Hari Buku Sedunia

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 23 Apr 2026 | Pengunjung: 93
Cover
Hari ini, 23 April 2026, sebuah pesan singkat masuk ke layar ponsel saya. Ringan nyaris tanpa beban, namun menyimpan gema yang panjang. Seorang teman pegiat literasi menuliskan bahwa hari ini adalah Hari Buku Sedunia. Kalimat itu sederhana, tetapi seperti batu kecil yang jatuh ke permukaan danau batin saya, riaknya menjalar pelan, lalu meluas, lalu menetap sebagai kesadaran yang tak bisa diabaikan.

Seandainya saya tahu lebih awal, barangkali hari ini akan menjadi panggung kecil bagi sebuah perayaan yang lebih bermakna. Saya bisa saja menyiapkan peluncuran buku, merapikan naskah yang selama ini bernafas dalam diam, atau sekadar merancang pertemuan sederhana untuk merayakan kata-kata. Namun waktu, seperti biasa, bergerak tanpa menoleh. Momen besar itu terlewat begitu saja, meninggalkan rasa terkejut yang datang terlambat, disertai sedikit sesal yang terasa jujur.

Ada perasaan bersalah yang tipis namun mengendap. Bukan karena saya lupa semata, tetapi karena saya sadar bahwa hari penting seperti ini seharusnya tidak luput dari perhatian seorang yang mengaku mencintai dunia literasi. Hari Buku Sedunia bukan sekadar tanggal namun pengingat tentang peradaban yang dibangun dari huruf demi huruf, dari kalimat demi kalimat, dari keberanian manusia untuk berpikir dan menuangkannya ke dalam tulisan.

Menulis, saya percaya, adalah sebuah investasi yang tidak tunduk pada waktu. Menulis tidak lekang oleh usia, tidak lapuk oleh perubahan musim. Apa yang ditulis hari ini bisa saja menjadi pelita bagi seseorang di masa depan. Bahkan, dalam kesunyian sekalipun, tulisan tetap bekerja, dian-diam menyusup ke dalam pikiran pembacanya, menumbuhkan gagasan, atau sekadar menghangatkan jiwa.

Saya teringat sebuah kalimat yang begitu agung digaungkan oleh Pramoedya Ananta Toer puluhan tahun yang lalu, namun tak pernah kehilangan maknanya: โ€œMenulislah, maka kamu
akan abadi.โ€ Kalimat itu bukan sekadar ajakan, melainkan sebuah janji tentang keabadian yang mungkin dicapai manusia. Tubuh boleh rapuh, usia boleh habis, tetapi gagasan yang dituliskan akan terus hidup, melintasi generasi, menembus batas ruang dan waktu.

Tulisan adalah jejak. Tulisan adalah cara manusia berkata kepada masa depan: โ€œAku pernah ada, dan ini yang kupikirkan.โ€ Dalam dunia yang terus berubah, tulisan menjadi jangkar yang menjaga ingatan agar tidak hanyut. Tulisan menjadi saksi bahwa manusia tidak hanya hidup, tetapi juga merenung, mempertanyakan dan bermimpi.

Banyak bukti telah menunjukkan bahwa tulisan mampu mengubah dunia. Sebuah gagasan yang lahir dari pena dapat menjelma menjadi gerakan, menjadi revolusi, bahkan menjadi arah baru bagi peradaban. Tidak ada tulisan yang benar-benar kecil jika mampu menyentuh kesadaran seseorang.

Nasihat dari Team Internet Cerdas Indonesia (ICI) terasa relevan menggema di tengah perenungan ini : " Anda Mau Membuat Perubahan Melalui Pena? Jangan menganggap remeh sebuah gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Sudah banyak buktinya tulisan bisa mengubah sejarah peradaban umat manusia. Jadi, jangan menunda waktu lagi. Ayo angkat pena dan rubahlah Dunia dengan tulisan."

Betapa sering kita menunda, menganggap ide kita belum cukup penting, belum cukup matang, atau belum cukup layak dibaca. Padahal sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa perubahan besar kerap berawal dari sesuatu yang tampak sederhana.
Hari ini, meski tanpa perayaan, memberi saya sebuah teguran yang lembut namun tegas. Bahwa waktu tidak selalu menunggu kesiapan kita. Bahwa kesempatan untuk menulis, untuk menyuarakan gagasan, selalu hadir dan sering kali terlewat karena keraguan atau penundaan.

Saya juga teringat pada sebuah pemikiran yang begitu kuat oleh seorang penulis perempuan asal Inggris JK Rowling : "Kita tidak membutuhkan sihir untuk mengubah dunia. Kekuatan itu sudah ada dalam diri kita. Kemampuan untuk membayangkan sesuatu yang lebih baik, lalu menuangkannya ke dalam kata-kata. Menulis adalah bentuk nyata dari kekuatan itu.

Maka mungkin, Hari Buku Sedunia tahun ini tidak benar-benar terlewat. Justru datang sebagai pengingat yang sunyi, sebagai undangan untuk kembali kepada esensi yaitu menulis bukan tentang momen seremonial semata, melainkan tentang keberanian untuk memulai, kapan pun
itu.

Dan hari ini, meski tanpa panggung dan tanpa peluncuran buku, saya memilih untuk tidak lagi menunda. Karena setiap kata yang ditulis adalah langkah kecil menuju keabadian dan mungkin, menuju perubahan yang lebih besar dari yang pernah kita bayangkan.

Komentar

Jartoyo 2026-04-25 18:57:57

๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ’ช

Kusfandiari 2026-04-25 15:51:16

Bagi saya, menulis merupakan keniscayaan. Saya niscaya menulis. Menulis apa saja. Bahkan berapa persen di antaranya merupakan tanggapan atau komentar atas tulisan teman-teman literat. \r\nAdakalanya terbersit di benak saya, \"kasihan, tidak ada yang menanggapi\". Tetapi buru-buru saya tindas dengan sikap \"saya mesti menanggapi mesti tanggapan saya merupakan tanggapan satu-satunya.\"\r\nTulisan-tulisan saya memang teramat random. Umpama radio, tulisan-tulisan saya berada di bandwith yang membentang begitu lebar. Umpama audio, tulisan-tulisan saya berada di frekuensi yang bisa kita dengar sampai yang tak terdengar.\r\nSaat ini saya tidak berniat membuat buku yang sempurna.\r\nNamun, setidak-tidaknya teman Literat yang satu ini mengingatkan saya agar saya menyusun tulisan sehingga menjadi satu atau dua buku yang paripurna.\r\nTerimakasih, Teman. Anda telah mengingatkan, meski Hari Buku Sedunia berlalu begitu saja tiga hari ini.

Ari Iskandar 2026-04-23 15:36:55

Begitu sejarah tertulis dan tersirat dalam untaian kata dan berbaris rapi terurai indah...\r\nTak pernah hilang dari ingatan karena goresan huruf demi huruf kata demi kata

← Kembali ke Daftar Artikel