Masih tersisa bara di dada, amarah yang belum sepenuhnya padam, kekecewaan yang merayap pelan seperti kabut dan rasa tak percaya yang menggantung di langit pikiran. Betapa tidak, kabar tentang perilaku siswa di sebuah sekolah yang selama ini dielu-elukan sebagai unggulan itu terasa seperti ironi yang menampar. Sekolah yang seharusnya menjadi taman tumbuhnya budi pekerti, justru melahirkan pemandangan yang getir. Siswa-siswi yang kehilangan rasa segan, yang dengan ringan melontarkan hinaan bahkan menjadikannya semacam pertunjukan bersama. Guru sosok yang semestinya dihormati, diperlakukan seperti bahan olok-olok. Di titik ini, hati siapa yang tidak teriris?
Dulu, murid yang paling bandel pun masih menyisakan ruang kecil bernama hormat. Ada batas tak kasatmata yang tidak berani mereka lewati. Kini, batas itu seperti terhapus oleh arus jaman yang kian deras, membawa serta nilai-nilai yang dulu kokoh menjadi rapuh. Yang tersisa hanyalah suara riuh tanpa kendali. Tawa tanpa empati, dan keberanian yang kehilangan arah.
Fenomena ini bukan sekadar kesalahan individu, melainkan cermin retak dari sistem yang lebih luas. Kegagalan dalam pembentukan adab tidak lahir dalam semalam. Kegagalan ini merupakan akumulasi dari pendekatan yang mungkin terlalu lama bertumpu pada kata-kata, pada nasihat yang melayang di udara tanpa pernah benar-benar menjejak ke dalam jiwa. Pendidikan karakter, yang sering digaungkan, kerap berhenti pada tataran slogan, indah didengar, namun sulit dirasakan.
Barangkali, sudah saatnya kita mengubah cara menanamkan nilai. Tidak lagi sekadar memberi tahu apa yang baik dan buruk, tetapi mengajak merasakan, menghidupi, dan memahami makna di baliknya. Sebab adab bukan sekadar aturan, melainkan kesadaran yang tumbuh dari dalam. Adab tidak bisa dipaksakan tetapi bisa dipupuk dengan cara yang tepat.
Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah melalui kisah. Seperti tulisan saya sebelumnya. Kisah memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh penceramah. Kisah mampu menyelinap ke dalam hati tanpa terasa, menanamkan nilai tanpa menggurui. Ketika siswa diajak memainkan peran dalam cerita kepahlawanan, mereka tidak hanya membaca sejarah, mereka menjalaninya. Mereka belajar tentang keberanian, pengorbanan, dan tanggung jawab bukan sebagai konsep, tetapi sebagai pengalaman batin.
Lebih jauh lagi, perlu ada upaya sistematis untuk menghadirkan bacaan wajib yang bermakna di setiap jenjang pendidikan. Bukan sekadar teks yang harus dihafal, tetapi kisah-kisah yang menghidupkan imajinasi sekaligus nurani. Bayangkan jika sejak dini, siswa diperkenalkan pada perjalanan panjang bangsa ini, dari masa kerajaan hingga era modern melalui cerita yang menggugah. Mereka akan mengenal tokoh-tokoh besar bukan hanya sebagai nama dalam buku, tetapi sebagai manusia dengan perjuangan dan nilai yang bisa diteladani.
Dari sosok pemimpin bijak di masa lampau hingga tokoh perjuangan yang menyalakan api kemerdekaan, setiap kisah menyimpan pelajaran yang tak lekang oleh waktu. Ketekunan, keberanian, cinta tanah air, semua itu dapat meresap perlahan melalui kebiasaan membaca yang konsisten. Dan ketika nilai-nilai itu telah berakar, adab tidak lagi menjadi sesuatu yang dipaksakan, melainkan tumbuh alami sebagai bagian dari diri.
Mungkin kita tidak bisa mengubah segalanya dalam sekejap. Namun setiap langkah kecil menuju pendidikan yang lebih bermakna adalah harapan yang patut dijaga. Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi oleh keluhuran budi yang mengiringinya. Dan dari sanalah, kita berharap lahir generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga tahu bagaimana menghormati, menghargai dan menjadi manusia seutuhnya.
Komentar
Ajarkan dulu ke siswa kita tentang tauhid ..setelah itu baru akhlak/adab
Kurikulum dulu ada pelajaran PSPB dan ingat waktu itu secara berkelompok memerankan drama di depan kelas ..sesuai judul kepahlawanan ..giru saya dulu Bu Sri .Sehingga bisa merasakan peran masing masing.