Menyingkap Misteri Melalui Diskusi

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 04 May 2026 | Pengunjung: 112
Cover
Di bawah langit Minggu 3 Mei yang teduh, ketika Hari Pendidikan Nasional 2026 berembus pelan seperti napas panjang yang penuh harap, para pegiat literasi di Kabupaten Ngawi berkumpul dalam sebuah ruang yang tak sekadar menjadi tempat, melainkan juga saksi: sebuah galeri sunyi yang menyimpan jejak-jejak peradaban. Di sanalah Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) menggelar diskusi santai bertema : 'Pendidikan di Simpang Jalan' tema yang terasa seperti cermin, memantulkan wajah pendidikan kita yang ragu, bercabang, dan sesekali kehilangan arah.

Rak-rak kayu di sudut ruangan memajang keris, pedang, dan tumbak dari berbagai penjuru Nusantara. Bilah-bilah itu bukan sekadar benda, melainkan narasi panjang tentang keberanian, kebijaksanaan, dan kadang tentang luka. Di sisi lain, gamelan terdiam dengan wibawa, sementara wayang kulit menggantung seolah menunggu kisah baru untuk dihidupkan. Di tengah suasana itulah, diskusi dimulai mengalir seperti air, santai namun diam-diam menghunjam.

Beberapa gagasan yang dibicarakan telah lebih dulu terpatri dalam buku 'Guratan Mendalam', sebuah bunga rampai yang merangkum kisah inspiratif, pengalaman getir, gagasan tajam, hingga kritik yang nyaris lirih namun menyayat. Para peserta datang dari latar beragam: praktisi sekolah reguler, sekolah luar biasa, BPBD, hingga NGO. Mereka membawa sudut pandang masing-masing, seperti serpihan kaca yang jika disatukan, memantulkan cahaya yang lebih utuh.

Namun diskusi itu tak pernah benar-benar berakhir. Sebab, di tengah percakapan yang mulai menyentuh inti, hadir seorang pemerhati sekaligus penulis buku tentang keris. Kehadirannya seperti membuka pintu lain, pintu yang selama ini terkunci oleh mitos dan prasangka. Ia berbicara tentang keris bukan sebagai benda gaib, melainkan sebagai artefak budaya yang menyimpan pengetahuan metalurgi, filosofi, dan sejarah panjang manusia. Para peserta yang berlatar belakang penelitian, biologi, dan fisika menyambutnya dengan rasa ingin tahu yang menyala. Perlahan, kabut misteri tersibak. Apa yang dulu dianggap mitos, kini menemukan pijakan logisnya.

Galeri itu berubah menjadi ruang pencerahan.
Mereka yang hadir menyadari bahwa pengetahuan sejati sering kali tersembunyi di balik ketakutan yang diwariskan. Dan mereka yang tidak hadir, barangkali kini hanya bisa menebak-nebak, diliputi rasa penasaran yang getir, bahkan mungkin penyesalan karena melewatkan momen yang tak akan terulang dengan cara yang sama.

Diskusi kian dalam ketika topik bergeser pada kenyataan pahit: 'kehancuran itu nyata'. Data dan riset mengungkap penurunan kecerdasan yang signifikan. Ruangan mendadak hening, bukan karena kehabisan kata, tetapi karena setiap orang sedang berdialog dengan kegelisahannya sendiri. Bukan murid yang sepenuhnya salah. Bukan pula guru yang layak dituding. Ada sesuatu yang lebih besar, lebih sistemik, regulasi yang terus berubah rupa namun tak pernah benar-benar menyentuh akar persoalan.

Nama-nama berganti: ulangan, evaluasi, ujian, asesmen. Namun hakikatnya tetap satu—mengukur. Ironisnya, alat ukur itu kerap melupakan apa yang seharusnya diukur: kemanusiaan dalam belajar. Pembelajaran mendalam pun hadir, seakan menjadi kritik tak terucap terhadap metode sebelumnya. Seolah-olah, selama ini kita hanya berjalan di permukaan.

