Di layar kecil yang kerap kita genggam, dunia manusia memantulkan dirinya dengan cara yang aneh sekaligus jujur. Kata-kata yang diketik, dikirim, lalu meluncur melintasi jaringan tak kasatmata itu, sesungguhnya bukan sekadar rangkaian huruf. Kata-kata itu merupakan bayang-bayang kepribadian. Serpih dari cara seseorang berpikir, merasa dan memandang dunia. Pesan yang lahir dari media sosial WhatsApp, Facebook dan sejenisnya menjadi semacam sidik jari batin, tak kasatmata, namun khas dan tak tertukar.
Ada orang yang menulis dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap huruf adalah batu bata yang harus tersusun rapi. Kata demi kata ditulis lengkap, tanpa singkatan, tanpa tergoda menggunakan angka "2" sebagai pengganti suku kata berulang. Ejaan diperiksa, tanda baca diletakkan pada tempatnya. Pesan mereka mengalir seperti kalimat dalam buku yang disunting dengan saksama. Membacanya memberi kesan teduh, bahkan kadang mengundang kekaguman. Dari sana, pembaca seperti melihat pribadi yang tertib, teliti dan menghargai bahasa sebagai jembatan yang harus dibangun dengan kokoh.
Di sisi lain, ada mereka yang lebih santai, membiarkan kata-kata mengalir tanpa banyak aturan. Angka “2” menggantikan kata ulang, singkatan umum dipakai demi kecepatan. Bahasa menjadi ringkas, praktis dan akrab. Namun di antara mereka, ada pula yang melangkah lebih jauh menggunakan singkatan yang hanya dipahami oleh lingkaran kecil atau bahkan oleh dirinya sendiri. Pesan yang sampai kadang terasa seperti teka-teki, membuat pembaca berhenti, menebak, lalu mungkin menyerah. Dari sini tampak sisi spontan, mungkin juga keinginan untuk efisien, meski kadang mengorbankan kejelasan.
Ada pula yang tergesa-gesa, jemarinya berlari lebih cepat daripada pikirannya. Huruf-huruf bertukar tempat, kata-kata tergelincir, dan kesalahan dibiarkan begitu saja setelah pesan terkirim. Padahal, fasilitas untuk memperbaiki selalu tersedia, menunggu disentuh. Dalam WhatsApp dan Facebook ada fitur editing. Namun sebagian memilih membiarkan, seolah kesalahan itu bukan sesuatu yang perlu diralat. Di situ, pembaca bisa menangkap kesan abai,
atau mungkin sekadar ketidaksabaran terhadap detail kecil yang dianggap tidak penting.
Tak jarang pula seseorang salah mengirim pesan, alamat yang keliru, percakapan yang seharusnya privat jatuh ke ruang yang salah. Lalu pesan itu dihapus begitu saja, tanpa penjelasan, tanpa permintaan maaf. Seperti angin yang datang lalu pergi, meninggalkan jejak tanda tanya. Dari situ, terbaca sebuah sikap, apakah itu kecerobohan, ketidakpedulian, atau sekadar kebiasaan yang belum disadari dampaknya.
Dalam menanggapi unggahan orang lain, kepribadian pun menampakkan wajahnya. Ada yang antusias, menulis tanggapan panjang dengan kalimat yang hangat dan penuh perhatian. Mereka hadir dalam percakapan, memberi ruang bagi dialog untuk tumbuh. Ada pula yang cukup dengan satu kata: “Mantap.” Singkat, padat, mungkin tulus, mungkin sekadar formalitas. Dan ada yang memilih diam, melewati unggahan tanpa jejak, seperti pejalan yang enggan berhenti di persimpangan.
Semua itu membentuk mozaik kepribadian manusia di dunia maya. Beragam, unik, dan kadang bertolak belakang. Pembaca sadar atau tidak, akan menilai, menyusun gambaran tentang siapa seseorang hanya dari cara ia menulis dan merespon. Memang, pada akhirnya, itu adalah pilihan masing-masing. Namun di tengah kebebasan itu, muncul pula kesadaran lain, bahwa dunia maya, seperti halnya dunia nyata, memiliki ruang untuk adab atau etika.
Adab bukan sekadar aturan kaku, melainkan cermin penghargaan terhadap orang lain. Adab hadir dalam ketelitian, dalam kejelasan, dalam kesediaan memperbaiki kesalahan, dalam kesopanan menanggapi, bahkan dalam keheningan yang dipilih dengan bijak. Di balik layar, kita tetap manusia dengan segala keunikan sidik jari kepribadian. Dan melalui kata-kata yang kita kirim, kita sebenarnya sedang memperkenalkan diri, sedikit demi sedikit, kepada dunia.
Komentar
Komentar yang tayangkan di Medsos mencerminkan kepribadian kita.Maka kita harus bisa bijak dalam berkomentar di Medsos.
Editing baru posting etika yang harus dilalui ...Tapi sering kadang TDK dilakukan Krn ya hanya ...berpendapat tidak begitu penting bukan sesuatu yang resmi hanya opini...