Di setiap tanggal 2 Mei, halaman sekolah kembali dirapikan, bendera disetrika rapi, dan pidato disusun dengan kalimat-kalimat yang menggema, tentang cita-cita, tentang masa depan, tentang kemajuan bangsa. Upacara digelar dengan khidmat, tema besar dipajang dengan huruf-huruf tebal, dan sejenak kita merasa telah melakukan sesuatu yang berarti. Namun, seperti embun yang cepat menguap disapu matahari, semangat itu kerap hilang begitu barisan dibubarkan. Yang tersisa hanyalah gema kata-kata tanpa jejak tindakan.
Begitulah kebiasaan yang diam-diam kita pelihara, mahir merangkai seremonial, tetapi miskin penghayatan. Pendidikan seolah dirayakan, bukan dijalankan. Padahal, makna sejati peringatan bukanlah pada seberapa meriah upacara berlangsung, melainkan pada sejauh mana peringatan itu menggerakkan langkah nyata setelahnya.
Di titik inilah nilai-nilai yang diwariskan Ki Hajar Dewantara menemukan relevansinya. "Ing Ngarsa Sung Tuladha" di depan memberi teladan, "Ing Madya Mangun Karsa" di tengah membangun semangat, dan "Tut Wuri Handayani" di belakang memberi dorongan. Tiga semboyan ini bukan sekadar hiasan dinding atau kutipan dalam pidato, melainkan kompas moral yang seharusnya menuntun praktik pendidikan sehari-hari.
Implementasi pendidikan tidak lahir dari satu hari peringatan, melainkan dari kebersamaan yang dirawat. Cara paling sederhana, namun sering terabaikan, adalah duduk bersama. Guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, semua berkumpul dalam ruang yang setara, membuka suara, dan mendengar satu sama lain. Di sanalah persoalan-persoalan nyata diurai. Keterbatasan fasilitas, metode pembelajaran yang stagnan, hingga kebutuhan dan perangai siswa yang kian beragam.
Diskusi bukan sekadar ajang bertukar keluhan, tetapi ruang untuk merumuskan solusi. Dari percakapan yang jujur lahir langkah-langkah konkret. Apa yang harus diperbaiki, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana cara melaksanakannya. Gagasan-gagasan itu tidak berhenti sebagai wacana, melainkan dituliskan, disepakati, dan dijadikan komitmen bersama. Sebab sesuatu yang ditulis memiliki daya ikat, mengingatkan ketika semangat mulai goyah.
Lebih jauh lagi, kebiasaan menulis dapat menjadi gerakan yang menghidupkan jiwa pendidikan. Bayangkan jika satu atau dua bulan sebelum Hari Pendidikan Nasional, setiap guru menuangkan gagasan, pengalaman, dan refleksinya dalam bentuk opini. Tulisan-tulisan itu dikumpulkan, dirangkai menjadi sebuah antologi, sebuah mosaik pemikiran yang lahir dari ruang-ruang kelas yang nyata.
Ketika hari peringatan tiba, buku itu diluncurkan, bukan sekadar sebagai simbol, tetapi sebagai bahan diskusi yang hidup. Setiap halaman menjadi pintu dialog, setiap paragraf memantik perubahan. Peringatan pun bertransformasi dari seremoni menjadi momentum refleksi dan aksi.
Dengan cara seperti ini, kekompakan tim tidak hanya terucap, tetapi terasa. Tidak ada yang berjalan sendiri, tidak ada yang tertinggal. Semua bergerak dalam irama yang sama, saling menguatkan dan mengingatkan. Pendidikan pun tidak lagi menjadi proyek sesaat, melainkan perjalanan bersama yang berkelanjutan.
Barangkali inilah langkah sederhana yang sering kita lupakan. Berhenti sejenak dari gemerlap kata-kata, lalu mulai bekerja dalam diam yang bermakna. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa lantang kita berkoar tentang tema, tetapi dari seberapa konsisten kita menghidupkan nilai-nilai itu dalam tindakan nyata.
Komentar
Pendidikan yang bermakna dalam kehidupan lebih penting daripada teori para pengambil kebijakan yang tampak hebat.
Setiap peringatan berarti ada gong yang harus dievaluasi dan di perbaiki dalam pendidikan Karena pendidikan selalu berkembang sesuai jaman nya.Dan sebagai generasi yang profesi pendidik wajib membuat kesepakatan yang dicatat sendiri atau bersama untuk mengontrol diri dalam menjalankan tugas dan mengamati perkembangan pendidikan.Jadi kebijaksanaan tidak harus dari atas tapi bisa dari bawah. Semangat pengamat pendidikan dan pelaksana pendidikan ..dan generasi z penerus pendidikan .
Gagasan agar setiap even peringatan hari tertentu harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya merupakan gagasan yang layak kita apresiasi. GPMB (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca) Kabupaten Ngawi yang baru berupa embrio pun layak kita sambut dengan gembira karena sebagian besar pengurusnya adalah wajah-wajah baru yang menunjukkan variabel latar belakang pendidikan dan profesional. GPMB yang konon identik dengan bendera literasi sudah selayaknya mewadahi segala macam rona, struktur, dan genre literasi. \r\nJika dalam tulisan kali ini menyangkut pendidikan, sudah barang tentu GPMB bakal menyoroti dengan beragam sudut pandang literasi. Boleh jadi pendidikan yang berada di simpang jalan bakal disorot oleh tenaga profesional BPBD (Badan Penanggulanan Bencana Daerah). Lalu apa hubungannya? Tidak usah dicari-cari, solusi bakal ditemukan oleh pribadi yang tidak bisa kita perkirakan sebelumnya.\r\nO iya, boleh jadi GPMB bakal mengalami metamorfosis menjadi Gerbang Pemandu Masyarakat Bertransformasi. Tampak lebih keren kan?