Di ruang Laboratorium IPA yang biasanya dipenuhi aroma buku, serbuk kapur barus, dan percobaan-percobaan yang menuntut ketelitian, hari itu suasana berubah pelan-pelan menjadi sesuatu yang lebih hidup. Meja-meja yang biasa menjadi tempat tabung reaksi dan mikroskop berdiri kini dipenuhi lembaran lirik, suara langkah kaki, dan debar kecil dari orang-orang yang sedang belajar menyatukan nada. Dinding-dinding yang biasanya mendengar rumus dan teori, sore itu mendengarkan suara manusia yang sedang mencari iramanya sendiri.
Kemarin, tim paduan suara bersama OSIS menjalani latihan untuk persiapan acara pelepasan kelas 9. Musik mulai diputar, mengalun lembut seperti arus yang perlahan menghidupkan ruangan. Tiga lagu dipersiapkan untuk hari perpisahan nanti :
“Slamat Jalan Untuk Kakakku,” “Semua Tentang Kita,” dan “Surat Cinta Untuk Guruku.” Masing-masing membawa rasa yang berbeda. Ada perpisahan yang diam-diam menggetarkan hati, ada kenangan yang tumbuh dari kebersamaan, dan ada penghormatan yang lahir dari rasa terima kasih yang tulus. Ketiganya seperti potongan emosi yang kelak akan dipertemukan dalam satu panggung, di bawah cahaya yang sama.
Namun latihan pertama tidak langsung menghadirkan harmoni yang indah. Nada-nada masih terdengar berjalan sendiri-sendiri. Ada suara yang terlalu cepat, ada yang tertinggal, ada yang belum menemukan tinggi rendah nada dengan tepat. Sesekali terdengar tawa kecil ketika seseorang salah masuk tempo, atau ketika satu bagian terdengar lebih keras daripada yang lain. Semua masih mencari keseimbangan. Tetapi justru di situlah makna latihan itu berada.
Di balik suara yang belum selaras, sebenarnya sedang berlangsung proses yang jauh lebih penting, yaitu belajar mendengar. Sebab harmoni tidak lahir dari suara yang ingin paling menonjol, melainkan dari kesediaan untuk saling menyesuaikan diri. Setiap orang belajar menahan ego nadanya sendiri agar dapat bertemu dengan nada orang lain. Perlahan-lahan, mereka belajar bahwa menyanyi bersama bukan hanya soal membuka suara, melainkan tentang memahami kapan harus menguat dan kapan harus melembut.
Sebagai pembina, kami mencoba mengarahkan semuanya dengan sabar. Memperhatikan bagian demi bagian, membenahi nada yang meleset, mengulang tempo yang belum tepat, lalu mencoba lagi. Kadang satu bait harus dinyanyikan berkali-kali sampai akhirnya terdengar lebih utuh. Melelahkan memang, tetapi di sanalah proses itu bekerja. Pelan, tidak instan, namun perlahan membentuk keselarasan.
Setelah satu sesi latihan selesai, ruangan sempat hening beberapa detik. Lalu tiba-tiba salah satu anak berkata sambil tertawa kecil :
“Ternyata nyanyi itu sulit ya.”
Kalimat sederhana itu justru terdengar begitu jujur.
Sebab benar, menyanyi memang tidak sesederhana mengeluarkan suara atau sekadar berteriak mengikuti irama. Di dalamnya ada ketelitian untuk menjaga nada, ada pendengaran yang harus peka, ada kesabaran untuk terus mencoba, dan ada kemampuan untuk menyatu dengan musik maupun dengan orang lain. Menyanyi adalah proses menyelaraskan diri antara hati, suara, dan kebersamaan. Dan bukankah seni memang selalu begitu?
Seperti menulis yang membutuhkan kejujuran pikiran, atau menari yang membutuhkan keselarasan gerak dan rasa, menyanyi pun menjadi cara manusia mengekspresikan dirinya. Menyanyi adalah jembatan antara apa yang dirasakan di dalam hati dengan apa yang ingin disampaikan kepada dunia. Kadang ada kesedihan yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata, tetapi dapat dipahami melalui sebuah lagu. Kadang ada rasa syukur yang terlalu dalam untuk diucapkan, lalu memilih hidup melalui nada. Yang perlu diingat bahwa tidak ada harmoni yang lahir secara instan.
Karena itu, rasanya kurang tepat jika seni, termasuk menyanyi dipandang hanya sebagai hiburan kosong, bahkan dianggap melenceng dari nilai-nilai luhur dan kesakralan agama. Bukankah setiap manusia diciptakan dengan bakat dan minat yang berbeda-beda? Ada yang diberi kemampuan berbicara, ada yang pandai menulis, ada yang mampu menggambar, dan ada pula yang mampu menyampaikan perasaan melalui suara. Semua itu adalah bagian dari warna kehidupan yang membuat manusia saling melengkapi. Yang seharusnya tumbuh bukanlah prasangka, melainkan penghargaan. Dengan seni manusia berusaha meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Indah.
Perlu menghargai setiap bakat, setiap profesi, dan setiap cara manusia mengekspresikan dirinya. Sebab tidak semua orang hadir untuk menjadi nada yang sama. Ada yang menjadi melodi utama, ada yang menjadi suara latar, ada yang menjaga tempo, dan ada pula yang menghidupkan suasana. Namun justru karena perbedaan itulah sebuah lagu dapat terdengar indah.
Pada akhirnya, manusia memang seperti nada-nada yang sedang belajar menyatu. Tidak selalu sempurna, kadang masih sumbang, kadang belum menemukan irama yang tepat. Tetapi selama terus belajar mendengar, memahami, dan berjalan bersama, perlahan-lahan kita akan menemukan harmoni itu. Harmoni yang tidak hanya terdengar indah dan utuh, tetapi juga bermakna.
Komentar
Semua punya irama. Dari denyut jantung, degup napas, soal rêjêki bahkan keimanan kepada sang Pencipta pun naik turun sebagai nada kehidupan. Mengalir tak terpikir. Saat berkaca baru menemukan makna paling dalam.