Ketika malam terakhir bulan Desember menurunkan tirainya, langit seakan menjadi panggung raksasa bagi pesta yang tak pernah lelah diulang. Dentuman kembang api memecah keheningan, memercikkan warna-warna semu di dada malam. Jalan-jalan dipenuhi deru kendaraan, konser musik menggema hingga larut, sementara manusia berbondong-bondong menyambut kedatangan 1 Januari dengan sorak-sorai yang menggelegar. Ketika jarum jam menyentuh angka dua belas, manusia bersorak seakan telah menaklukkan waktu. Pergantian tahun Masehi seolah harus ditandai dengan keramaian, dengan ledakan kegembiraan yang kadang melampaui batas kewajaran.
Namun di balik gemerlap itu, terselip sebuah pertanyaan yang jarang diajukan. Apakah sesungguhnya yang begitu istimewa dari pergantian angka pada penanggalan? Tahun yang berlalu tidak dapat dipanggil kembali, sedangkan tahun yang datang belum tentu menjanjikan apa pun selain kemungkinan. Semestinya tidak pada tenggelam dalam euforia yang cepat padam bersama asap kembang api yang diterbangkan angin malam.
Pemandangan yang sangat berbeda hadir dalam tradisi Jawa ketika bulan Besar mencapai penghujungnya. Pada malam terakhir, tidak tampak pesta yang gemerlap. Tidak ada hiruk-pikuk yang memaksa langit bergetar. Tidak ada konvoi panjang yang mengular di jalanan. Bahkan secuil euforia berlebihan pun nyaris tak terlihat. Pergantian menuju 1 Sura berlangsung dalam suasana yang tenang, khidmat, dan penuh perenungan. Pergantian waktu menjadi jeda untuk menoleh ke belakang, menimbang jejak langkah yang telah ditempuh, menghitung kesalahan yang perlu diperbaiki, menimbang keberhasilan yang patut disyukuri, lalu menatap masa depan dengan keteguhan hati dan tekad yang diperbarui. Menyusun tekad dan resolusi, agar hari-hari yang akan datang memiliki arah yang lebih bermakna.
Dalam tradisi Jawa, datangnya 1 Sura justru mengundang suasana batin yang teduh. Malam itu bukan malam untuk menghamburkan kegembiraan, melainkan waktu untuk menundukkan kepala. Doa akhir tahun dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Welas Asih, memohon ampun atas segala khilaf yang telah lalu dan memohon tuntunan untuk hari-hari yang akan datang. Dalam keheningan itulah manusia diajak menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Sang Pencipta dan betapa terbatas umur yang telah dianugerahkan.
Bagi mayoritas masyarakat Jawa, datangnya 1 Sura bahkan sering disambut dengan laku prihatin. Ada yang berpuasa, berzikir, bertafakur, atau menjalani tirakat sebagai sarana membersihkan batin. Mengurangi kesenangan duniawi sebagai bentuk pengendalian diri. Kesunyian dipilih agar suara hati lebih terdengar. Keheningan dijaga agar manusia tidak lupa pada asal-usul dan tujuan hidupnya. Tahun baru bukan dipahami sebagai pesta kemenangan atas pergantian waktu, melainkan momentum untuk menyelami diri sendiri. Jika tahun baru Masehi kerap dirayakan dengan sorot cahaya yang memancar ke luar, maka tahun baru Jawa menghadirkan cahaya yang diarahkan ke dalam jiwa. Yang satu ramai oleh gemuruh dunia, sedangkan yang lain hening oleh suara nurani. Di antara keduanya, tersimpan dua cara berbeda dalam memaknai perjalanan waktu. Antara merayakan pergantian angka dan mensyukuri kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih berserah. Sebuah perjalanan batin menuju pribadi yang lebih arif, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta.
Komentar
Betapa indah ketika pergantian tahun tidak hanya dirasakan oleh mata yang melihat pesta, tetapi juga oleh hati yang belajar berserah karena Pada akhirnya, yang dikenang bukan seberapa meriah kita merayakan waktu, melainkan seberapa bijak kita menggunakannya.\"
Menurut keyakinan saya, dan bukan keyakinan orang lain, pergantian tahun itu terjadi pada 22 Desember tiap tahun, di mana berdasarkan siklus orbit bumi dan pandangan nisbi, matahari berada di titik balik selatan (TBS). \r\nDengan cara ini siklus penanggalan terjadi:\r\nBulan 1: 22 Desember - 21 Januari \r\nBulan 2: 22 Januari - 21 Februari \r\nBulan 3: 22 Februari - 21 Maret \r\nBulan 4: 22 Maret - 21 April\r\nBulan 5: 22 April - 21 Mei \r\nBulan 6: 22 Mei - 21 Juni\r\nBulan 7: 22 Juni - 21 Juli \r\nBulan 8: 22 Juli - 21 Agustus \r\nBulan 9: 22 Agustus - 21 September \r\nBulan 10: 22 September - 21 Oktober \r\nBulan 11: 22 Oktober - 21 November \r\nBulan 12: 22 November - 21 Desember \r\nAsumsi semacam ini mengacu pada fenomena cuaca dan iklim berdasarkan \"posisi matahari\" berdasarkan orbit bumi dan revolusinya.\r\nBukankah hal demikian juga menyangkut musim tanam, meski orang lain tak memahami asumsi saya.