Di jaman ketika langit telah dipetakan dan bumi dilipat ke dalam layar, manusia berjalan tanpa lagi benar-benar tersesat. Setiap jengkal tanah, dari gurun yang paling sunyi hingga gang sempit di kota-kota yang berdesakan, telah diberi angka koordinat yang dingin namun pasti oleh Google Maps dan Google Earth. Apa yang dahulu disembunyikan oleh kabut, oleh jarak, oleh mitos dan ketakutan, kini terbuka dalam genggaman. Dunia tidak lagi misteri. Semua adalah angka seperti dikemukakan oleh Bernoulli.
Dulu, orang-orang berbicara tentang tempat-tempat yang tak terjangkau, lembah yang tak bernama, pulau-pulau yang hilang. Kini, bahkan bayangan pohon pun bisa ditelusuri dari angkasa. Seolah-olah bumi ini telah kehilangan rahasianya. Tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi, tidak ada lagi sudut yang luput dari pengawasan. Mata buatan manusia yang mengorbit jauh di atas sana menatap tanpa lelah, tanpa berkedip. Satelit menjadi penopang semua itu.
Namun, justru ketika semua tempat telah diketahui, manusia mulai kehilangan arah yang lain. Arah batin. Kita tahu di mana segala sesuatu berada, tetapi tidak selalu tahu ke mana harus melangkah. Koordinat memberi kepastian lokasi tetapi tidak memberi makna.
Dalam lanskap yang serba terpetakan ini, perang pun berubah wajah. Perang tidak lagi sekadar deru tank dan dentuman meriam yang membabi buta. Perang menjadi sunyi, hampir tak terdengar namun jauh lebih mematikan. Rudal diluncurkan bukan sekadar dengan amarah, tetapi dengan perhitungan. Algoritma menggantikan insting. Mesin belajar membaca pola, memperkirakan gerak dan memilih titik yang paling efektif untuk dilenyapkan. Itu terbukti dalam perang Amerika-Israel melawan Iran yang sendirian.
Di balik layar, kecerdasan buatan mengolah jutaan data. Citra satelit, sinyal komunikasi, jejak panas bahkan kebiasaan manusia. Semua itu dirajut menjadi satu keputusan yang dingin dan presisi. Sebuah titik di peta yang bagi sebagian orang mungkin hanyalah angka, menjadi takdir bagi mereka yang berada di sana. Satu klik, satu perintah dan langit pun runtuh.
Perang modern adalah ironi yang pahit. Begitu canggih, begitu presisi seolah-olah ingin meyakinkan kita bahwa kehancuran dapat dilakukan dengan cara yang rapi. Tidak ada lagi kesalahan sasaran, kata mereka. Tidak ada lagi korban yang tak perlu. Namun, benarkah demikian? Ataukah ini hanya cara baru untuk menenangkan hati nurani yang semakin jauh dari kemanusiaan?
Di tengah semua itu, dunia menyaksikan ketegangan yang terus membara. Negara-negara besar dengan kekuatan yang nyaris tak tertandingi berdiri dengan keyakinan mereka sendiri, sering kali melangkahi batas-batas yang mereka buat sendiri. Amerika Serikat dan Israel sering kali mengangkangi Resolusi PBB. Suara mayoritas negara yang seharusnya menjadi penyangga keadilan kerap menjadi sekadar dokumen dibaca ketika perlu, diabaikan ketika menghalangi.
Lalu, di sisi lain Iran yang selama ini dipandang sebelah mata. Negara yang tidak memiliki kekuatan sebesar lawannya, tidak memiliki jaringan pengaruh yang luas, namun menyimpan sesuatu yang tidak bisa diukur oleh satelit atau algoritma, yaitu keberanian. Keberanian untuk menolak tunduk. Keberanian untuk berkata tidak, bahkan ketika seluruh dunia tampak tidak berpihak.
Konfrontasi itu bukan sekadar benturan senjata, tetapi benturan kepentingan. Apa arti kekuatan, jika tidak diiringi keadilan? Apa arti teknologi, jika hanya mempercepat kehancuran? Iran mencoba melawan hegemoni dengan keberanian. Sekalupun harus berperang dalam waktu yang panjang.
Di layar-layar digital, perang tampak seperti simulasi. Titik-titik bergerak, garis-garis ditarik, ledakan direpresentasikan dalam grafik dan angka. Namun di tanah yang nyata, di koordinat yang sangat presisi itu, ada manusia. Ada napas yang terhenti, ada rumah yang runtuh, ada harapan yang terkubur.
Dunia yang telah dipetakan ini bukan hanya memberi kita kendali, tetapi juga memperlihatkan betapa rapuhnya kita. Mampu menemukan lokasi mana pun dalam hitungan detik, tetapi tidak bisa dengan mudah menemukan jalan keluar dari konflik yang diciptakan sendiri.
Mungkin, pada akhirnya, bukan bumi yang perlu kita petakan ulang, melainkan cara kita memandangnya. Bukan teknologi yang harus disalahkan, melainkan kehendak yang mengarahkannya. Karena di balik setiap koordinat, selalu ada cerita. Dan tidak semua cerita bisa diselesaikan dengan presisi rudal atau kecanggihan mesin.
Di suatu titik yang sudah ditandai di peta digital, seseorang menengadah ke langit. Langit yang sama digunakan untuk mengawasi, untuk mengintai, untuk menyerang. Mungkin seseorang tidak tahu koordinat tempatnya berdiri. Namun tahu satu hal, bahwa di balik semua angka dan teknologi, hidup damai tetaplah sesuatu yang tak bisa direduksi. Dan di situlah, harapan masih bersembunyi.
Komentar
Sistem koordinat itu seperti papan catur di mana kolom berjumlah delapan, dan baris juga berjumlah delapan.\r\nBaris (Ranks, Ruas) Diberi angka dari 1 hingga 8, dihitung dari sisi pemain putih (paling bawah) ke atas.\r\nSedangkan Kolom (Files) diberi huruf dari a hingga h, dihitung dari sisi kiri pemain putih ke kanan.\r\nMemang tampak sederhana bahwa sistem koordinat ada 8x8 = 64 titik. Namun, dalam permainan bidak putih (16 persona) dan bidak hitam (16 persona) akan menghasilkan formasi serangan berdasarkan teori kemungkinan hingga miliaran permainan. Seumur-umur kita hanya bisa menyelesaikan puluhan atau hanya ratusan kali formasi. Itupun kalau dicatat hanya setebal kamus atau ensiklopedia.\r\n\r\nNaif memang jika membandingkan sistem koordinat geografis dan papan catur. Namun, setidak-tidaknya diikat oleh istilah yang sama yang melibatkan garis absis (x) dan dan ordinat (y).\r\nSecara metaforis pertikaian di jagad geopolitik dideskripsikan sebagai percaturan dunia. Kompleks dan absurd. Kita adalah pion atau pawn yang bertindak sebagai saksi. Tidak lebih. Suara kita teramat sangat lemah: tak terdengar oleh para pemimpin dunia. Apalagi mereka berkategori NPD, demensia, madmax, superkoplak, oon (omon-omon belaka), hipokrit, ambivalen, diskriminasi, dan banyak lagi yang lainnya.
Ego memang tak mengenal batas.
Akhir akhir ini memang semua mata dunia tertuju pada Iran,yg sendirian melawan zionis,Iran punya pemimpin yang luar biasa, tapi karena titik koordinat \r\nsang pemimpin menjadi Sahid ,yang membuat duka mendalam bagi seluruh rakyat Iran dan umat muslim di dunia, semoga Iran diberi kemenangan dan kekuatan, Aamiin