Anak Polah, Bapa Kepradhah
Kasih Orang Tua Tak Pernah Usai
Seminggu yang lalu, kami rombongan ibu-ibu yang tergabung dalam Senam Sehat Jamiyah As’ Sami pergi ke Tawun untuk mengikuti senam bersama dengan naik Tayo. Sepanjang perjalanan, suasana terasa begitu hangat. Para ibu saling bercengkerama, ngobrol ngalor-ngidul, diselingi tawa yang membuat perjalanan terasa singkat dan menyenangkan.
Di tengah obrolan itu, ada satu kalimat yang sampai sekarang masih teringat dalam benak saya, yaitu: “Anak polah, bapa kepradhah.”
Kalimat sederhana dalam bahasa Jawa itu ternyata menyimpan makna yang begitu dalam.
Saat itu, salah satu ibu berkata bahwa setelah anak menikah, katanya orang tua sudah “mungkur tanggung jawab”. Namun kenyataannya justru tidak demikian. Setelah anak berkeluarga, orang tua tetap ikut memikirkan kehidupan anak-anaknya. Bahkan sering kali mereka ikut merasakan beban dan kesulitan yang sebenarnya bukan lagi tanggung jawab mereka sepenuhnya. Saya pun ikut tersenyum mendengar obrolan tersebut.
Sejak kecil, istilah “Anak polah, bapa kepradhah” memang sudah sering saya dengar dari orang-orang tua di sekitar. Dulu saya hanya menganggapnya sebagai nasihat biasa. Namun seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, perlahan saya mulai memahami arti yang sesungguhnya. Polah merujuk pada perbuatan, kepradhah berarti menanggung. Apa pun perbuatan yang dilakukan seorang anak, baik ataupun buruk, pada akhirnya orang tua akan ikut menanggung atau merasakan. Kebahagiaan anak menjadi kebahagiaan orang tua. Sebaliknya, kesedihan anak pun menjadi luka dalam hati mereka.
Perjuangan orang tua sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum seorang anak lahir ke dunia. Seorang ibu harus melewati masa mengandung dengan segala rasa lelah, mual, sakit, dan cemas. Bahkan saat melahirkan, nyawa menjadi taruhannya. Semua dijalani dengan penuh keikhlasan demi hadirnya seorang anak yang kelak menjadi harapan hidup mereka.
Setelah anak lahir, kasih sayang orang tua tercurah tanpa batas. Tangisan anak membuat mereka khawatir, sedangkan senyum kecil anak mampu menghapus rasa lelah mereka. Orang tua rela begadang ketika anak sakit, rela menahan keinginan pribadi demi kebutuhan anak, bahkan rela berkorban apa pun agar anak tumbuh dengan baik.
Tidak ada hitungan untung dan rugi dalam kasih sayang orang tua. Semua dilakukan dengan tulus.
Hari demi hari berlalu. Anak mulai tumbuh besar dan memasuki bangku sekolah. Di sinilah tanggung jawab orang tua semakin berat. Mereka memikirkan biaya pendidikan, kebutuhan sekolah, hingga masa depan anak-anaknya. Tidak sedikit orang tua yang bekerja lebih keras dan hidup sederhana agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak.
Harapan mereka sederhana: melihat anak-anaknya hidup lebih baik dan lebih bahagia dibanding kehidupan yang pernah mereka jalani.
Namun ternyata perjuangan orang tua tidak berhenti ketika anak menyelesaikan pendidikan. Saat anak mulai memasuki kehidupan dewasa, orang tua tetap memikirkan banyak hal. Mereka cemas ketika anak belum mendapatkan pekerjaan, sedih saat melihat anak mengalami kegagalan, dan terus memikirkan masa depan serta jodoh anak-anaknya.
Kadang hati orang tua terasa seperti teriris ketika melihat anak menghadapi kesulitan hidup. Meski tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata, dalam diam mereka terus memanjatkan doa agar anak-anaknya diberi kemudahan, kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan.
Begitulah besarnya cinta orang tua. Dalam keadaan sehat maupun sakit, siang maupun malam, tidak pernah sedetik pun mereka berhenti memikirkan anak-anaknya. Bahkan ketika anak sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri, doa orang tua tetap mengalir tanpa henti.
Mereka tidak pernah meminta balasan atas semua pengorbanan yang telah diberikan. Kebahagiaan terbesar bagi orang tua hanyalah melihat anak-anaknya hidup baik, rukun dalam keluarga, sukses, dan menjadi anak yang saleh serta berbakti.
Karena itu, selagi orang tua masih ada, sudah sepantasnya kita menghormati, menyayangi, dan membahagiakan mereka. Jangan sampai penyesalan datang ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Sebab kasih sayang orang tua adalah anugerah terbesar yang tidak akan pernah tergantikan oleh apa pun di dunia ini.
Semoga kita semua dapat menjadi anak yang selalu ingat kepada orang tua, mendoakan mereka, membahagiakan mereka, serta menjadi anak yang saleh dan salehah, baik di dunia maupun di akhirat.
Komentar
Luas sekali makna nya ...sampai sekarang pun masih nyata.....sama aja dengan istilah.* buah jatuh tak jauh dari pohonnya*\r\n
Luar biasa \r\nTulisan yang mengingatkan orang tua, orang tua tak pernah berhenti memikirkan kondisi anak
Leluhur Jawa paring piwulang lan piweling ingkang ingkang suraosipun lebet sanget. Yêkti migunani tumrap sasami.