Tertinggal 128 Tahun

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 31 May 2026 | Pengunjung: 59
Cover
Kado menjelang HUTRI ke 81, "Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju."
Negara tercinta ini setiap 17 Agustus sibuk menyalakan api patriotisme guna mempertebal kecintaan tanah air di kalangan warganya di satu sisi. Di sisi lain, pendidikan berjalan seperti seorang pengembara renta yang memikul ransel penuh cita-cita, tetapi kakinya terikat oleh tali yang dibuatnya sendiri. Menurut penelitian Harvard University pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun dibandingkan negara-negara maju, dihitung dari tahun 1945. Angka itu berdiri seperti menara sunyi di tengah lapangan sejarah. Lebih mencengangkan lagi, negeri yang merdeka pada tahun 1945 itu baru menempuh usia 81 tahun, namun jarak yang menganga di hadapannya justru mencapai 128 tahun. Seakan-akan waktu berlari lebih cepat di tempat lain, sementara di sini berjalan tertatih di jalan yang berlumpur.

Keterlambatan itu bukan semata soal angka. Melainkan sebuah kisah panjang tentang kompas yang berkali-kali diganti ketika kapal masih berada di tengah samudra. Kurikulum datang dan pergi seperti musim yang tak sempat dikenali pohon-pohon. Setiap pergantian membawa janji baru, membawa bahasa baru, membawa istilah-istilah yang terdengar megah di ruang rapat dan lembar dokumen. Namun di ruang kelas yang dindingnya mulai kusam, guru dan murid sering kali hanya menjadi penonton dari perubahan yang tak benar-benar mereka pahami.

Guru-guru baru saja belajar memahami satu kurikulum, ketika kabar datang bahwa arah telah berubah, maka mereka kembali membuka buku petunjuk, kembali mengikuti pelatihan, kembali menyesuaikan langkah. Seperti petani yang berkali-kali diminta mengganti benih, tetapi tidak pernah diberi kesempatan melihat panen. Pendidikan pun akhirnya kehilangan kesinambungan. Yang tumbuh bukan keyakinan, melainkan kebiasaan untuk selalu memulai dari awal.

Lebih menyedihkan lagi ketika pergantian itu tidak menunjukkan arah yang nyata. Untuk apa diganti? Pertanyaan sederhana itu menggantung di udara seperti lampu yang redup. Jika tujuan akhirnya kabur, maka perubahan hanya menjadi perpindahan dari satu nama ke nama lain. Kapal terus bergerak, tetapi tak seorang pun yakin ke pelabuhan mana sedang dituju. Energi habis untuk memperbaiki layar, sementara peta perjalanan tak pernah benar-benar selesai digambar.

Di sisi lain, kurikulum sering lahir dengan cita-cita yang indah. Berbicara tentang kreativitas, inovasi, keterampilan abad baru, dan kemampuan berpikir kritis. Namun cita-cita itu kerap berdiri sendirian seperti istana yang dibangun di atas pasir. Sarana untuk mewujudkannya tidak selalu hadir. Di banyak tempat, buku kurang memadai, laboratorium hanya menjadi nama, akses teknologi masih menjadi kemewahan, dan ruang belajar kadang lebih mirip tempat bertahan daripada tempat bertumbuh.

Maka terjadilah paradoks yang sunyi. Negeri ini ingin anak-anaknya berlari, tetapi tidak semua diberi sepatu. Ingin mereka menjelajah dunia digital, tetapi tidak semua memiliki jendela untuk melihatnya. Kurikulum menjadi puisi yang indah di atas kertas, sementara kenyataan di lapangan berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Lalu ada kisah lain yang tak kalah penting. Tentang mereka yang dipersiapkan menjadi guru. Di fakultas-fakultas keguruan, tidak semua mahasiswa datang dengan panggilan hati untuk mengajar. Menurut penelitian Harvard University bahwa hanya 11% yang benar-benar ingin
mengabdi sebagai guru, sementara yang lain memilih jalur itu karena berbagai alasan yang tidak selalu berhubungan dengan cita-cita pendidikan. Akibatnya, profesi yang seharusnya menjadi ladang pengabdian sering kali hanya menjadi persinggahan sementara.

Padahal guru adalah mata air. Dari tangannya mengalir pengetahuan, karakter, dan harapan. Jika mata air itu tidak dijaga, sungai peradaban akan kehilangan kejernihannya. Bangunan sekolah dapat diperbaiki, kurikulum dapat ditulis ulang, teknologi dapat dibeli, tetapi semangat seorang guru tidak dapat diproduksi di pabrik mana pun.

Pendidikan bukan sekadar soal mengejar ketertinggalan angka demi angka. Pendidikan adalah upaya menemukan kembali arah, memberi makna pada perubahan, menyediakan sarana yang nyata, dan memuliakan mereka yang mengajar. Sebab kemajuan pendidikan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa sering mengganti kurikulum, melainkan dari seberapa jauh mampu berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai.

Selama masih ada anak-anak yang datang ke sekolah dengan mata penuh mimpi, berarti masih ada harapan bahwa jarak yang panjang itu suatu hari dapat dipersingkat dengan kesungguhan, ketekunan, kebijaksanaan, dan keberanian untuk belajar dari masa lalu. Semoga.

Komentar

Ari Iskandar 2026-06-02 08:35:09

Selama masih ada anak-anak yang datang ke sekolah dengan mata penuh mimpi, berarti masih ada harapan bahwa jarak yang panjang itu suatu hari dapat dipersingkat dengan kesungguhan, ketekunan, kebijaksanaan, dan keberanian untuk belajar dari masa lalu. Semoga.\r\nAmiiiin ya rob

Nanik P 2026-05-31 12:38:29

Sangat sepakat. Pendidikan kita lelah karena selalu dipaksa mulai dari awal setiap ganti kebijakan. Kita butuh kompas yang konsisten, bukan sekadar ganti nama kurikulum di atas kertas.\"

Nanik P 2026-05-31 12:38:22

Sangat sepakat. Pendidikan kita lelah karena selalu dipaksa mulai dari awal setiap ganti kebijakan. Kita butuh kompas yang konsisten, bukan sekadar ganti nama kurikulum di atas kertas.\"

← Kembali ke Daftar Artikel