Membaca kembali buku-buku karya sendiri selalu menghadirkan rasa haru yang tak terduga. Seperti membuka kembali pintu sebuah rumah lama yang pernah kita tinggali dengan penuh cinta dan kegelisahan. Setiap halaman menyimpan jejak langkah yang dahulu begitu akrab. Ada aroma malam-malam panjang yang ditemani secangkir kopi, ada desir hujan yang mengetuk jendela ketika kalimat-kalimat pertama lahir dengan ragu. Di sela paragraf-paragraf itu, aku menemukan kembali diriku yang lain, yang lebih muda, lebih berani, atau mungkin lebih nekat dalam mempercayai ilham.
Setiap buku adalah kapsul waktu. Ia tidak sekadar menyimpan gagasan, melainkan juga menyimpan detak jantung penulisnya. Saat membacanya ulang, ingatan tentang proses kreatif itu bermunculan seperti kunang-kunang di halaman gelap. Bagaimana satu ide kecil tumbuh menjadi bab yang utuh, bagaimana kebuntuan terasa seperti tembok tinggi, lalu tiba-tiba runtuh oleh satu kalimat yang datang tanpa diundang. Dari sana, tumbuh lagi inspirasi baru. Sebuah dorongan halus namun pasti untuk menulis lebih jujur, lebih bening, lebih dalam. Seakan buku-buku itu berbisik, βπ·πππππ‘ππ£ππ£ππͺ πππ‘ππ’ π¨ππ‘ππ¨ππ.β
Sesekali aku tertegun sendiri. Benarkah aku yang menyusun kalimat ini? Benarkah tangan ini yang pernah merangkai metafora itu dengan begitu lembut? Ada rasa tak percaya, seperti sedang membaca karya seseorang yang kukagumi. Keindahan itu terasa asing sekaligus akrab. Di situlah muncul kesadaran yang menggetarkan. Kesempatan menulis seperti itu tidak selalu datang dua kali. Ada momen ketika kata-kata mengalir deras, ketika gagasan berbaris rapi menunggu untuk diabadikan. Jika saat itu kita menunda, bisa jadi ia menguap seperti embun yang tersapu matahari pagi.
Maka benarlah, bila ide datang, jangan biarkan ia berlalu begitu saja. Jangan menunggu suasana sempurna, jangan menunggu waktu luang yang belum tentu tiba. Cepat ambil laptop, buka halaman kosong, dan abadikan segera. Karena inspirasi adalah tamu yang tak selalu mengetuk pintu dua kali. Ia bisa datang dalam perjalanan, dalam percakapan singkat, kelakar atau bahkan di tengah keheningan malam. Dan tugas kitalah menyambutnya dengan kesiapan, dengan keberanian untuk menulis meski belum tentu sempurna.
Lebih dari sekadar kenangan dan pencapaian batin, membaca dan menulis sesungguhnya adalah laku merawat diri. Di balik aktivitas yang tampak sunyi itu, pikiran bekerja, ingatan diasah, imajinasi dilatih untuk terus lentur. Dengan membaca, kita menjelajah banyak kehidupan
tanpa harus berpindah tempat. Dengan menulis, kita menyusun kembali dunia agar lebih bermakna. Otak yang terus diajak berdialog dengan huruf dan makna akan tetap terjaga ketajamannya. Risiko kepikunan dini menjauh perlahan, sebab pikiran tak pernah dibiarkan menganggur.
Maka ketika aku menutup kembali buku-buku itu, rasa haru berubah menjadi rasa syukur. Ternyata perjalanan menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya, melainkan juga tentang menjaga nyala di dalam kepala dan di dalam dada. Setiap kalimat yang pernah kutulis adalah bukti bahwa aku pernah sungguh-sungguh hidup, sungguh-sungguh berpikir, sungguh-sungguh merasakan. Dan selama masih ada kata yang ingin lahir, selama itu pula ingatan akan tetap terawat, dan jiwa akan terus menemukan cahaya.
Komentar
Luar biasaΨkami tunggu tulisan berikutnya Pak Agus
Generasi angkatan 60 an memang hebat...berani menebarkan inspirasi dan kisah hidup nyata dalam perjalanan waktu ..sukses selalu dan bahagia selalu dengan karya yang penuh puitis.