Dunia Yang Terampas

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 12 May 2026 | Pengunjung: 47
Cover
Di sebuah pagi yang masih basah oleh embun, seorang anak duduk di halaman rumah sambil menggambar matahari dengan ranting di atas tanah. Ia tertawa sendiri ketika garis-garisnya melengkung tak beraturan. Angin meniup rambutnya, burung-burung kecil berkicau di atap, dan dunia terasa begitu luas sekaligus sederhana. Pada usia itu, hidup belum mengenal angka-angka rapor, belum mengenal kecemasan tentang prestasi, belum pula mengenal perlombaan menjadi yang paling pandai. Yang ada hanyalah bermain, cara paling purba manusia mengenal semesta.

Para filsuf kebudayaan Eropa menyebut manusia sebagai Homo Ludens, makhluk yang bermain. Gagasan yang dipopulerkan Johan Huizinga itu sesungguhnya bukan sekadar teori tentang permainan, melainkan pengakuan bahwa kebudayaan manusia lahir dari ruang bermain. Dalam permainan, manusia belajar mencipta, mengenal aturan, memahami kebersamaan, bahkan membangun peradaban. Sebelum menulis hukum, manusia telah bermain peran. Sebelum mendirikan sekolah, manusia telah belajar melalui nyanyian, cerita, dan tawa.

Karena itulah, di banyak negara maju Eropa, anak-anak tidak diburu membaca atau berhitung sebelum usia 7 tahun. Masa kanak-kanak dibiarkan mengalir seperti sungai kecil yang jernih. Mereka berlari di taman, mendengar dongeng sebelum tidur, bernyanyi bersama guru, menyusun balok warna-warni, atau bermain lumpur tanpa dimarahi. Bahasa diperkenalkan secara halus melalui cerita dan percakapan sehari-hari. Literasi tumbuh seperti pohon yang akarnya ditanam diam-diam di bawah tanah. Ketika tiba usia sekolah, mereka telah selesai dengan dunia bermain. Jiwa mereka matang memasuki dunia berpikir, menjadi Homo Sapiens yang siap menyelami pengetahuan tanpa merasa dipaksa.

Namun di negeri ini, masa kecil sering kali diperlakukan seperti perlombaan yang tergesa-gesa. Anak-anak baru siap belajar menyebut warna, tetapi sudah diminta menghafal huruf. Mereka baru mengenal suara hujan, tetapi telah dijejali angka-angka. Seorang anak berusia 3 tahun yang mampu membaca dianggap keajaiban keluarga. Orang tua tersenyum bangga, seakan masa depan telah selesai dimenangkan hanya karena si kecil dapat mengeja kata-kata sebelum waktunya.

Padahal mungkin, pada saat itu, jiwa anak belum selesai bermain.
Kita kerap lupa bahwa bermain bukan lawan dari belajar. Bermain adalah jalan alami menuju belajar. Ketika masa bermain dirampas terlalu dini, anak kehilangan ruang untuk tumbuh secara utuh. Mereka dipaksa memasuki dunia berpikir sebelum batinnya siap. Akibatnya, ketika duduk di bangku sekolah, mereka justru ingin kembali kepada dunia yang pernah direbut dari mereka yaitu dunia bermain.

Maka ruang kelas sering berubah menjadi tempat kebosanan. Buku terasa seperti beban. Huruf-huruf tampak dingin dan tidak bersahabat. Guru berbicara di depan kelas, tetapi pikiran murid melayang ke lapangan, ke permainan, ke gawai, ke segala hal yang lebih hidup daripada lembar-lembar pelajaran. Literasi gagal menjadi kebutuhan batin karena sejak awal diperkenalkan sebagai tekanan, bukan kegembiraan.

Betapa menyedihkan ketika UNESCO pernah mencatat rendahnya minat baca anak-anak Indonesia. Dari 1000 anak usia sekolah, hanya 1 anak yang benar-benar gemar membaca. Angka itu bukan sekadar statistik, namun lebih dari cermin yang memantulkan wajah pendidikan kita sendiri. Sebuah bangsa yang anak-anaknya jauh dari buku sedang berjalan perlahan menuju kehilangan daya pikirnya.

