Di dapur-dapur sempit yang berasap tipis, di rumah-rumah yang berdiri dengan dinding setia menahan panas dan hujan, orang-orang kecil telah lama bercakap dengan kebijaksanaan yang tak tertulis. Mereka tahu kapan harus menyalakan api, kapan harus mematikannya. Tidak perlu ada suara dari menara tinggi yang mengingatkan, “Jika masak sudah kelar segera matikan kompor.” Kalimat itu, bagi mereka, terasa seperti hujan yang turun di laut, tak perlu, tak menyentuh, tak bermakna. Sebab jauh sebelum kalimat itu dilahirkan oleh lidah yang mungkin terbiasa dengan kelimpahan, mereka telah hidup dengan perhitungan yang cermat. Beras ditakar, minyak diteteskan, api dijaga agar tidak boros.
Berhemat bukanlah teori bagi mereka. Berhemat adalah napas. Berhemat adalah kebiasaan yang tumbuh bersama lapar dan harapan. Maka ketika ada yang datang mengajari cara berhemat, terasa seperti ironi yang pahit. Kata-kata seringkali membocorkan asal-usulnya. Kata-kata mencerminkan kebiasaan pengucapnya. Dan ketika nasihat tentang penghematan itu meluncur begitu saja, orang-orang kecil hanya saling pandang, diam-diam mengerti. Bahwa yang berbicara justru tak akrab dengan hemat itu sendiri.
Lebih ganjil lagi ketika ada usul menaikkan tarif listrik demi membuat rakyat belajar berhemat. Sebuah logika yang berputar seperti kipas tua, berisik, melelahkan, namun tak pernah benar-benar menyejukkan. Rakyat kecil sudah lama bersahabat dengan gelap, sudah terbiasa mematikan lampu lebih cepat dari malam, sudah paham bahwa listrik adalah kemewahan yang harus dijaga. Maka usulan itu terlihat seperti air berlumpur yang memantulkan wajah yang lain. Wajah yang terbiasa menyalakan lampu tanpa berpikir, membiarkan pendingin ruangan bekerja tanpa henti, hidup dalam terang yang tak pernah padam.
Lalu datanglah cerita lain, tentang sapi-sapi yang katanya dipotong setiap hari dalam jumlah yang fantastis, seolah-olah kemewahan itu mengalir ke piring-piring anak sekolah. Namun di meja-meja sederhana, yang hadir justru tahu, tempe, telur. Tiga huruf yang akrab dan setia. Sesekali lele, kadang ayam, itu pun bagian sayap, yang tak selalu diidamkan. Di sana, di antara kunyahan yang sederhana, rakyat belajar lagi tentang jarak antara kata dan kenyataan. Sebuah kebohongan yang diucapkan dengan percaya diri, begitu terang hingga justru tampak janggal. Jujur dalam kebohongannya, barangkali begitu lebih tepat.
Ada pula ucapan yang lebih mengguncang: “Kalau mau bersih-bersih amat, di surga sajalah.” Kalimat itu seperti angin kotor yang menyusup ke paru-paru, membuat sesak tanpa permisi. Seakan-akan kebersihan, baik dalam arti harfiah maupun moral, adalah sesuatu yang berlebihan di dunia ini. Dari sana, tersingkap bayangan yang lebih kelam. Bahwa penyimpangan bukan lagi kecelakaan, melainkan pilihan yang dirawat. Alam dirusak demi angka-angka di rekening, pajak yang dikumpulkan dari keringat rakyat berubah menjadi kilau kemewahan segelintir orang.
Rakyat kecil tidak selalu punya kata-kata besar untuk melawan. Tapi mereka punya ingatan. Mereka mencatat dengan diam. Siapa yang berkata apa, siapa yang berbuat bagaimana.
Mereka melihat sungai yang keruh, udara yang berat, harga yang naik perlahan, dan mereka menghubungkannya dengan wajah-wajah yang sering muncul di layar. Di antara semua itu, pertanyaan sederhana tumbuh. Sebenarnya apa yang dicari dalam hidup ini?
Mereka yang telah mengkhianati, masih sempat berlagak pahlawan. Mereka yang telah lama hidup, bertingkah seolah waktu tak akan menagih. Seakan-akan usia adalah jaminan kebal, seakan-akan hari esok adalah milik yang pasti. Padahal bahkan pujangga pun hanya bisa bermimpi tentang hidup seribu tahun lagi.
Di sudut lain, dalam sunyi yang lebih jujur, ada pertanyaan yang lebih tua dari segala pidato. "Mengapa kita masih hidup hari ini?" Sebuah pertanyaan yang tak membutuhkan mikrofon, hanya keberanian untuk mendengar diri sendiri. Sebuah pertanyaan dari Imam Al Ghazali. Dan beliau sendiri berkenan menjawabnya : "Karena dosa-dosa kita terlalu besar, dan Allah memberi kita kesempatan untuk bertobat." Allah Maha Kasih dan kesempatan masih diberikan.
Sementara itu, di dapur-dapur kecil, api kembali dinyalakan secukupnya. Masakan matang, kompor dimatikan. Tanpa perintah, tanpa slogan. Sebuah kebijaksanaan yang tidak pernah kehilangan arah, meski dunia di luarnya terus berisik oleh kata-kata bohong tetapi jujur.
Komentar
Sungguh sangat menyentuh karena berbicara dari kenyataan yg sering luput dari perhatuan.Kehidupan orang kecil terasa jujur dan tanpa perlu dramatisasi yg berlebihan justru kesederhanaan yg membuatnya kuat \r\n
Manusia sudah belajar dari alam dan lingkungan dari belum punya listrik belum ada kompor gas sudah terdidik ol3h alam masak pakainkayu selesai dimatikan .lampu pakai sentir pagi sudah dimatikan .Rakyat sangat mengerti dengan hemat tanpa ada komando.Kita adalah manusia hebat tanpa diperintah sudah berjalan dengan alam dengan sendirinya
Kita mesti ingat firman Allah dalam QS Al-An\'am 6:132\r\n\r\nوَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ ١٣٢\r\nwa likullin darajâtum mimmâ ‘amilû, wa mâ rabbuka bighâfilin ‘ammâ ya‘malûn\r\nMasing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan. Rabb-mu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.\r\n\r\nQS Al-An\'am 6:133\r\n\r\nوَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِۗ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْۢ بَعْدِكُمْ مَّا يَشَاۤءُ كَمَآ اَنْشَاَكُمْ مِّنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ اٰخَرِيْنَ ١٣٣\r\nwa rabbukal-ghaniyyu dzur-raḫmah, iy yasya\' yudz-hibkum wa yastakhlif mim ba‘dikum mâ yasyâ\'u kamâ ansya\'akum min dzurriyyati qaumin âkharîn\r\nRabb-mulah Yang Mahakaya lagi penuh rahmat. Jika menghendaki, Dia akan memusnahkanmu. Setelah itu, Dia akan menggantimu dengan yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Dia menjadikan kamu dari keturunan kaum lain (sebelummu).\r\n\r\nKita mesti tawadu dan istiqamah menjalankan amal-amal shalih lillaahi Ta\'ala, tak peduli meski dengan takaran teramat kecil. \r\n\r\nSemoga kita termasuk golongan orang-orang yang Ihsan. Allaahumma, aamiin.