Waspadalah para bapak ketika anda merasa telah menuntaskan tugas sebagai orang tua. Tugas yang saya maksud adalah mengantarkan anak-anak menuju gerbang kemandirian. Sebuah masa ketika mereka telah mampu mandi sendiri, mengenakan pakaian sendiri, mengambil makanan sendiri, pergi ke warung sendiri tanpa lagi merayu atau menggoda orang tuanya untuk membantu.
Sebab sesungguhnya, masa ketika anak-anak begitu bergantung kepada kita hanyalah sekejap saja, laksana embun pagi yang singgah di daun. Segera lenyap begitu tersapu sinar matahari. Datang tanpa rekayasa, tumbuh tanpa skenario, lalu perlahan menghilang ditelan waktu. Rengekan meminta dimandikan, disuapi, atau mengajak berjalan-jalan ke taman kota, yang dahulu terasa melelahkan, kelak akan dikenang sebagai nyanyian paling merdu dalam perjalanan hidup.
Tangisan yang meledak-ledak saat keinginannya tak terpenuhi, yang dulu menguji kesabaran, suatu hari justru terdengar seperti simfoni masa kecil yang tak mungkin diputar ulang. Ke mana pun kita melangkah, bayang-bayang anak yang polos, lugu, dan penuh tawa selalu mengikuti. Mereka memenuhi rumah dengan suara, mengisi hari dengan kesibukan, dan tanpa sadar menghidupkan jiwa kita.
Betapa banyak orang tua yang baru menyadari mahalnya masa itu setelah semuanya berlalu. Mereka menyesal karena tidak sempat menikmati sepenuhnya. Menyesal karena terlalu sibuk menghitung lelah, hingga lupa menghitung kenangan. Padahal masa itu hanya datang sekali seumur hidup. Tak ada kesempatan kedua. Sebelum sempat kita menggenggamnya erat, anak-anak telah tumbuh menjadi remaja.
Mereka tak lagi merengek meminta disuapi. Tak lagi menangis minta dimandikan. Tak lagi menarik tangan kita untuk membeli mainan yang mereka inginkan. Rumah menjadi lebih tenang, bahkan terkadang terlalu tenang. Dan di balik ketenangan itu, tersimpan ruang kosong yang dulu diisi oleh suara-suara kecil yang riuh dan menghangatkan.
Saat itulah banyak orang tua mencari kesibukan baru. Sebab manusia memang diciptakan untuk bergerak dan berkarya. Ada yang mulai mencintai burung-burung kicau, meski sebelumnya tak pernah tertarik. Sangkar-sangkar berjajar di teras, dan pagi-pagi dipenuhi nyanyian alam yang menenangkan. Hari-hari diisi dengan memberi pakan, membersihkan sangkar, hingga menghadiri kontes burung.
Ada pula yang jatuh hati pada tanaman hias. Halaman yang dahulu lapang berubah menjadi taman kecil yang penuh warna. Waktu berlalu bersama pupuk, gunting tanaman, dan dedaunan yang dirawat dengan penuh kasih. Semua menjadi kesibukan yang menyenangkan, meski kadang melelahkan.
Bahkan mungkin, pada fase ini, seseorang lebih pantas menjadi ketua RT atau ketua RW. Sebab telah memiliki waktu dan keluasan hati untuk mengabdi kepada masyarakat, sementara orang lain masih sibuk menyelesaikan tugas-tugas pengasuhan yang menyita tenaga dan perhatian.
Itulah contoh-contoh kompensasi yang indah. Namun tidak semua orang memilih jalan yang benar. Ada pula yang salah membaca kesunyian. Ketika rumah mulai sepi dan waktu luang semakin banyak, sebagian orang justru mencari pelarian yang keliru. Pandangan yang dulu terjaga mulai tergoda menoleh ke arah yang bukan haknya. Hati yang seharusnya dipenuhi syukur justru dipenuhi hasrat yang menyesatkan.
Apalagi ketika godaan itu datang dari seseorang yang mengalami kesunyian serupa. Bak gayung bersambut, keduanya merasa menemukan teman untuk mengusir kebosanan. Padahal tanpa disadari, mereka sedang menggali lubang yang suatu saat dapat menjatuhkan diri mereka sendiri.
Sesungguhnya, pada masa itulah tugas orang tua belum berakhir. Bahkan mungkin baru memasuki babak yang lebih berat. Saya menyebutnya sebagai babak keteladanan.
Pada babak ini, anak-anak yang telah tumbuh dewasa tidak lagi sekadar mendengar nasihat. Mereka mengamati kehidupan. Mereka membaca perilaku. Mereka menilai benar dan salah bukan hanya dari apa yang keluar dari mulut orang tuanya, tetapi juga dari apa yang mereka saksikan setiap hari.
Bagi mereka, orang tua adalah cermin pertama kehidupan. Orang tua adalah idola yang diam-diam mereka jadikan ukuran dalam memahami dunia. Karena itu, jangan pernah mengecewakan mereka. Jadilah pribadi yang pantas diteladani, bahkan ketika mereka sudah tidak lagi berada di samping kita.
Bukankah keberhasilan seorang bapak bukan hanya diukur dari seberapa jauh ia mampu mengantarkan anak-anaknya tumbuh, tetapi juga dari seberapa baik ia menjaga kehormatan dirinya hingga akhir usia?
