Semenjak seorang sahabat mengakhiri tugas pada bulan Januari 2026, saya begitu terhenyak. Ada semacam hentakan halus namun dalam di dada. Sebuah kesadaran bahwa sebentar lagi saya pun akan menyusul. Bukan karena usia semata, melainkan karena waktu memang tidak pernah bernegosiasi. Purna tugas bukan lagi wacana yang jauh, melainkan sesuatu yang berdiri tepat di ambang pintu. Dari sanalah pikiran saya mulai berkelana. Apa yang layak saya tinggalkan sebagai kenang-kenangan bagi sekolah yang telah membuat saya menjadi berarti, paling tidak bagi hidup saya sendiri dan keluarga.
Sekolah itu bukan sekolah unggulan, bukan pula sekolah yang sering dielu-elukan dalam laporan prestasi. Adalah sekolah pinggiran. Namun justru karena itulah saya mencintainya dengan cara yang tidak sederhana. Di sanalah saya pertama kali bertugas, dan di sanalah pula saya berencana menutup pengabdian. Tidak pernah sekali pun terlintas keinginan untuk meninggalkannya. Bahkan seandainya saya mengajukan mutasi, kepala sekolah mana yang bersedia menerima saya? Seorang guru yang terang-terangan menentang kepura-puraan. Seorang yang terlalu sering bertanya “mengapa” ketika yang lain merasa cukup dengan “sudah biasa begitu”.
Sejak awal bertugas, aroma kepura-puraan itu begitu terasa. Kepura-puraan sang kepala sekolah dalam mengelola lembaga pendidikan. Tampak seolah memikirkan kemajuan sekolah, padahal perlahan menggerogoti dari dalam demi keuntungan pribadi. Ironisnya, praktik itu tidak dilakukan sendirian. Itu dilakukan secara berjamaah, melibatkan sekolah-sekolah lain, dan lebih ironis lagi, mendapat restu dari sesembahan mereka yang bersemayam di struktur atas. Ketika sistem telah menghalalkan kepura-puraan, maka ia menjadi sempurna. Terlalu sempurna bahkan, hingga kritik terdengar sebagai gangguan. Untungnya di akhir masa tugas, rasa kecewa bertahun-tahun itu terobati. Dua orang kepala sekolah terakhir memimpin dengan paham visioner.
Dalam suasana seperti itulah saya bertahan. Bukan karena sok suci atau paling benar, melainkan karena tidak pandai berpura-pura. Menjelang masa purna tugas, keinginan meninggalkan sesuatu pun semakin menguat. Bukan monumen, bukan pula prasasti. Pilihan itu akhirnya jatuh pada sebuah buku. Bukan sembarang buku, melainkan buku autobiografi. Rasanya pilihan itu cukup layak. Setiap guru pasti dikenal oleh rekan satu sekolah dalam batas-batas formal. Nama, mata pelajaran, jam mengajar. Namun siapa yang sungguh mengenal perjalanan batin seorang guru, dari masa kecil hingga purna tugas? Autobiografi memberi ruang untuk itu.
Pikiran ini kemudian berkembang lebih jauh. Betapa indahnya jika suatu hari perpustakaan sekolah menyimpan biografi para guru yang pernah mengajar di sana. Bukan untuk memuja, melainkan untuk mengingat. Agar sekolah tidak hanya menjadi bangunan, tetapi juga himpunan jejak manusia. Tentu itu akan menjadi nilai lebih, nilai kemanusiaan yang jarang dihitung dalam akreditasi.
Saya bahkan telah membayangkan judul buku itu : Seorang Guru Revolusioner yang Kesepian. Sebuah judul yang terdengar bombastis. Pada masa Orde Baru, kata revolusi adalah kata berbahaya, karena serta-merta diasosiasikan dengan golongan kiri. Namun revolusioner yang saya maksud bukanlah menggulingkan kekuasaan, melainkan merevolusi diri sendiri. Dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Terutama dalam praktik pendidikan sehari-hari yang sering terjebak dalam rutinitas administratif tanpa ruh.
Salah satu bentuk kecil revolusi itu adalah sikap saya terhadap administrasi pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dicetak di atas kertas tebal dan dijilid rapi tidak pernah saya jalankan. Bukan karena malas, melainkan karena saya merasa itu
menyulitkan. Saat praktik pembelajaran berlangsung, membuka lembar demi lembar RPP terasa tidak masuk akal. Saya kemudian membuat RPP dalam format presentasi. Pada tahun 2006, saya sudah menggunakan LCD proyektor dalam mengajar. Sesuatu yang saat itu masih dianggap aneh di sekolah pinggiran.
RPP saya berisi hal-hal esensial. Video motivasi, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, media dalam bentuk video dan uji kompetensi. Semuanya terpampang jelas, mudah digunakan, dan mudah diperbaiki jika ada yang kurang sesuai. Saya menamainya RPP berbasis IT. Bagi saya, inilah bentuk kejujuran pedagogis. Administrasi yang melayani pembelajaran, bukan sebaliknya.
Namun tidak semua revolusi kecil diterima dengan lapang. Pada pelatihan Sekolah Standar Nasional (SSN) tahun 2008 di Hotel Singgasana Surabaya, RPP saya sempat dilihat oleh fasilitator dari Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. Tanggapannya sungguh di luar dugaan. Beliau tidak merestui. Menurutnya, RPP sebaiknya dicetak dan dijadikan dokumen fisik, agar sewaktu-waktu dapat ditunjukkan kepada pengawas sebagai bukti fisik. Saya tentu kecewa. Bukan karena ditolak, tetapi karena esensi kembali dikalahkan oleh formalitas.
Namun kekecewaan itu tidak berlangsung lama. Saya segera menghibur diri. Mengajar bukan untuk pengawas, bukan untuk fasilitator, melainkan untuk diri saya sendiri dan siswa. Selama kami merasa enjoy dan pembelajaran berjalan bermakna, penilaian orang lain menjadi nomor sekian. Sikap ini mungkin membuat saya terlihat keras kepala. Tapi mungkin juga inilah cara mempertahankan kewarasan nalar di tengah sistem yang gemar bersandiwara.
Kini, di akhir masa tugas, saya merasakan kesepian yang aneh. Kesepian intelektual. Tidak ada lagi teman sebaya yang bisa saya ajak “berantem” dalam pemikiran tanpa rasa sungkan. Mereka yang dulu menjadi sparring partner diskusi telah lebih dulu pensiun. Sementara rekan-rekan guru yang ada sekarang sebagian besar seusia dengan anak-anak saya. Tidak mungkin rasanya mengajak mereka berdebat keras tanpa menciptakan jarak yang tidak perlu.
Padahal saya masih ingin mengasah pikiran agar tetap tajam, meski usia tak lagi muda. Pikiran yang tidak diuji akan tumpul. Argumentasi yang tidak dilawan akan menjadi dogma. Untuk itu dibutuhkan pandangan yang berseberangan, agar kedalaman dan keandalan berpikir terus terjaga. Namun ruang itu semakin sempit.
Mungkin di situlah makna “kesepian” dalam judul buku saya kelak menemukan tempatnya. Seorang guru boleh saja revolusioner dalam caranya sendiri, tetapi jalan itu sering sunyi. Namun justru dalam kesunyian itulah saya menemukan kejujuran. Dan mungkin, lewat buku itulah, kesunyian itu kelak dapat berbicara. Semoga saya mampu mengawali.
Komentar
Tetap berjalan di jalan terang dengan cahaya kejujuran.\r\nTeruslah berkarya walaupun dalam senyap.\r\n