Di meja kecil dekat jendela, ketika senja mulai memudar dan warna langit berubah dari jingga menjadi biru yang lebih dalam, saya sering memikirkan dua hal yang sampai hari ini terasa seperti simpul yang belum juga terurai dalam kepala saya. Bukan perkara yang besar bagi sebagian orang, mungkin juga bukan persoalan mendesak bagi kehidupan sehari-hari. Tetapi bagi saya, ini seperti pertanyaan yang terus berputar pelan, seperti kipas tua di langit-langit rumah yang berderit namun tak pernah benar-benar berhenti.
Dua hal itu berkaitan dengan satu perkara. Rukyatul hilal.
Saya sering bertanya-tanya, mengapa rukyat dilakukan hanya untuk menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal saja. Mengapa tidak untuk seluruh bulan? Jika memang rukyat adalah cara yang dianggap paling sahih untuk menentukan datangnya bulan baru dalam kalender hijriah, bukankah seharusnya ini dilakukan setiap pergantian bulan? Bukankah konsistensi adalah bentuk kejujuran paling sederhana dari sebuah metode?
Namun kenyataannya tidak demikian.
Di kalender yang tergantung di dinding rumah, dua belas bulan hijriah telah tertulis rapi sejak awal tahun. Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, dan seterusnya. Semua sudah tercetak. Sudah dihitung. Sudah dipastikan jauh sebelum bulan-bulan itu benar-benar datang. Perhitungan itu lahir dari ilmu yang disebut hisab. Sebuah ilmu yang bekerja dengan angka, lintasan benda langit, gravitasi, dan ketelitian matematika yang hampir tanpa cela.
Ilmu itu bahkan mampu memberi tahu manusia kapan gerhana akan terjadi. Jauh sebelum
bayangan bumi menyentuh wajah bulan, manusia sudah tahu waktunya. Jamnya. Menitnya. Bahkan detiknya. Mereka tahu berapa lama gerhana akan berlangsung, dan di belahan bumi mana gerhana dapat disaksikan. Semua itu dapat diprediksi bertahun-tahun sebelumnya. Sungguh menakjubkan, hampir tidak pernah meleset.
Langit seolah tunduk pada rumus-rumus yang disusun manusia.
Karena itu saya kembali bertanya dalam hati. Jika hisab sedemikian akurat, mengapa kehadirannya seperti tidak sepenuhnya dipercaya ketika menentukan awal Ramadhan dan Syawal?
Mengapa pada dua bulan itu manusia kembali menengadah ke langit, membawa teleskop, kamera, peralatan optik, bahkan membentuk tim khusus yang naik ke puncak bukit atau berdiri di tepi pantai hanya untuk mencari seiris bulan yang sangat tipis, hampir tak terlihat. Sebuah lengkung cahaya yang kadang hadir kadang tidak.
Saya membayangkan orang-orang itu berdiri berjam-jam di bawah langit yang sama. Angin laut meniup pakaian mereka. Mata mereka menatap cakrawala yang perlahan gelap. Di tangan mereka ada alat-alat canggih, dan di kepala mereka ada harapan, semoga hilal terlihat.
Sementara di tempat lain, di ruang-ruang observatorium yang tenang, angka-angka sebenarnya sudah lama memberi tahu jawabannya.
Di sanalah dua dunia seakan berdiri berdampingan. Dunia perhitungan dan dunia pengamatan.
Yang satu percaya pada kepastian rumus. Yang lain percaya pada kesaksian mata. Dan saya berdiri di antara keduanya, membawa pertanyaan yang terasa sederhana namun tak kunjung selesai. Untuk apa rukyat dilakukan jika hisab sudah terbukti begitu akurat? Bukankah rukyat membutuhkan waktu, tenaga, biaya, perjalanan, dan persiapan yang tidak sedikit? Bukankah semua itu seperti upaya panjang untuk menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui sebelumnya?
Kadang saya merasa seperti seseorang yang melihat dua pintu menuju ruangan yang sama. Pintu pertama terbuka lebar, terang, dan jalannya lurus. Pintu kedua lebih jauh, lebih berliku, dan harus ditempuh dengan perjalanan yang panjang. Tetapi entah mengapa, orang-orang tetap memilih berjalan menuju pintu kedua, seolah di sanalah makna yang sebenarnya berada.
Mungkin memang ada sesuatu yang tidak saya pahami. Mungkin bagi sebagian orang, melihat hilal bukan sekadar memastikan tanggal. Ia mungkin tentang merawat tradisi, tentang mengikuti
jejak masa lalu, tentang menyambung pengalaman manusia dengan langit yang sama yang pernah dipandang oleh generasi-generasi sebelumnya.
Namun bagi saya, dua pertanyaan itu tetap tinggal. Mengapa rukyat hanya untuk dua bulan, bukan untuk semuanya?nDan jika hisab telah terbukti benar berkali-kali, mengapa masih terasa setengah dipercaya?
Dua hal itu masih berdiri di dalam pikiran saya seperti dua batu di tengah sungai. Tidak menghalangi aliran air sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuat arus berpikir berputar-putar di sekitarnya.
Dua hal sederhana.
Namun sampai hari ini, tetap menjadi dua hal yang paling susah saya pahami.
Komentar
Rukyat hanya dua kali.\r\nKarena cara pandang hanya 2 bulan dari 12 bulan dlm 1 tahun yg d anggap penting.\r\nCara Rukyat telah di contohkan Nabi.\r\n\r\nHisab. Cara pandang dgn ilmu/petunjuk mengenai kebesaran Allah. \r\nKarena Peredaran Galaksi dan semua yg terjadi dlm Kuasa Allah.\r\nNB.\r\nTdk ada yg salah.\r\nTergantung petunjuk dan Hidayah yg Allah berikan.\r\nššš\r\n