Hanya Berganti Nama

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 13 Apr 2026 | Pengunjung: 261
Cover
Berawal dari sebuah diskusi kecil yang mengalir di sela waktu senggang, lahirlah kegelisahan yang tidak sederhana. Kegelisahan para guru. Mereka yang mengabdikan hidupnya di ruang-ruang kelas, menua bersama spidol dan papan tulis, menua bersama wajah-wajah murid yang terus berganti. Dari awal menginjakkan kaki sebagai pendidik hingga menjelang masa purna tugas, banyak di antara mereka merasa seperti berjalan di lorong panjang yang berulang. Kurikulum berubah, nama berganti, tetapi esensinya terasa serupa.

Mereka menyebut satu per satu, seolah membaca riwayat hidup yang tak sepenuhnya mereka pahami arahnya. Kurikulum 1997, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kurikulum Satuan Pendidikan, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka yang kini bahkan diperkaya dengan istilah Deep Learning dengan pilarnya : meaningful, joyful dan mindful learning. Dalam bahasa Indonesia disebut : bermakna, menggembirakan dan berkesadaran.
Setiap perubahan datang dengan gegap gempita, seakan membawa harapan baru, namun di mata sebagian guru, perubahan itu lebih sering terasa sebagai pergantian istilah daripada pergeseran makna.

Di dalamnya, aspek penilaian menjadi panggung paling riuh. Ulangan, ujian, evaluasi, penilaian, hingga asesmen. Semuanya hadir silih berganti, seolah masing-masing membawa identitas yang sepenuhnya berbeda. Padahal, di balik semua istilah itu, tujuannya tetap satu, yaitu mengukur ketercapaian belajar. Namun manusia, dengan kecenderungannya pada kata-kata, sering terjebak dalam perdebatan yang tak berujung. Ujian dianggap lebih tinggi dari ulangan, evaluasi lebih ilmiah dari ujian, penilaian lebih komprehensif dari evaluasi, dan asesmen terasa lebih modern dari semuanya.

Perdebatan itu kadang kehilangan arah, seperti kusir yang terus memacu kudanya tanpa tujuan yang jelas. Tidak ada yang benar-benar ingin mengalah, karena setiap istilah baru seakan menjadi simbol pembaruan, penanda bahwa masa lalu harus ditinggalkan. Yang lama dengan mudah dicap usang, bahkan sebelum sempat dipahami kembali. Metode ceramah, misalnya, sering kali dicemooh sebagai cara kuno yang tak lagi relevan. Guru yang masih menggunakannya dianggap enggan berkembang, seolah lupa bahwa dalam sejarah panjang pendidikan, ceramah dari sosok berilmu justru mampu menggugah jiwa, menginspirasi, bahkan mengubah arah hidup seseorang. Siapa yang tak terpukau oleh ceramahnya Emha Ainun Nadjib? Siapa yang tidak terinspirasi oleh ceramahnya Marthen Kanginan?

Akibatnya, ruang kelas pun berubah menjadi panggung yang riuh. Para guru berlomba menghadirkan diskusi, menyelipkan ice breaking, tepuk tangan, nyanyian, bahkan gerakan tubuh yang menyerupai pertunjukan. Semua dilakukan atas nama 'pembelajaran yang menyenangkan.' Namun, di balik semangat itu, makna 'menyenangkan' kerap menjadi kabur. Seolah-olah kegembiraan harus selalu berwujud suara yang ramai, tawa yang pecah dan gerak yang semarak.

Padahal, pembelajaran yang menyenangkan tidak selalu harus gaduh. Pembelajaran menyenangkan bisa hadir dalam keheningan yang khusyuk, ketika seorang siswa larut dalam bacaannya, atau ketika mereka tenggelam dalam proses memahami sesuatu yang baru. Ada kenikmatan tersendiri dalam kesunyian yang penuh makna, dalam momen ketika pikiran bekerja dengan penuh rasa ingin tahu.

