Di sebuah sunyi yang tak pernah benar-benar sepi, manusia belajar cara baru memperlakukan Tuhan. Bukan sebagai asal segala cahaya, bukan sebagai napas yang menyusup lembut di sela kesadaran, melainkan sebagai sesuatu yang bisa dipanggil sewaktu-waktu, seperti pejabat yang diminta menandatangani berkas kepentingan.
Mereka datang dengan tangan terkatup, bibir bergetar oleh doa. Tetapi di balik kata-kata yang terdengar lembut itu, tersimpan desakan yang keras. Permohonan yang menjelma tuntutan. Seolah Tuhan adalah pintu yang harus terbuka jika diketuk cukup lama. Seolah surga adalah gudang yang dapat diakses oleh siapa saja yang cukup rajin menyebut nama-Nya.
Maka manusia pun merasa menemukan cara mengatur Tuhan.
Mereka menata kalimat-kalimat doa seperti menyusun proposal. Ada pengantar, ada harapan, ada janji. Jika keinginan tercapai, mereka akan memperbanyak pujian. Jika tidak, mereka mengulangnya lagi dengan suara lebih lirih, atau lebih keras, atau lebih khusyuk, seakan Tuhan dapat diyakinkan oleh teknik yang tepat. Padahal sering kali yang terjadi bukanlah berserah, melainkan memaksa dengan cara yang halus.
Tuhan, kabulkanlah.
Tuhan, berilah.
Tuhan, izinkanlah.
Dan jika bisa, sekarang juga.
Sementara itu, di sela-sela kehidupan yang lain, Tuhan jarang sekali diajak berjalan. Tuhan tidak hadir dalam langkah yang tergesa, tidak ikut dalam keputusan yang lahir dari amarah, tidak disertakan dalam kejujuran yang seharusnya sederhana. Tuhan tidak menjadi teman setiap degub napas, tidak menjadi saksi setiap niat yang tumbuh dalam hati.
Manusia lebih suka menaruh-Nya di tempat yang aman. Di bangunan-bangunan yang disebut suci. Di ruang-ruang yang dipenuhi cahaya lampu dan aroma doa.
Di sana Tuhan diperlakukan seperti penghuni yang terhormat sekaligus terpenjara. Manusia datang sesekali menjenguk-Nya, terutama ketika hidup terasa buntu, ketika usaha tidak berjalan, ketika keinginan membutuhkan restu langit. Mereka mengetuk pintu kesunyian itu dengan harapan yang panjang. Namun setelah keinginan terpenuhi, langkah mereka kembali menjauh. Padahal Tuhan tidak pernah benar-benar jauh.
Tuhan tidak tinggal di sudut-sudut bangunan yang megah. Tuhan tidak menunggu dalam kotak-kotak kesucian yang dibuat manusia. Tuhan lebih dekat dari apa pun yang bisa dibayangkan. Lebih dekat dari urat leher yang memompa kehidupan. Lebih dekat dari pikiran yang baru saja lahir di kepala. Tetapi kedekatan itu sering kali diabaikan. Yang dicari bukanlah Tuhan sebagai kebenaran, melainkan Tuhan sebagai pemberi izin.
Ironisnya, manusia bahkan berani membawa kemarahan mereka ke hadapan-Nya. Kebencian yang dibungkus doa. Keangkara-murkaan yang diselimuti ayat. Mereka memohon restu bagi sesuatu yang sejatinya bertentangan dengan kasih dan keadilan.
“Tuhan, berpihaklah pada kami.”
“Berkatilah langkah kami.”
Walau langkah itu menyingkirkan yang lain. Walau kemenangan itu dibangun di atas luka orang lain. Dan agar permintaan itu terdengar sah, manusia menyiapkan imbalannya. Pujian, kalimah thoyyibah. Tuhan dielu-elukan. Kalimat-kalimat agung dilantunkan. Kata-kata kemuliaan diperdengarkan berkali-kali, seakan-akan pujian dapat menjadi mata uang untuk membeli persetujuan ilahi. Seolah Tuhan dapat ditukar dengan sanjungan. Padahal Tuhan tidak pernah membutuhkan pujian untuk menjadi Tuhan.
Yang membutuhkan pujian itu justru manusia, agar merasa bahwa keinginan mereka suci.
Begitulah manusia sering kali memperlakukan Yang Maha Dekat justru dijauhkan ketika tak diperlukan, dipanggil ketika diinginkan, dipuji agar mau menyetujui. Sementara Tuhan tetap berada di tempat yang sama, terlalu dekat untuk dilihat oleh hati yang sibuk mengatur-Nya.
Komentar
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raani\'uun
Kita perlu mengenal adab kepada Tuhan dan juga adab kepada sesama.
Sangat menginspirasi, terima kasih