Sebagaimana nasihat Ippho Santosa, “Jika ada pria yang berhasil, pasti ada wanita yang mendampinginya. Wanita itu adalah istrinya. Sebaliknya, jika ada pria yang gagal, pasti juga ada wanita yang mendampinginya. Wanita itu bukan istrinya.”
Maka ketika anak-anak telah selesai dengan masa bergantungnya, jangan merasa tugas telah usai. Sebab setelah babak pengasuhan berakhir, dimulailah babak yang lebih sunyi, lebih berat, dan lebih mulia. Menjadi teladan yang tak pernah usai.
Komentar
Luar biasa pak Agus bisa menjadi inspirasi dan tetap semangat dalam berkarya
Kapankah akan dikatakan berakhir sebagai tugas ..?\r\nSedangkan agama mengajarkan belajar atau menuntut ilmu TDK ada akhirnya. Dari ayunan sampai liang kubur. ????🙏👍👍
*Untuk Anakku Tercinta*\r\nArtis: Ebiet G. Ade\r\n\r\nHening, sepi di sekelilingku\r\nHanya terdengar nyanyian angin malam\r\nBetapa damai tinggal di dusun ini\r\nMengalirlah segala getar cinta kasih\r\nSesekali ingin kuajak engkau datang\r\nmenikmati rembulan bersinar\r\n\r\nBening, polos bola matamu\r\nmembasuh segala luka di dalam jiwa\r\nEngkau yang hadir bersama kesegaran\r\nseperti salju turun di musim dingin\r\nSegera engkau dapat dengar nyanyian alam\r\ndi dusun ini semua indah, tenteram\r\n\r\nCintaku terhadap negeri ini akan kuturunkan padamu\r\nSemburat sinar merah keemasan,\r\ngugusan senja di batas cakrawala\r\nMarilah kutunjukkan agung tanah leluhur, anakku\r\n\r\nSenyap bagai dibasuh embun\r\nMusik pepohonan mengiring istirah\r\nMarilah bersamaku pejamkan mata\r\nMengembara hanya sekedar\r\npertimbangan\r\nKembali dan peluklah tanah pusakamu\r\nDi dusun ini mestinya bersemi cintamu\r\n\r\nCintaku terhadap negeri ini akan kuturunkan padamu\r\nSemburat sinar merah keemasan,\r\ngugusan senja di batas cakrawala\r\nMarilah kutunjukkan agung tanah leluhur, anakku\r\n\r\nUntuk anakku tercinta\r\n\r\n\r\nhttps://youtu.be/QdZaQZPH46w?si=ACxfqL0IqJai5oLm\r\n\r\nKali ini saya sampaikan salah satu tembang \"Untuk Anakku Tercinta\" karya Ebiet G. Ade. Semoga hal ini jadi bagian keteladanan kita bagi anak-anak kita.\r\n🙏😊
*Untuk Anakku Tercinta*\r\nArtis: Ebiet G. Ade\r\n\r\nHening, sepi di sekelilingku\r\nHanya terdengar nyanyian angin malam\r\nBetapa damai tinggal di dusun ini\r\nMengalirlah segala getar cinta kasih\r\nSesekali ingin kuajak engkau datang\r\nmenikmati rembulan bersinar\r\n\r\nBening, polos bola matamu\r\nmembasuh segala luka di dalam jiwa\r\nEngkau yang hadir bersama kesegaran\r\nseperti salju turun di musim dingin\r\nSegera engkau dapat dengar nyanyian alam\r\ndi dusun ini semua indah, tenteram\r\n\r\nCintaku terhadap negeri ini akan kuturunkan padamu\r\nSemburat sinar merah keemasan,\r\ngugusan senja di batas cakrawala\r\nMarilah kutunjukkan agung tanah leluhur, anakku\r\n\r\nSenyap bagai dibasuh embun\r\nMusik pepohonan mengiring istirah\r\nMarilah bersamaku pejamkan mata\r\nMengembara hanya sekedar\r\npertimbangan\r\nKembali dan peluklah tanah pusakamu\r\nDi dusun ini mestinya bersemi cintamu\r\n\r\nCintaku terhadap negeri ini akan kuturunkan padamu\r\nSemburat sinar merah keemasan,\r\ngugusan senja di batas cakrawala\r\nMarilah kutunjukkan agung tanah leluhur, anakku\r\n\r\nUntuk anakku tercinta\r\n\r\n\r\nhttps://youtu.be/QdZaQZPH46w?si=ACxfqL0IqJai5oLm\r\n\r\nKali ini saya sampaikan salah satu tembang \"Untuk Anakku Tercinta\" karya Ebiet G. Ade. Semoga hal ini jadi bagian keteladanan kita bagi anak-anak kita.\r\n🙏😊
Menjadi teladan adalah bentuk cinta yang terus hidup sepanjang usia. Ketika anak sudah besar, tugas mengasuh memang berkurang, tetapi tugas memberi contoh yang baik tidak pernah selesai.
Betul pak..rumah terasa sunyi saat anak2 mulai\r\n berproses menata masa depannya....sebagai pelariannya kdang ortu mencari kesibukan baru yg positif