Perempuan Suka Menjatuhkan Harga Diri

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 19 Apr 2026 | Pengunjung: 33
Cover
๐—ž๐—ฎ๐—ฑ๐—ผ ๐——๐—ถ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ๐—ป๐—ถ
Lagi-lagi, tulisan dalam Catatan Dahlan Iskan membuat saya terperanjat, seolah ada lonceng besar yang dipukul tiba-tiba di dekat telinga. Kalimatnya menggelegar, seperti petir yang membelah langit siang. โ€œwanita Indonesia tidak boleh lagi menjatuhkan harga diri lebih rendah dari harga pasar.โ€ Sebuah kalimat yang bukan hanya menggugah, tetapi juga menampar kesadaran dengan cara yang tidak bisa dihindari.

Saya membacanya berulang-ulang, seperti seseorang yang mencoba memahami gema dari sebuah suara yang terlalu keras untuk dicerna sekali dengar. Ada sesuatu yang terasa ganjil, sekaligus benar. Kata โ€œharga diriโ€ dan โ€œharga pasarโ€ berdiri berdampingan, seperti dua dunia yang seharusnya tidak saling bersinggungan, tetapi justru di sanalah letak ironi yang ingin disampaikan. Seakan-akan manusia, khususnya perempuan, telah lama menakar dirinya dengan ukuran yang salah atau mungkin dipaksa untuk percaya bahwa ukurannya memang sekecil itu.

Pernyataan tersebut, rupanya, lahir sebagai tanggapan atas penelitian Ira Puspadewi mantan Dirut ASDP. Penelitian yang sederhana dalam angka, tetapi dalam makna. Penelitian itu seperti membuka lapisan-lapisan psikologis yang selama ini tersembunyi. Perempuan Indonesia, katanya, cenderung memberi nilai pada dirinya lebih rendah dari kemampuan yang sebenarnya mereka miliki. Jika kemampuan mereka berada di angka 8 dalam skala 1 - 10, mereka dengan ragu hanya akan mengaku berada di angka 7. Satu angka yang tampak kecil, tetapi sesungguhnya menyimpan jarak yang dalam. Jarak antara kenyataan dan keyakinan diri.

Ada sesuatu yang getir dalam temuan itu. Bukan karena perempuan tidak mampu, tetapi karena mereka memilih atau mungkin terbiasa untuk merendahkan diri sendiri sebelum orang lain sempat melakukannya. Seolah-olah kerendahan hati telah bertransformasi menjadi keraguan yang menetap. Seolah-olah pujian terhadap diri sendiri adalah sesuatu yang tabu, bahkan ketika itu adalah kebenaran.

Dan di sisi lain, berdiri laki-laki dengan cermin yang berbeda. Mereka, dalam penelitian yang sama, justru melangkah dengan keyakinan yang meluap. Mengaku berada di level 9, nyaris sempurna, penuh percaya diri. Namun ketika realitas datang mengetuk, di medan kerja, di lapangan kehidupan angka itu menyusut menjadi 7. Ada selisih yang sama, tetapi arahnya berlawanan. Jika perempuan menahan diri untuk tidak melampaui batas yang sebenarnya telah mereka capai, laki-laki justru melompati batas itu sebelum benar-benar mencapainya.

Kontras ini terasa seperti dua kutub yang saling mencerminkan. Di satu sisi, keraguan yang membungkam potensi. Di sisi lain, keyakinan yang kadang melampaui kenyataan. Keduanya sama-sama menyimpan masalah, tetapi dengan wajah yang berbeda.

Saya membayangkan, berapa banyak kesempatan yang terlewat hanya karena seseorang merasa dirinya 7, padahal dunia sedang membutuhkan angka 8 itu. Berapa banyak suara yang tidak pernah terdengar karena pemiliknya memilih diam, takut suaranya tidak cukup berarti. Dan di saat yang sama, berapa banyak ruang yang diisi oleh mereka yang merasa sudah 9, meskipun langkahnya masih tertatih di angka 7.

Kalimat Dahlan Iskan itu kembali terngiang: 'jangan menjatuhkan harga diri lebih rendah dari harga pasar.' Mungkin ini bukan sekadar ajakan, melainkan peringatan. Bahwa dunia tidak selalu adil dalam memberi penilaian dan jika seseorang tidak berani menilai dirinya dengan tepat, maka ia akan terus berada di bawah bayang-bayang potensinya sendiri.

Pada akhirnya persoalannya bukan tentang angka semata. Ini tentang keberanian untuk melihat diri dengan jujur tanpa merendahkan, tanpa melebih-lebihkan. Tentang berdiri di titik yang sebenarnya, lalu melangkah dari sana dengan kesadaran penuh. Karena di antara 7, 8 dan 9 yang paling penting bukanlah angka yang diucapkan, melainkan kebenaran yang berani diakui. Sejalan dengan keberanian Kartini dalam memperjuangkan persamaan hak kaumnya.

Komentar

Kusfandiari 2026-04-20 08:42:52

Lima tanda perempuan yang memiliki self esteem rendah ketika menjalin suatu hubungan.\r\n\r\n1. Menyesuaikan Diri dengan Keinginan Pasangan\r\n2. Tidak Memiliki Rasa Percaya Diri yang Tinggi\r\n3. Cenderung โ€œClingyโ€ atau Manja\r\n4. Menyenangkan Orang Lain\r\n5. Tidak Mendiskusikan Kebutuhannya Sendiri

← Kembali ke Daftar Artikel