Kabar itu datang seperti desir angin yang tak diundang, namun meninggalkan getar panjang di dada. Saya membacanya dalam tulisan Catatan Dahlan Iskan, sebuah kabar singkat yang terasa lebih berat daripada kalimat-kalimat panjang mana pun : Agus Mustofa telah berpulang pada 29 Maret 2026. Seketika saya tertegun. Bukan semata karena kehilangan seorang tokoh yang saya kagumi, tetapi karena satu hal yang terasa ganjil sekaligus agung, beliau seakan telah mengetahui hari itu akan datang.
Dikisahkan, dengan suara yang nyaris terputus oleh kelemahan, beliau sendiri meminta putrinya menuliskan sebuah kalimat sederhana di layar telepon genggam : Telah meninggal dunia Agus Mustofa pada tanggal 29 Maret 2026. Sebuah pernyataan yang seperti melampaui batas logika. Namun sang putri, barangkali diliputi haru yang tak tertanggungkan, tak sanggup menuliskannya secara utuh. Tanggal itu pun tidak jadi dituliskan. Ada yang menahan, mungkin harapan yang masih ingin menggantung walau hanya sedetik lebih lama. Sebab bagi siapa pun yang hidup, kematian adalah kepastian namun selalu terasa terlalu dini jika ia datang hari ini.
Bagi saya, nama Agus Mustofa bukan sekadar nama. Ia adalah jendela tempat saya mengintip cakrawala pemikiran yang memadukan langit tasawuf dengan bumi ilmu pengetahuan. Sejak beliau menjadi wartawan di Jawa Pos, tulisan-tulisannya seperti magnet yang tak pernah gagal menarik perhatian. Serialnya tentang Mesir adalah salah satu yang paling membekas, bukan hanya karena kisahnya, tetapi karena cara ia merangkai makna di balik setiap peristiwa spiritual.
Latar belakangnya di bidang Teknik Nuklir dari Universitas Gadjah Mada terasa bukan sekadar gelar akademik. Ia menjelma menjadi fondasi kokoh yang menopang gagasan-gagasan spiritualnya. Dalam tulisannya, Tuhan tidak hanya didekati dengan rasa, tetapi juga dengan nalar. Ia mengajak pembacanya berpikir, merenung, sekaligus merasakan.
Saya ingat betul bagaimana saya membaca karya-karyanya dengan kesungguhan yang hampir berlebihan. Lapar saya tunda, haus saya abaikan, bahkan kebutuhan paling sederhana seperti buang air kecil pun saya tangguhkan. Ada semacam ketakutan bahwa jika saya berhenti sejenak, maka ada makna yang terlewatkan. Setiap huruf seperti berdenyut, setiap kalimat seperti bernapas. Dari sekitar enam puluh buku yang telah ieliaub tulis, baru tujuh buku yang sempat saya miliki, yaitu : Terpesona di Sidratul Muntaha, Akhirat Tidak Kekal, Bersatu dengan Allah, Mengubah Takdir, Beragama Dengan Akal Sehat, Segalanya Satu dan Energi Dzikir.
Tujuh buku itu pun sudah cukup untuk mengguncang cara pandang saya tentang hidup.
Namun, kepergian beliau membuka kembali ingatan saya pada satu tema yang selalu terasa misterius yaitu tanda-tanda menjelang kematian. Agus Mustofa adalah orang keempat yang saya ketahui memiliki semacam kesadaran akan saat akhirnya. Sebelumnya, saya pernah mendengar kisah Syekh Siti Jenar, seorang tokoh yang konon tidak hanya mengetahui, tetapi bahkan dapat memilih sendiri waktu kematiannya atas izin Tuhan. Kisah itu terdengar seperti legenda, namun selalu meninggalkan ruang tanya dalam benak saya. Kemudian pengalaman itu menjadi lebih dekat, lebih nyata.
Istri seorang teman saya, menjelang meninggal, pernah bertanya dengan nada heran kepada sang suami : Siapa sosok berpakaian putih yang datang menjenguknya bersama teman-teman lain. Semua wajah yang hadir ia kenali, kecuali satu, seseorang yang berdiri di ujung, diam dan asing. Suaminya kebingungan, sebab tidak ada satu pun tamu dengan ciri demikian. Tak lama setelah pertanyaan itu, ia pun menghembuskan napas terakhir.
Saya kira kisah seperti itu hanya terjadi pada orang lain. Hingga akhirnya saya mengalaminya sendiri. Ketika istri saya jatuh sakit, suatu hari setelah para penjenguk pulang, ia mengajukan pertanyaan yang sama. Siapa orang berpakaian putih yang tadi datang? Saya terdiam. Saya balik bertanya, laki-laki atau perempuan? Ia menjawab lirih, tidak jelas. Saat itu, ada sesuatu dalam diri saya yang runtuh. Namun saya memilih untuk tetap tegak di hadapannya. Ketegaran yang saya tunjukkan tak lebih dari sebuah sandiwara, sebuah usaha rapuh untuk menunda kenyataan. Ketegaran hanya sandiwara. Tinggal menunggu waktu, sayapun menata hati mempersiapkan dalam menerima kehendak Tuhan yang pahit ini. Siapa yang tidak gentar ketika tanda itu datang? Bagai alarm sunyi yang hanya terdengar oleh hati. Siapa yang tidak sedih ketika alaram itu diperdengarkan. Tidak ada pilihan selain bersiap. Tidak ada ruang untuk menolak. Siap atau tidak harus tetap siap menerima takdir yang tidak bisa ditunda. Yang tersisa hanyalah waktu yang terus bergerak mendekat, perlahan namun pasti. Dan benar saja, tiga hari kemudian, hari itu datang. Jumat, 18 September 2020, sebuah tanggal yang kini terukir bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam jiwa.
Dari semua pengalaman itu, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana namun dalam, bahwa menjelang kematian, sebagian manusia seolah diberi celah untuk mengintip sedikit rahasia yang tersembunyi. Sebuah tabir gaib yang disingkap sesaat, sebelum akhirnya tertutup kembali selamanya.
Kini, ketika Agus Mustofa telah tiada, pertanyaan itu kembali mengendap dalam benak saya. Andai beliau masih ada, saya ingin bertanya, bagaimana semua ini dapat dijelaskan secara ilmiah? Bagaimana fenomena yang begitu halus dan spiritual ini dapat diterangi dengan cahaya nalar, seperti yang selalu beliau lakukan dalam setiap tulisannya?
Namun mungkin, justru di situlah letak jawabannya. Tidak semua hal diciptakan untuk dipahami sepenuhnya. Sebagian hanya untuk direnungkan, dengan hati yang berserah, dan pikiran yang tetap mencari.
Komentar
Terimakasih sobat,