Negara-negara maju memahami bahwa membaca bukan hanya keterampilan akademik, melainkan kebiasaan kebudayaan. Buku hadir di rumah-rumah, di taman kota, di kendaraan umum, di ruang tunggu, bahkan di kafe-kafe kecil. Anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa membaca adalah bagian dari hidup, sebagaimana makan dan bernapas. Orang tua membaca, guru membaca, lingkungan menghargai pengetahuan. Literasi hidup bukan sebagai slogan, melainkan sebagai denyut keseharian.

Sedangkan kita masih sering sibuk memuja hasil tanpa memelihara proses. Kita ingin anak cerdas, tetapi enggan menyediakan ruang membaca di rumah. Kita bercita-cita menjadi negara maju, tetapi perpustakaan sekolah dibiarkan sunyi. Kita memimpikan generasi emas, tetapi anak-anak lebih akrab dengan layar hiburan daripada halaman buku.

Barangkali pertanyaan terbesar bukanlah apakah bangsa ini mampu menjadi maju. Pertanyaan sesungguhnya adalah : Maukah kita menghormati kodrat anak sebagai manusia yang bermain sebelum menjadi manusia yang berpikir? Homo Ludens sebelum Homo Sapiens.

Sebab sebuah bangsa yang besar tidak dibangun hanya oleh gedung-gedung tinggi atau jalan-jalan yang megah. Melainkan dibangun dari anak-anak yang mencintai pengetahuan, dari keluarga yang memuliakan buku, dan dari masyarakat yang memahami bahwa masa kecil bukan ladang ambisi, melainkan taman tempat jiwa bertumbuh perlahan.

Komentar

Nanik P 2026-05-13 06:58:51

Tulisan yang menampar dengan halus. Kita terlalu sering mengejar anak menjadi pintar, tetapi lupa menumbuhkan kegembiraan belajar dalam hidup mereka. Padahal budaya literasi tidak lahir dari paksaan, melainkan dari teladan, ruang yang hangat, dan masa kecil yang diberi kesempatan untuk bermain serta bertumbuh.”

Nanik P 2026-05-13 06:58:39

Tulisan yang menampar dengan halus. Kita terlalu sering mengejar anak menjadi pintar, tetapi lupa menumbuhkan kegembiraan belajar dalam hidup mereka. Padahal budaya literasi tidak lahir dari paksaan, melainkan dari teladan, ruang yang hangat, dan masa kecil yang diberi kesempatan untuk bermain serta bertumbuh.”

Kusfandiari 2026-05-12 21:56:32

Gara-gara Simbah menyuruh saya membuatkan surat yang ditujukan kepada Tante\r\nGara-gara saya disuruh guru menyalin empat paragraf. Yang sudah selesai lengkap boleh pulang. Saya menyerahkan tulisan saya kepada guru. Guru tahu bahwa tulisan saya tak lengkap. Dari paragraf 2 melompat ke paragraf 4. Saya diperbolehkan pulang.\r\nGara-gara saya menulis cerita yang bergenre fantasi fiksi ilmiah melampaui bayangan guru.\r\nGara-gara nilai mapel Bahasa Indonesia saya tidak pernah mendapat nilai lebih dari 5.\r\nGara-gara saya diminta menjadi guru Bahasa Indonesia padahal vak saya di keterampilan.\r\nSemua saya lalui dengan segala ragam dinamika.\r\nSaya mesti belajar dengan membaca dan membaca materi pelajaran yang relevan.\r\nSaya menebus segala kekurangan yang saya alami di masa lalu.\r\nSaya mesti berliterasi. Random. Tak peduli produk macam apa yang mesti saya hasilkan. Yang penting tulisan.

← Kembali ke Daftar Artikel