Dari Ebtanas Hingga TKA

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 15 May 2026 | Pengunjung: 49
Cover
Di lorong-lorong sekolah yang awalnya pernah dipenuhi bau kapur tulis dan suara sepatu karet berderap di lantai semen, waktu berjalan dengan nama-nama yang terus berubah. Generasi demi generasi datang dan pergi, membawa tas kain, buku lusuh, dan mimpi-mimpi yang belum selesai diterjemahkan. Namun di atas semua itu, ada satu hal yang selalu hadir seperti bayang-bayang panjang yaitu penilaian atas belajar siswa.

Pada tahun-tahun ketika Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) masih menjadi penanda akhir perjalanan sekolah, suasana pendidikan terasa lebih tenang, nyaris seperti sungai yang mengalir tanpa gaduh. Ebtanas, yang berlangsung sejak 1980 hingga 2002, melahirkan Danem, Daftar Nilai Ebtanas Murni. Angka-angka yang menentukan jalan seorang anak menuju sekolah berikutnya. Dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA. Nilai itu diumumkan terbuka, terpampang apa adanya, di papan pengumuman Penerimaan Siswa Baru. Sulit dicurangi, diterima sebagai bagian dari takdir belajar yang harus dijalani dengan lapang dada.

Aneh namun nyata, masa itu tidak dipenuhi ledakan emosi saat kelulusan tiba. Tahun ajaran baru datang seperti pergantian musim : sederhana, biasa saja. Anak-anak tetap tertawa di lapangan sekolah, guru tetap menjadi sosok yang dihormati tanpa rasa takut berlebihan. Tidak ada arak-arakan liar yang membelah jalan kota, tidak ada baju seragam yang dicoret seakan sedang merayakan runtuhnya sebuah rezim penindas.

Lalu waktu bergerak.

Pada tahun 2003, nama Ebtanas berubah menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN). Pergantian nama itu tampak sederhana, tetapi diam-diam mengubah wajah sekolah. Nilai ujian tidak lagi sekadar menjadi tiket menuju jenjang pendidikan berikutnya, melainkan menjadi penentu kelulusan. Sejak itulah ruang-ruang kelas perlahan kehilangan sebagian kehangatannya.

Belajar tidak lagi sepenuhnya dimaknai sebagai perjalanan memahami dunia, melainkan perjuangan mempertahankan harga diri di hadapan angka-angka. Anak-anak mulai belajar dalam kecemasan. Di meja belajar mereka, malam-malam dipenuhi ketakutan gagal. Guru-guru berubah menjadi penjaga gerbang kelulusan. Orang tua menyimpan harapan seperti beban berat di pundak anak-anak mereka.

Sekolah, yang semestinya menjadi taman pertumbuhan jiwa, perlahan terasa seperti ruang penghakiman.

Ketika pengumuman kelulusan tiba, suka cita meledak berlebihan. Seragam dicorat-coret, jalanan dipenuhi pawai kendaraan, teriakan kemenangan menggema seperti bangsa yang baru saja terbebas dari penjajahan panjang. Bahkan tawuran kerap menjadi ujung dari euforia itu. Seolah-olah lulus dari sekolah bukan sekadar menyelesaikan pendidikan, melainkan berhasil membebaskan diri dari tekanan yang selama bertahun-tahun menyesakkan dada.

Barangkali di situlah letak luka yang tak pernah benar-benar dibicarakan.

Mengapa anak-anak tidak menikmati masa sekolah mereka? Mengapa masa yang seharusnya menjadi kenangan paling indah justru terasa seperti kurungan? Mengapa setelah keluar dari gerbang sekolah, sebagian dari mereka berubah liar, brutal, dan kehilangan kesantunan?

Mungkin karena terlalu lama mereka hidup di bawah rasa takut.

Takut tidak lulus.
Takut mengecewakan orang tua.
Takut dianggap bodoh.
Takut tertinggal dari teman-temannya.

Ketakutan yang dipelihara bertahun-tahun dapat berubah menjadi amarah yang tak menemukan bahasa. Maka ketika belenggu itu lepas, ledakannya menjelma corat-coret, konvoi, bahkan kekerasan. Dalam batin yang paling sunyi, mereka merasa pernah ditindas oleh sistem yang mengukur manusia hanya melalui deretan angka yang diraih hanya dalam beberapa hari saja. Perjuangan bertahun-tahun tak ada nilainya.

