Di tanah subur tepian Bengawan Solo, di wilayah yang kini dikenal sebagai Ngawi, hiduplah seorang ulama sekaligus pejuang bernama Kiai Haji Muhammad Nursalim. Namanya berbisik dari mulut ke mulut, dari surau ke persawahan, sebagai sosok yang teguh iman dan tak gentar menghadapi penjajahan. Ia dikenal sebagai pengikut setia Pangeran Diponegoro dalam perlawanan melawan Belanda pada masa Perang Jawa.
Konon, Kiai Nursalim bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kesaktian yang membuatnya disegani kawan maupun lawan. Masyarakat percaya ia kebal terhadap senjata tajam dan peluru. Setiap kali pasukan Belanda mencoba menangkapnya, selalu saja mereka dibuat gentar. Peluru yang ditembakkan tak mampu menembus tubuhnya, dan sabetan pedang seakan kehilangan daya saat mendekati dirinya. Namun, di balik kesaktiannya, ia tetap seorang hamba yang rendah hati, selalu mengingatkan para pengikutnya bahwa kekuatan sejati berasal dari Allah.
Perlawanan di Ngawi semakin berkobar ketika kabar tentang perjuangan Diponegoro menyebar ke pelosok desa. Kiai Nursalim memimpin rakyat dengan keberanian dan doa. Ia menyusup dari satu kampung ke kampung lain, membakar semangat perlawanan. Baginya, melawan penjajah bukan sekadar perang fisik, melainkan jihad mempertahankan martabat dan tanah air.
Belanda yang kewalahan akhirnya membangun benteng pertahanan kokoh di Ngawi, dikenal sebagai Benteng Van Den Bosch, atau oleh warga setempat disebut Benteng Pendem. Dari balik dinding tebal dan parit yang dalam, mereka merancang siasat untuk menghentikan
perlawanan rakyat. Kiai Nursalim menjadi target utama, karena selama ia masih bebas, semangat perlawanan tak akan pernah padam.
Suatu malam, melalui tipu daya dan pengkhianatan, Belanda berhasil menangkapnya. Rakyat Ngawi menangis ketika kabar itu tersebar. Namun, bahkan dalam keadaan terbelenggu, sorot mata Kiai Nursalim tetap tenang. Konon, Belanda telah berulang kali mencoba mengeksekusinya, tetapi tak satu pun cara berhasil melukai tubuhnya.
Akhirnya, dengan kejam, mereka memilih cara yang tak lazim dan penuh kepengecutan: menguburnya hidup-hidup di dalam area benteng. Tanpa senjata, tanpa darah yang tertumpah, mereka berharap kesaktiannya akan terkubur bersama tanah. Di sebuah sudut benteng yang sunyi, liang digali. Kiai Nursalim, dengan zikir yang tak putus dari bibirnya, menerima takdir itu dengan tawakal.
Tanah menimbun tubuhnya perlahan. Para serdadu Belanda mungkin mengira mereka telah menang. Namun, mereka tak pernah benar-benar memahami bahwa seorang pejuang tak selalu kalah ketika raganya tiada. Justru dari pengorbanan itulah, legenda lahir.
Hingga kini, makam Kiai Haji Muhammad Nursalim dipercaya berada di dalam kompleks Benteng Van Den Bosch. Para peziarah datang dengan langkah pelan dan hati penuh hormat. Dinding-dinding tua benteng menjadi saksi bisu bahwa di tempat itu pernah berdiri seorang ulama pemberani yang tak tunduk pada penjajahan.
Angin yang berembus di lorong-lorong benteng seakan membawa bisikan masa lalu tentang doa, tentang keberanian, dan tentang keyakinan yang tak bisa dikubur hidup-hidup. Nama Kiai Haji Muhammad Nursalim tetap hidup dalam ingatan masyarakat Ngawi, sebagai simbol bahwa iman dan cinta tanah air adalah kekuatan yang tak pernah bisa dipadamkan oleh penjajah.
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻
1. Siapa nama pahlawan sakti dari Ngawi menurut cerita di atas? Apa kesaktiannya?
2. Belanda licik dan kejam. Apa yang dilakukan belanda untuk mengalahkan pahlawan sakti ini? Di manakah letak makam beliau?
3. Apa yang bisa kamu lakukan dalam meneladani para pahlawan?
4. Buatlah cerita satu paragraf tentang benteng pendem yang pernah kamu kunjungi.
Komentar
Belum ada komentar.