Begitu pula dengan metode diskusi yang kini diagungkan. Diskusi sejatinya membutuhkan fondasi sebuah pemahaman awal yang menjadi pijakan bersama. Tanpa itu, diskusi hanya akan menjadi percakapan kosong, berputar tanpa arah. Bagaimana mungkin membahas sesuatu yang belum dipahami sama sekali? Yang terjadi bukanlah pertukaran gagasan, melainkan kebingungan yang disamarkan.

Kini, muncul pula istilah 'pembelajaran mendalam.' Sebuah istilah yang, bagi sebagian guru, terasa seperti tuduhan halus terhadap masa lalu. Seakan-akan pembelajaran sebelumnya tidak pernah menyentuh kedalaman, tidak pernah kontekstual, tidak pernah menyenangkan. Padahal, sejak dulu, guru-guru telah berupaya menghadirkan pembelajaran yang bermakna, yang tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menyalakan semangat belajar dalam diri siswa.

Mungkin, yang perlu direnungkan bukanlah seberapa sering kita mengganti istilah, melainkan seberapa dalam kita memahami makna di baliknya. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang nama-nama yang berganti, melainkan tentang hubungan manusia, antara guru dan murid, antara pengetahuan dan kehidupan. Dan di sanalah, esensi sejati itu diam-diam tetap hidup, meski dunia terus sibuk memberi nama baru.

Komentar

Kusfandiari 2026-04-14 10:42:05

Secara sederhana, ice breaking itu ketika seseorang membawa es balok bukan es lilin apa lagi es krim atau pun es campur. Lalu ia memecahkan es balok dengan hammer. Kalau dulu secara kreatif memakai gear sepeda bagian depan yang masih ada gagang pengayuhnya, tentu tanpa pedal. \r\nSeorang teman pernah ditunjuk untuk tampil peer teaching. Teman-temannya tidak menghiraukan kehadiran dan penampilannya. Ia punya trik, dari gudang laboratorium, ia membawa gergaji kayu berukuran besar. Saya hanya berpikir, baru kali ini (itu) laboratorium IPA ada asesori bernama gergaji kayu.\r\nPeer teaching berjalan tidak sebagaimana mestinya. Karena sesama peer tidak boleh saling menggurui. Juga terindikasi sekedar memenuhi syarat kehadiran MGMP, Workshop, dan banyak lagi yang lainnya.\r\nBelum lagi menyusun RPP yang asbun (asal bunyi).\r\nSesampai di lapangan (sekolah masing-masing), kepala sekolah hanya manggut-manggut dan terimakasih. Juga pengawas yang datang secara berkala tak pernah paham sama sekali apa isi RPP. Kalaupun RPP sampai bengek pun, ia pun hanya manggut-manggut pula.\r\nSaya tidak tahu apakah kurikulum \"Asal Bapak Senang\" masih berlaku hingga sekarang?

Iliyun Nurhidayah 2026-04-14 10:36:54

Benar pak Agus, esensi seperti itulah sebenarnya yang harus kita pahami

Agus sedijono 2026-04-14 08:08:26

Betul Bopo Agus, Kurikulum sekarang ini hanya berubah nama tapi intinya sama dengan kurikulum yang lalu bahkan kita sebagai pendidik seperti kelinci percobaan dari perubahan kurikulum tersebut.Terus semangat Bopo....

Budi Hantara 2026-04-14 06:50:32

Bila hanya istilah yang berubah tapi pokok persoalan yang inti tidak diperbaiki sangat sulit memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia.\r\nSudah 11 kali pergantian kurikulum faktanya masih seperti ini. Bahkan sekarang seperti mengalami penurunan dalam berbagai hal.

ibnu malik 2026-04-13 16:15:31

sangat bagus pencerahanya p nur,sekolah kamidulu di jadikan tempat gelar karya GP,saya mengamati sepintas kok dalam pembelajaran banyak esbriking nya.pikir saya apa itu arti menyenangkan,

Soen 2026-04-13 16:11:13

Terima kasih atas pencerahan dan semangat serta sukses selalu dalam menjalani tugas dalam kehidupan ini

← Kembali ke Daftar Artikel