Padahal ironisnya, menjelang ujian mereka tetap datang kepada guru-guru dengan wajah penuh harap. Mereka menyalami tangan guru, meminta doa restu dengan santun, seolah di hati kecil mereka masih tersisa keyakinan bahwa sekolah adalah rumah kedua. Kontras itu begitu memilukan. Hormat sebelum ujian, liar setelah kelulusan.

Pada tahun 2005, nama itu berubah lagi menjadi Ujian Nasional (UN). Fungsinya nyaris tetap sama. Tahun demi tahun berlalu dengan tekanan yang masih terasa di ruang-ruang kelas. Hingga akhirnya pada 2015, UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Sekolah diberi kewenangan menentukan nasib siswanya sendiri. Meski demikian, UN tetap dilaksanakan sampai 2020, seperti gema panjang dari masa lalu yang belum benar-benar usai.

Kemudian datang Asesmen Nasional pada 2021. Sistem baru diperkenalkan, yaitu asesmen kompetensi minimum, survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Pendidikan mulai mencoba melihat manusia bukan hanya dari hasil ujian, tetapi juga dari watak dan suasana tempat ia tumbuh.

Dan pada 2025, nama baru kembali lahir. Tes Kemampuan Akademik (TKA). Di SMP hanya matematika dan Bahasa Indonesia yang diuji. Di SMA dan SMK ditambah Bahasa Inggris serta dua mata pelajaran pilihan.

Nama terus berganti seperti musim yang tak pernah berhenti. Dari Ebtanas hingga TKA, sejarah pendidikan berjalan membawa harapan dan kegelisahan sekaligus. Namun sesungguhnya, fungsi semua itu tetap sama, mengukur ketercapaian belajar siswa.

Hanya satu pertanyaan yang masih menggantung di langit-langit pendidikan kita. Apakah manusia benar-benar dapat diukur sepenuhnya oleh angka?

Komentar

Nanik P 2026-05-16 09:29:40

Perubahan sistem ujian ternyata bukan hanya soal kebijakan pendidikan, tetapi juga tentang perubahan cara anak-anak memaknai sekolah, tekanan, dan masa depan mereka. Mengingatkan kita bahwa pendidikan seharusnya tidak sekadar mengejar angka, melainkan juga menjaga tumbuhnya jiwa dan kemanusiaan siswa.

Kusfandiari 2026-05-15 21:00:57

Tahun Ajaran 1982/1983, tahun ketiga saya mengabdi di SMPN 3 Ngawi. Waktu itu gedung sekolah ini masih \"nebeng\" di pojok barat daya rumah sakit Dr. Soeroto, Jalan Dr. Wahidin. Kelima SMPN bergabung dalam satu sekretariat, yaitu di SMPN 1 Ngawi.\r\nAda aturan \"babok\" soal EBTANAS sudah disediakan oleh pusat. Guru vak yang ditugasi dikarantina untuk menyusun soal. Setiap mata pelajaran ada ratusan soal. Guru yang dikarantina bertugas \"mithati\" soal-soal mana yang \"pantas\" diketik dan ditetapkan sebagai soal EBTANAS reguler. Tidak sampai semalam selesai.\r\nHal yang membanggakan, kami bertiga berdasarkan yang saya ingat: saya, Pak Hadi Santosa (HS), dan Pak Noorsofyan (NS, alm.) menyelesaikan tanpa beban sekaligus sangat menyimpan rahasia. Perkara penggandaan soal itu urusan para kepala sekolah.\r\nHasil EBTANAS nyatanya terbilang bersih dan sangat memuaskan.\r\nPada tahun 1984 SMPN 3 Ngawi pindah ke Watualang karena memang memperoleh lahan prasarana di sana. Tahun 1986 tepatnya, Tahun Ajaran 1986/1987 saya mutasi di SMPN 1 Pangkur hingga purna tugas. Tentu saya pun mengalami praktik pembelajaran berdasarkan kurikulum yang beragam yang berlaku. Para siswa yang saya hadapi umurnya sama, sedangkan saya semakin tua. Dinamika pembelajaran yang semakin kompleks. Dan memang sudah selayaknya saya pensiun. Zaman memang sudah berubah, seperti yang kita hayati bersama saat ini. Quo vadis memang. Vivere pericoloso!

← Kembali ke Daftar Artikel