berada di luar nalar dan hati nurani. Mereka lupa bahwa setiap perbuatan akan membawa konsekuensi, baik di dunia maupun di akhirat. Padahal, kebahagiaan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar sering kali hanya bersifat sementara dan tidak pernah benar-benar menghadirkan ketenangan batin.

Kadang muncul pertanyaan dalam benak: mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Apakah karena khilaf, pengaruh lingkungan, atau memang karena manusia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya? Mungkin jawabannya berbeda-beda pada setiap orang. Namun satu hal yang pasti, manusia selalu dihadapkan pada pilihan antara mengikuti jalan yang benar atau menuruti keinginan yang sesaat.

Karena itulah, di tengah kehidupan yang semakin kompleks dan penuh godaan ini, iman menjadi benteng yang sangat penting. Iman mengajarkan kesabaran ketika menghadapi kesulitan, kejujuran ketika ada kesempatan untuk berbuat curang, serta rasa syukur ketika memperoleh nikmat dan keberhasilan. Dengan iman, seseorang akan lebih mampu mengendalikan diri dan tidak mudah terbawa arus zaman.

Malam 1 Sura ini menjadi pengingat bahwa hidup bukan sekadar tentang mengejar dunia. Ada nilai-nilai yang harus dijaga, ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan, dan ada kehidupan yang lebih kekal setelah dunia ini berakhir. Oleh sebab itu, yang terbaik adalah terus berusaha memperbaiki diri, memperkuat ketakwaan, serta senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pada akhirnya, segala sesuatu yang terjadi merupakan bagian dari kehendak-Nya. Tugas manusia adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, menjaga hati agar tetap lurus, serta menjalani kehidupan dengan penuh kebijaksanaan. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang tetap teguh memegang iman di tengah "zaman edan", sehingga memperoleh keselamatan, ketenangan, dan keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Komentar

Nurwahyudi 2026-06-16 08:52:32

Malam 1 Sura datang bagai embun yang membasuh debu jiwa. Mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan, sedang akhirat tujuan. Di antara riuh jaman edan, semoga iman tetap menyala, menuntun langkah menuju ridha-Nya, hingga hati berlabuh pada ketenangan dan keberkahan yang abadi.\r\n

← Kembali ke Daftar Artikel