*Ambisi Yang Menabrak Batas*
Ada jenis angkara murka yang tidak berteriak, tidak pula menampakkan wajahnya dengan kasar. Datang diam-diam, seperti bayangan yang memanjang saat senja. Keserakahan. Kerap menyaru sebagai ambisi, tampak mulia, terdengar terpuji, padahal di dalamnya berdenyut kegelisahan yang tak pernah menemukan reda.
Keserakahan bukan sekadar keinginan untuk memiliki. Keadaan dahaga yang tak mengenal kenyang. Hasrat yang menabrak batas kewajaran dan kepatutan. Seseorang yang dikuasai keserakahan akan terus mengejar lebih tinggi, lebih banyak dan lebih terlihat. Namun di balik itu semua, tersembunyi ketakutan yang rapuh. Takut tertinggal, takut dilupakan, takut kehilangan makna diri di mata orang lain.
Di dunia kerja, keserakahan jarang tampil sebagai wajah yang buruk rupa. Keserakahan justru hadir dengan rapi, berpakaian profesional dan berbicara dengan penuh percaya diri. Ada mereka yang tampak penuh inisiatif, sigap mengambil peran dan selalu berada di garis depan. Namun, bukan tanggung jawab yang menggerakkan mereka, melainkan kebutuhan untuk diakui punya kelebihan. Mereka suka menyela percakapan, mengambil alih tugas dan memastikan sorot mata kagum selalu mengarah pada dirinya.
Lambat laun, dorongan itu berubah menjadi kerakusan yang lebih gelap. Ketika pengakuan tak kunjung datang, kegelisahan menjelma menjadi tindakan yang melukai. Mereka mulai menjilat yang berkuasa, membesar-besarkan peran sendiri, bahkan merendahkan orang lain demi meninggikan posisi pribadi. Ambisi yang semula tampak wajar kini terang-terangan menjelma menjadi nafsu jahat yang siap mendominasi. Bukan lagi jalan halus untuk bertumbuh, melainkan cara kasar untuk menguasai.
Dampaknya merambat seperti retakan tajam pada kaca. Lingkungan kerja yang semula hangat perlahan menjadi dingin. Kepercayaan memudar, digantikan oleh kecurigaan. Kolaborasi berubah menjadi perlombaan yang keras, anti meritokrasi yang penuh tekanan. Orang-orang tidak lagi melangkah bersama, melainkan saling mengawasi, menjaga jarak dan menyimpan waspada.
Di titik inilah, kejujuran pada diri sendiri menjadi penting. Kita perlu bertanya, dengan suara yang paling lirih. *Dari mana ambisi kita berasal?* Apakah tumbuh dari keinginan untuk berkembang atau dari kebutuhan tak berujung untuk diakui?
Sebab ambisi yang sehat adalah yang memberi ruang bagi pertumbuhan bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Ambisi sehat tidak menuntut sorotan dan tidak memaksa pengakuan. Sebaliknya, keserakahan akan membuat kita terus berlari, mengejar bayang-bayang yang tak pernah benar-benar bisa digenggam. Dan pada akhirnya, kita mungkin sampai di banyak tempat dengan kelelahan dan kegelisahan yang memuncak namun tak pernah benar-benar tiba. Inikah yang kita inginkan.
Komentar
Ambisi itu beda dgn ambisius .ambisi itu berhubungan dgn kinerja dan semangat utk menuntaskan pekerjaan sesuai rencana dan target2 yg harus segera diselesaikan krn msih byk pekerjaan yg lainnya menunggu utk dikerjakan.kalo ambisius itu ambisi pribadi yg menggunakan segala cara utk menjatuhkan orang lain. \r\n\r\n
Jadilah salah satu dari orang yg tidak serakah. Semakin sering ingat kematian insya\'allah tdk akan menjadi serakah.