Guru Terjebak Pada Komoditas

Penulis: Nurwahyudi Agustiawan | 18 Feb 2026 | Pengunjung: 35
Cover
Di beranda gawai yang tak pernah benar-benar sunyi, berseliweran iklan penawaran administrasi guru. Modul ajar, perangkat pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, hingga asesmen. Semuanya dikemas rapi dan diberi pita manis bernama Kurikulum Merdeka berbasis cinta. Kata cinta digantung tinggi-tinggi seperti lampion di musim perayaan, seolah-olah setiap klik adalah pelukan, setiap transfer adalah ketulusan. Di antara notifikasi dan grup percakapan, tawaran itu datang seperti selebaran yang diselipkan di sela pintu hati para pendidik. Praktis, siap pakai, tidak mahal.

Memang tidak mahal hanya Rp 50.000. Harganya barangkali setara dua cangkir kopi di sudut kota. Namun justru di situlah ganjilnya berdiam. Murah, tetapi menyisakan rasa yang tak bisa ditakar angka. Ketika administrasi yang sejatinya adalah jejak perenungan, buah dialog antara guru dan muridnya diperdagangkan begitu saja kepada sesama guru, ada sesuatu yang pelan-pelan luruh. Seolah-olah kerja batin yang seharusnya tumbuh dari empati dan pengabdian digantikan oleh etalase dan daftar harga. Tidak pada tempatnya jika menjual produk kepada sesama guru yang sedang berjuang di ruang-ruang kelas dengan kipas berderit dan papan tulis berdebu.

Guru adalah profesi yang dibangun dari semangat saling menolong. Dari kebiasaan berbagi tanpa pamrih. Berbagi strategi menghadapi murid yang murung, berbagi cara menjelaskan pecahan agar tak lagi terasa retak, berbagi cerita kegagalan yang justru menguatkan. Ketika yang dibagi berubah menjadi yang dijual, meski murah. Maka watak menolong itu seperti terselip di antara lembar invoice. Murah itu justru membuat kita serasa kehilangan marwah, karena yang dipertukarkan bukan sekadar dokumen, melainkan nurani profesi.

Cinta dalam pendidikan tak pernah lahir dari tombol beli sekarang. Ia tumbuh dari waktu yang diluangkan, dari malam yang rela dipotong untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan wajah-wajah murid kita sendiri. Administrasi bukan sekadar formalitas, melainkan proses memahami. Siapa yang tertinggal, siapa yang melaju terlalu cepat, siapa yang butuh dirangkul dengan cara berbeda. Jika semua itu bisa diunduh dalam hitungan detik, apa lagi yang tersisa dari pergulatan seorang guru dengan kelasnya?

Namun bukan berarti inovasi harus ditolak. Jika memang hendak berjualan, pilihlah komoditas yang layak jual, yang benar-benar memberi nilai tambah. Bukan sekadar menggandakan kerja yang semestinya menjadi ruang refleksi. Misalnya modul ajar berbasis Teknologi Informasi, modul interaktif tanpa kertas yang membantu menyederhanakan kerumitan materi pembelajaran. Bayangkan sebuah materi yang dapat disentuh melalui layar, diiringi video yang menjelaskan konsep abstrak dengan cahaya dan gerak, animasi yang menghidupkan rumus-rumus kaku, serta asesmen interaktif yang memberi umpan balik seketika. Guru tetap menjadi nahkoda, tetapi kapalnya dilengkapi layar digital yang memudahkan pelayaran.

Begitu kan keren. Bukan sekadar dokumen yang dipindahkan tangan ke tangan, melainkan karya kreatif yang lahir dari kompetensi teknologi dan imajinasi pedagogis. Produk seperti itu tidak menggantikan perenungan guru, melainkan memperkaya cara ia menyampaikan makna. Ia tidak mencuri ruang empati, justru memperluas jangkauannya.

Pada akhirnya, yang perlu dijaga adalah martabat. Bahwa di tengah arus iklan dan transaksi, guru tetaplah guru, penjaga cahaya kecil di mata murid-muridnya. Jika cinta benar-benar menjadi dasar kurikulum, maka ia pertama-tama harus tampak dalam cara kita memperlakukan sesama. Lebih banyak berbagi daripada menjual, lebih banyak menguatkan daripada mengambil untung. Sebab pendidikan bukan pasar malam, dan kelas bukan lapak yang bisa dibongkar pasang sesuka hati.

Komentar

Belum ada komentar.

← Kembali ke Daftar Artikel