Setiap bulan puasa tiba, pasar-pasar seperti mendadak berdenyut lebih keras. Pagi belum sepenuhnya merekah, tetapi los-los telah riuh oleh bisik tawar-menawar yang terdengar seperti doa yang tergesa. Telur bertumpuk bagai butir-butir waktu yang menanti dipecahkan, daging bergelantungan seperti janji pesta, cabai merah menyala laksana bara kecil yang siap menyulut selera, dan bawang menebarkan aroma yang tajam mengiris mata sekaligus nurani. Grafik kebutuhan merangkak naik, harga-harga ikut terangkat seperti balon yang dilepas dari genggaman nalar. Kita menyaksikan irama yang berulang setiap tahun: permintaan meningkat, lalu angka-angka pada papan harga pun melonjak.
Namun di balik gejala yang seolah alamiah itu, terbit pertanyaan yang tak kalah panas dari cabai di wajan: ini sebuah realita murni, ataukah rekayasa psikologis pasar? Adakah tangan-tangan besar yang mengatur arus, meniupkan kabar kelangkaan, menggiring ketakutan, sehingga orang-orang berbondong membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan? Seakan-akan bulan suci adalah isyarat untuk menimbun, bukan menahan. Seakan-akan lapar di siang hari harus dibalas dendam dengan kelimpahan yang berlebihan di malam hari. Pada titik inilah kita perlu jujur menatap cermin: benarkah umat yang terlatih tirakat dan prihatin tiba-tiba berubah menjadi pemburu rak-rak sembako?
Sulit diterima akal jika umat Islam yang saban tahun ditempa oleh puasa mendadak kehilangan kendali diri ketika azan Magrib berkumandang. Bukankah puasa justru sekolah pengendalian hasrat? Bukankah ia mendidik lidah untuk bersabar dan perut untuk setia pada sunyi? Tradisi sahur dan berbuka tidak pernah dimaksudkan sebagai panggung pelampiasan. Ia adalah jeda yang hening, bukan pesta yang bising. Maka terasa ganjil bila lonjakan konsumsi dilekatkan begitu saja pada perilaku kolektif umat, seolah-olah spiritualitas runtuh di hadapan etalase.
Umat Islam sudah terlalu paham esensi puasa dari sisi spiritual hingga kesehatan. Di dalamnya ada disiplin, ada empati, ada kesadaran bahwa lapar adalah jembatan menuju pengertian yang lebih dalam tentang diri dan sesama. Setiap pekan, latihan itu diulang lewat puasa Senin dan Kamis; setiap bulan, ia disegarkan kembali pada pertengahan bulan. Ritme ini bukan sekadar
ritual, melainkan pembiasaan. Tubuh dan jiwa tidak gagap menghadapi jeda makan. Mereka telah akrab dengan jeda, bersahabat dengan kekosongan.
Pengalaman pribadi penulis menjadi kesaksian kecil di antara jutaan yang lain. Puasa tidak meningkatkan belanja bahan pokok di rumah. Memberi asupan tubuh dua kali sehari saat sahur dan berbuka tidak memicu gejolak yang liar. Justru sebaliknya, ada rasa ringan yang menyelinap di sela-sela aktivitas. Badan terasa lebih segar, lebih enteng, lebih bersemangat. Di balik layar biologis, tubuh bekerja dengan kebijaksanaannya sendiri. Glukagon aktif, membantu menjaga keseimbangan energi saat asupan jeda. Tubuh tidak panik, mampu beradaptasi. Tahu cara bertahan tanpa harus berlebihan.
Lebih dari itu, umat Islam juga memahami setidaknya pada tataran pengetahuan populer konsep autofagi. Yaitu proses daur ulang seluler yang berlangsung ketika tubuh berada dalam kondisi lapar terkontrol. Dalam sunyi perut yang kosong, sel-sel membersihkan diri, memperbaiki yang rusak, meremajakan yang letih. Betapa indahnya metafora ini, bahwa dalam kekurangan, tubuh justru menemukan mekanisme pembaruan. Lalu mengapa narasi yang beredar justru menggambarkan puasa sebagai pemicu kerakusan massal?
Barangkali yang meningkat bukanlah kebutuhan, melainkan kecemasan. Ketika isu kelangkaan diembuskan, ketika angka-angka harga mulai bergerak naik, rasa takut tertinggal memicu orang membeli sedikit lebih banyak. Sedikit lebih banyak dari biasa, sedikit lebih awal dari perlu. Dalam psikologi pasar, ketakutan adalah komoditas yang paling laris. Ia menular lebih cepat daripada aroma bawang goreng di senja hari. Pedagang besar dengan jaringan distribusi dan kendali stok mungkin saja memainkan ritme ini. Bukan untuk sekadar bertahan, melainkan untuk memaksimalkan laba di atas gelombang musiman.
Jika demikian adanya, maka narasi tentang lonjakan konsumsi sebagai cermin kerakusan umat adalah penghinaan yang halus namun menyakitkan. Ia merendahkan martabat spiritual yang telah ditempa oleh disiplin panjang. Ia menyederhanakan kompleksitas pasar menjadi tuduhan moral yang timpang. Padahal umat yang berpuasa justru sedang belajar mengurangi, bukan menambah; menahan, bukan meluapkan.
Tentu, selalu ada pengecualian. Selalu ada meja-meja yang dipenuhi hidangan berlebih, selalu ada belanja impulsif yang tak terkendali. Namun menjadikannya sebagai gambaran umum adalah ketidakadilan. Mayoritas menjalani puasa dengan kesahajaan: sepiring nasi, sebutir telur, sepotong tempe, sambal secukupnya. Tidak ada dendam pada siang hari yang lapar, yang ada hanyalah syukur ketika matahari tenggelam.
Pada akhirnya, peningkatan konsumsi yang kerap digembar-gemborkan itu lebih menyerupai rekayasa psikologis ketimbang realitas spiritual. Ia tumbuh dari kecemasan yang dipupuk, dari isu yang diulang, dari angka yang digerakkan. Puasa, dalam hakikatnya, adalah seni mengelola cukup. Dan umat yang memahaminya tidak akan mudah terjebak dalam ilusi kelangkaan. Sebab mereka tahu, yang sesungguhnya dilatih sepanjang Ramadhan bukanlah cara mengisi perut, melainkan cara mengosongkan diri dari ketamakan.
Komentar
Belum ada komentar.