Kurikulum datang silih berganti dengan nama-nama besar: KBK, KTSP, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka. Branding berubah, jargon diperbarui, tetapi di lapangan, para praktisi justru merasa lelah, jengah, bahkan gregetan. Mereka seperti pelari yang terus diminta mengganti sepatu di tengah lomba, tanpa pernah diberi waktu memahami medan.

Di tengah kegaduhan itu, nilai-nilai luhur yang pernah ditanamkan Ki Hajar Dewantara seakan bergema dalam diam. Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Kalimat itu tidak hilang, hanya tertutup oleh riuhnya perubahan yang tak selalu bermakna.

Siang merambat perlahan, tetapi diskusi tak menemukan titik akhir. Sebab pendidikan, seperti kehidupan, memang tak pernah benar-benar selesai. Ia terus bergerak, mencari, dan berharap, bahwa di suatu persimpangan nanti, kita harus memilih jalan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana.

Komentar

Riana Fathonatul Qoidah 2026-05-04 19:01:29

Sebuah diskusi yang saling berkelindan. Menyuarakan kegelisahan yang tak berujung. Saling bertanya tanpa menemukan jawaban.tapi pertemuan itu menjadi benang merah bahwa kita adalah sosok guru yang luar biasa.

Kusfandiari 2026-05-04 18:22:17

Satu tahun lalu, saya hadir di padepokan ini. Waktu itu saya bersilaturahim dengan Adhimas Abdining Gusti dalam rangka menyampaikan salam atas kehadirannya sepulang dari serangkaian ibadah haji tahun 2025 M / 1446 H. Kali ini juga dalam suasana pelaksanaan ibadah haji bagi saudara-saudara kita yang melaksanakannya.\r\nHal yang jeli dan usil perlu saya sampaikan di sini bahwa padepokan ini, kalau dulu terbuka dan orang luar bisa melihat bagaimana dhalang memainkan para wayang di latar belakangi kelir putih memplak.\r\nNamun, kini padepokan ini telah \"berikut\" dalam kesan yang bertambah magis dan mistis. Betapa tidak, kelir yang dulu terpampang menghadap timur, kini ada lemari pajangan yang penuh dengan tosan aji. Kelirnya dipinjam orang (baca: mitra seni yang sefrekuensi). Sedangkan kotak wayang bergeser dari selatan yang dulu membujur ke barat, kini ke Utara membujur Utara. Di atasnya terdapat puluhan ragam tosan aji yang bakal \"diruwat\".\r\nO ya, saya sempat bertanya kepada Adhimas nama padepokan ini. Hingga saat ini belum ada jawaban. Kalau Ayah Sukadi Mojo, memberi nama \"Pringgadani\" untuka padepoakannya. Semoga informasi ini menginspirasi.\r\nDalam pertemuan yang begitu berkesan dan sangat bermanfaat, 2 jam lebih merupakan waktu yang singkat untuk masing-masing menyampaikan \"uneg-uneg keprihatinan\" atas simpang jalan yang tak kasat mata dialami oleh pendidikan kita. Tanpa solusi, namun masing-masing secara brainstorming saling memberi pandangan yang signifikan.\r\nJuga teman literasi yang baru dari GenZee sungguh merupakan kakilangit baru bagi Kapibara alias Guru Galib. Teman baru BPBD dan NGO kelak bakal dieksplorasi dengan pendekatan superkepo. Mulai dari CV sampai sisik melik terkait mitigasi dan geoparking, yang bagi Kapibara adalah sesuatu (baca: literasi) yang baru dan lain dari yang ia kenal selama ini.\r\nSalam Literasi!

Eka Ermiyanti 2026-05-04 14:05:26

Luar biasa... Menginspirasi dan menggugah hati untuk bisa melangkah bersama menguak banyak hal dalam diskusi untuk majunya pendidikan kita

← Kembali ke Daftar Artikel